Konten dari Pengguna

Pelatihan Hidroponik di Werianggi: Sayur Tetap Tumbuh Saat Kemarau

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wahyu Firdaus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di Werianggi, Papua Barat, musim kemarau membuat tanah cepat kering dan sayur sulit ditanam. Lewat pelatihan hidroponik rumah tangga, warga belajar menanam sayur dengan air yang lebih hemat, tanpa listrik, dan dengan bahan yang bisa dicari di sekitar rumah.

Pelatihan Teknologi Tepat Guna (TTG) Hidroponik Rumah Tangga itu digelar Sekolah Operator Ekonomi Lokal (SOEL) di SDN Werianggi, Distrik Nikiwar, Kabupaten Teluk Wondama, pada 27 Oktober 2026. Temanya "Dari Pekarangan Rumah Menuju Kemandirian: Hidroponik sebagai Sumber Pangan Sehat dan Penghasilan Keluarga".

SOEL dijalankan Tim 11 Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia yang bertugas di Werianggi–Werabur, bagian dari program Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi. Materi disampaikan Naufal Irbah Rabbani dari Tim 11, didampingi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Sostenes A. Karubui. Undangan dikirim kepada 17 petani rumah tangga dan tiga PPL.

Sekitar pukul 13.00 WIT, gerimis turun. Panitia sempat khawatir hujan akan membuat warga urung datang, tetapi peserta tetap berdatangan. Setelah peserta mengerjakan pre-test, acara inti dimulai pukul 14.30 WIT.

Mengapa hidroponik cocok di Werianggi

Pada musim kemarau, penguapan di Werianggi tinggi. Tanah cepat kering, dan menanam sayur di kebun membutuhkan banyak air. Dengan hidroponik, warga tetap bisa menanam dan makan sayur dari halaman sendiri meski kemarau.

"Program hidroponik ini adalah teknologi pertanian yang sangat baru bagi kita. Sangat cocok diterapkan oleh ibu rumah tangga karena dapat diletakkan di halaman rumah, sehingga mereka tetap bisa mengurus keperluan rumah tangga yang lain," kata Karubui.

Ia menambahkan, teknik ini mudah diterapkan dan membantu penyuluh mewujudkan penanaman sayur bagi masyarakat.

Metode yang diajarkan adalah hidroponik sistem wick (sumbu). Kain flanel dipasang sebagai sumbu yang menarik larutan nutrisi dari dalam box ke akar tanaman. Sistem ini bekerja tanpa pompa dan tanpa listrik.

Peserta menerima modul delapan halaman berjudul "Hidroponik Sistem Wick: Sayur Segar Tanpa Tanah, Tanpa Listrik, Hemat Air". Isinya enam langkah: menyemai, merakit box, meracik nutrisi, pindah tanam, meletakkan box di tempat teduh dengan penutup plastik hitam, lalu merawatnya dengan mengecek air setiap 1–2 hari dan mengganti larutan setiap 7–10 hari. Modul itu juga memuat hitungan usaha untuk satu box dan buku catatan harian tanaman.

Ada pula daftar sayur menurut ketahanannya terhadap panas. Kangkung paling tahan dan bisa dipanen dalam 25–35 hari. Selada paling rentan terhadap panas. Cabai rawit, yang justru suka panas, ditanam di ember atau polybag dan baru dipanen setelah 3–4 bulan.

Gambar 1. Pemateri memaparkan materi dan memperagakan tanaman hidroponik kepada peserta pelatihan di SDN Werianggi, Teluk Wondama, 27 Oktober 2026. (Sumber: Tim 11 Ekspedisi Patriot UI)

Berhitung dengan botol air mineral

Peserta langsung praktik. Setiap orang merakit netpot, wadah kecil berlubang tempat tanaman berdiri, lalu memindahkan bibit yang siap pindah tanam ke box hidroponik.

Setelah itu, peserta diajak berhitung. Pemateri memakai botol air mineral 1,5 liter sebagai takaran. Satu box penuh membutuhkan tiga botol, atau 4,5 liter air. Berapa banyak pupuk ABmix yang perlu dicampurkan?

Jawaban peserta beragam. Seorang peserta akhirnya menjawab tepat: 22,5 mililiter untuk masing-masing larutan A dan B. Angka itu sesuai takaran di modul, yaitu 5 ml larutan A dan 5 ml larutan B untuk setiap liter air. Pada minggu pertama setelah pindah tanam, takarannya cukup separuhnya. Larutan A dan B juga tidak boleh dicampur dalam keadaan pekat.

Bahan pengganti hidroponik dari sekitar rumah

Dalam sesi tanya jawab, peserta mengajukan tujuh pertanyaan. Sebagian besar menyangkut satu hal: di mana membeli bahan hidroponik di Werianggi?

Rockwool, media semai berserat yang dipakai dalam pelatihan, belum dijual di kampung. Karubui lalu menyarankan bahan yang mudah didapat. Box bisa diganti ember, pipa, botol bekas, atau bambu. Rockwool bisa diganti busa atau serabut kelapa. Pupuk ABmix bisa diganti pupuk urea yang diracik kembali.

Peserta lain bertanya tentang cara menyemai di rockwool, cara memindahkan bibit dari tanah ke media hidroponik, dan apakah selada air bisa ditanam dengan sistem wick. Untuk pertanyaan terakhir, Karubui menjawab bisa, asalkan nutrisi yang dipakai tepat dan sesuai takaran.

Gambar 2. Penyerahan paket hidroponik kepada peserta seusai pelatihan, 27 Oktober 2026. (Sumber: Tim 11 Ekspedisi Patriot UI)

Delapan box hidroponik untuk enam jenis sayur

Pelatihan berlanjut ke halaman rumah warga. Setiap kelompok menerima paket berisi box 12 lubang, 12 netpot, 12 flanel, dan rockwool. Setiap peserta juga mendapat paket sendiri: benih enam jenis sayur, larutan ABmix A dan B masing-masing 40 ml, rockwool, flanel, dan suntikan untuk menakar nutrisi.

Kelompok-kelompok itu tersebar di Jalur 2, 3, dan 4 Kampung Trans serta Kampung Tamoge. Total ada delapan box untuk enam jenis sayur: bayam hijau, bayam loreng, bayam merah, kangkung, selada air, dan pakcoy. Setiap kelompok wajib menanam satu jenis benih di box-nya. Secara perorangan, peserta bebas menanam jenis lain.

Kelompok memilih jenis tanaman sambil memperhatikan pilihan kelompok lain agar tidak sama. Seorang ibu dari Kampung Tamoge memilih selada air. Alasannya, sayur lain sudah biasa ditanam di Werianggi, sedangkan selada air belum pernah. Ia ingin mencobanya dengan hidroponik.

Tanda-tanda awalnya sudah terlihat. Seusai acara, John Mofu, petani dari Kampung Tamoge, mengatakan akan langsung mencoba memindahkan tanamannya dari tanah ke media hidroponik.

"Setelah mengetahui teknik penanaman hidroponik ini, saya merasa sangat terbantu untuk menanam beberapa jenis sayuran secara efisien. Kita tidak perlu lagi mencangkul tanah, dan penggunaan air lebih hemat saat musim kemarau," kata John.

Sehari kemudian, seorang peserta lain diketahui sudah menyemai benih kangkung pada sore setelah pelatihan. Ada juga peserta yang meminta bibit sisa pelatihan dan langsung memindahkannya ke botol.

Gambar 3. Peserta dan Tim 11 Ekspedisi Patriot UI berfoto bersama di depan SDN Werianggi seusai pelatihan hidroponik, 27 Oktober 2026. (Sumber: Tim 11 Ekspedisi Patriot UI)

Satu box hidroponik tentu belum mengubah ekonomi keluarga. Namun, dari box kecil itu warga mulai melihat sayur tetap bisa tumbuh ketika tanah kering. Ujian berikutnya ada di halaman rumah masing-masing: apakah box itu terus dirawat sampai panen, lalu ditanami lagi.