Dokumenter Baru Pulp Rekam Kehangatan Panggung dan Penghormatan Steve Mackey

Sutradara Garth Jennings baru saja membagikan kisah di balik pembuatan film dokumenter sekaligus live film terbaru grup musik legendaris asal Sheffield, Pulp. Proyek audio-visual berdurasi 90 menit ini menangkap momen magis dari dua konser mereka yang tiketnya habis terjual di The O2, London, pada musim panas tahun lalu.
Melalui film bertajuk What Do You Do for an Encore?, penonton akan diajak menyelami perjalanan luar biasa grup musik ini dari sudut pandang yang sangat personal. Dokumenter ini menyajikan narasi langsung dari para personel, materi arsip yang belum pernah dipublikasikan, hingga rekaman eksklusif di balik layar selama tur reuni mereka berjalan.
Penghormatan Emosional untuk Mendiang Steve Mackey
Salah satu momen paling menyentuh dalam film ini adalah penampilan akustik lagu ‘Something Changed’, sebuah trek ikonis dari album Different Class. Penampilan tersebut dibawakan khusus sebagai bentuk penghormatan bagi mendiang basis mereka, Steve Mackey, yang telah berpulang.
“Saya sangat menyukai momen ketika mereka semua tampil bersama,” ujar Jennings kepada NME. “Ada satu momen ketika mereka berempat berdiri di depan tirai dan menyanyikan ‘Something Changed’. Bagi saya itu sangat mengharukan, karena di situlah Anda melihat hubungan di antara mereka, yang bermula dari pertemuan di sebuah ruang tamu hingga akhirnya mereka membuktikan masih bisa melakukannya bersama.”
Jennings juga mengenang sosok Mackey sebagai figur yang sangat karismatik di dalam maupun di luar panggung. Sutradara yang sebelumnya menggarap video musik untuk lagu ‘Help The Aged’ ini menyebut Mackey sebagai elemen penting yang tidak tergantikan dalam dinamika Pulp. “Dia sangat keren... luar biasa! Dia selalu terlihat menawan dan merupakan orang yang paling ramah,” tambah Jennings.
Estetika Dokumenter dari Barang yang Terbuang
Alih-alih menggunakan format wawancara konvensional yang kaku dengan gaya talking heads, Jennings memilih pendekatan artistik yang berbeda. Proses produksi film ini melibatkan pencarian arsip secara besar-besaran, termasuk membongkar barang-barang pribadi di rumah para personel serta mengumpulkan arsip lawas dari BBC.
Jennings mengungkapkan bahwa vokalis utama Pulp, Jarvis Cocker, memiliki pandangan unik mengenai elemen visual yang mereka gunakan. “Jarvis mengatakan bahwa apa yang dibuang orang-orang sebenarnya menceritakan jauh lebih banyak tentang budaya dibandingkan barang-barang yang mereka agungkan,” jelas Jennings. Konsep ini membuat visual film terasa mentah, hangat, dan sangat mencerminkan estetika Pulp yang autentik.
Pendekatan ini juga berhasil menangkap kontras antara lirik lagu Pulp yang sarat akan realisme kehidupan sehari-hari dengan aksi panggung mereka yang teatrikal. Hasilnya adalah sebuah karya seni yang menyatukan realitas pahit kehidupan dengan pelarian visual yang megah.
Semangat yang Terus Membara dan Jadwal Penayangan
Meskipun Pulp telah melewati berbagai fase naik turun sepanjang karier mereka, Jennings melihat bahwa energi kreatif grup ini masih sangat besar seperti musisi muda. Ketika ditanya mengenai kelanjutan masa depan Pulp setelah tur ini berakhir, Jennings mengaku optimis meskipun tidak bisa memastikan langkah mereka selanjutnya secara spesifik.
“Kami sempat berpikir, apa moral dari kisah ini? Mengapa kita masih melakukan semua ini? Dan Jarvis hanya menjawab, ‘Ya, mengapa tidak?’ Rasanya seperti ada sesuatu yang sedang mereka persiapkan,” ungkap Jennings, menggambarkan antusiasme yang masih membara dari para personel.
Bagi para penggemar yang sudah tidak sabar, platform pemutaran film MUBI akan menayangkan pratinjau film ini secara terbatas di bioskop Inggris dan Irlandia. Film What Do You Do for an Encore? kemudian dijadwalkan meluncur di bioskop Amerika Serikat sebelum akhirnya bisa dinikmati secara global melalui layanan streaming MUBI mulai akhir September ini.

