Belajar Memberi dan Bertumbuh: Magang di Lazismu DIY dan Kisah Life Skill Camp

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Wanda Amelya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Magang sering dibayangkan sebagai rutinitas yang melelahkan: menyalin data, menyusun laporan, dan mengikuti arahan tanpa banyak ruang belajar. Satu bulan magang di Lazismu DIY mematahkan bayangan itu. Di lembaga amil zakat ini saya melihat bahwa kerja-kerja sosial bukan hanya soal menyalurkan dana, tetapi juga merawat manusia yang menerimanya.
Selama magang, saya belajar bahwa zakat, infak, dan sedekah baru bermakna ketika sampai kepada orang yang tepat dan mampu mengubah hidupnya. Lazismu tidak berhenti pada pemberian bantuan. Lewat program beasiswa, lembaga ini berupaya menyiapkan penerimanya menjadi pribadi yang tangguh, percaya diri, dan siap berkontribusi.
Gagasan itu terasa nyata ketika saya dipercaya menjadi panitia Life Skill Camp, kegiatan pembekalan bagi penerima beasiswa Lazismu DIY batch 5. Acara diselenggarakan selama dua hari, Jumat dan Sabtu, di Teras Merapi, dengan udara sejuk dan hamparan alam yang jauh dari hiruk-pikuk kota.
Nilai akademik yang baik belum tentu menjamin seseorang siap menghadapi dunia nyata. Kemampuan bekerja sama, mengelola emosi, dan memimpin sering menentukan keberhasilan jangka panjang. Karena itu, Life Skill Camp dirancang bukan sebagai seminar yang membosankan, melainkan pengalaman yang membuat peserta mengenal diri, mengenal sesama, dan mengenal lembaga yang mendukung mereka.
Dua Hari yang Padat Makna
Rangkaian acara dibuka dengan perkenalan Lazismu. Sesi ini mengajak penerima beasiswa memahami visi lembaga, sumber dana yang mereka terima, dan amanah yang menyertainya. Beasiswa itu lahir dari kepedulian banyak orang, dan para penerima diajak melihat diri mereka sebagai bagian dari rantai kebaikan.
Suasana lalu mencair lewat permainan kelompok. Dari sini terlihat watak masing-masing peserta. Ada yang cepat mengambil inisiatif, ada yang menjadi penengah, ada pula yang baru menemukan keberanian untuk bersuara. Tawa di antara mereka menjadi jembatan yang meruntuhkan sekat antarpeserta yang awalnya belum saling kenal.
Malam harinya, api unggun menghadirkan kehangatan di tengah dinginnya lereng Merapi. Di sinilah salah satu momen yang paling berkesan berlangsung, yaitu stres trash bin. Peserta menuliskan beban, kecemasan, atau hal yang mengganjal pada selembar kertas, lalu melemparkannya ke dalam api. Kegiatan sederhana ini mengandung pesan yang dalam: beban perlu diakui dan dilepaskan, bukan dipendam. Bagi anak muda yang kerap dituntut kuat, ruang seperti ini jarang tersedia. Saya melihat beberapa peserta terdiam sejenak sebelum melemparkan kertasnya, dan itu cukup menjelaskan betapa pentingnya kegiatan tersebut.
Malam ditutup dengan pentas seni (pensi). Peserta menampilkan bakat masing-masing, dari menyanyi hingga penampilan kreatif lainnya. Panggung itu membuktikan bahwa penerima beasiswa tidak hanya unggul di bangku kuliah, tetapi juga kaya potensi yang layak diberi ruang.
Pagi berikutnya dimulai dengan senam pagi untuk membangun semangat dan kebugaran. Setelah itu, outbound menguji kekompakan, strategi, dan kepercayaan antaranggota tim. Tantangan di alam terbuka mengajarkan bahwa tidak ada yang bisa menang sendirian.
Rangkaian acara diakhiri dengan pemilihan ketua penerima beasiswa. Proses ini melatih peserta menyampaikan gagasan, menimbang pilihan secara dewasa, dan memahami bahwa kepemimpinan adalah amanah. Ketua terpilih akan menjadi penghubung dan penggerak bagi rekan-rekannya ke depan.
Sebagai panitia, saya mendapat pelajaran yang tidak akan saya temukan di ruang kelas. Menyiapkan acara menuntut koordinasi, ketelitian, dan kesiapan menghadapi hal tak terduga. Jadwal bisa bergeser, kebutuhan di lapangan bisa berubah, dan semua itu harus dihadapi dengan kepala dingin serta komunikasi yang baik dengan tim.
Saya juga belajar bahwa kerja sosial menuntut ketulusan. Tidak ada tepuk tangan untuk panitia yang berjaga di balik layar, tetapi kepuasan melihat peserta tertawa, terbuka, dan tumbuh jauh lebih berharga dari apresiasi apa pun.
Satu bulan magang di Lazismu DIY memberi saya cara pandang baru tentang kebermanfaatan. Kebaikan yang berkelanjutan tidak cukup berupa bantuan finansial, tetapi juga pendampingan yang menumbuhkan karakter. Life Skill Camp di Teras Merapi menjadi bukti bahwa ketika dana, kepedulian, dan kerja kolaboratif bertemu, lahirlah ruang tumbuh bagi generasi muda.
Bagi mahasiswa yang sedang mencari tempat magang, saya ingin menyampaikan bahwa tidak semua pengalaman berharga datang dari kantor bergengsi. Terkadang ia hadir di lereng gunung, di antara api unggun, kertas-kertas beban yang dilepas, dan tawa penerima beasiswa yang sedang menata masa depannya.
