Spanduk di Bundaran HI ke Keputusan Liburan Wisatawan

Mahasiswa Magister Pariwisata Universitas Pendidikan Indonesia
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari WARDA AYU BERLIANA NAFIS tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Selasa (20/10/2026), aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk di Bundaran HI, Jakarta. Mereka menuntut penanganan krisis iklim dan meminta biaya hidup ditekan. Salah satu yang disorot adalah kabut asap berkepanjangan. Berita seperti ini sering dibahas dari sisi lingkungan atau politik. Tapi, bagaimana isu seperti kabut asap bisa memengaruhi keputusan orang saat merencanakan liburan?
Dulu, orang memilih tujuan liburan dari harga tiket dan foto yang bagus. Sekarang, wisatawan mungkin akan mempertimbangkan ini:
Keamanan kesehatan. Kualitas udara yang buruk bisa mengganggu pernapasan, apalagi untuk anak-anak, lansia, dan penderita asma. Wajar kalau banyak orang memilih menunda atau mengganti tujuan saat udara sedang tidak sehat. Karena wisatawan akan menghindari pilihan yang dirasa berisiko.
Etika berwisata. Sebagian wisatawan, terutama dari luar negeri, ingin tahu apakah uang liburan mereka mendukung destinasi yang peduli lingkungan. Kalau merasa ragu dan muncul rasa bersalah, itu bisa memengaruhi keputusan mereka.
Wisatawan biasanya tidak menyampaikan sikap lewat spanduk atau demo. Cara mereka lebih diam-diam:
Menunda perjalanan
Memindahkan rute ke daerah lain
Membatalkan pemesanan hotel atau tiket
Mengalihkan anggaran liburan ke negara atau kota lain
Bagi pelaku usaha wisata, hal-hal ini terasa langsung di jumlah pemesanan. Tentu, tanpa data resmi, sulit menghitung seberapa besar pengaruh satu isu tertentu. Tapi orang cenderung akan memilih tempat yang terasa aman dan nyaman.
Setiap ada kritik, sering muncul kekhawatiran soal citra pariwisata. Kekhawatiran itu masuk akal, karena banyak orang menggantungkan hidup dari sektor ini. Di sisi lain, ada juga yang melihat kritik sebagai pengingat bahwa ada hal yang perlu dibenahi.
Dua pandangan itu bisa berjalan bersamaan. Citra yang baik biasanya tumbuh dari kondisi nyata: udara yang bersih, informasi yang terbuka, dan penanganan yang cepat saat ada masalah. Wisatawan lebih percaya pada pengalaman dan data yang bisa mereka cek sendiri.
Spanduk di Bundaran HI hanyalah satu cara menyuarakan keresahan. Yang lebih menentukan adalah bagaimana semua pihak menanggapinya, mulai dari pemerintah, pelaku wisata, sampai kita sebagai wisatawan.
Kalau udara bersih dan informasi mudah diakses, wisatawan tidak perlu dibujuk. Mereka akan datang sendiri, dan itu kabar baik untuk pariwisata kita.
