Film Star Wars Terlaris Terendah Raih Kesempatan Kedua di Disney+

Waralaba fiksi ilmiah populer Star Wars baru saja melewati salah satu fase tersulitnya di layar lebar. Film terbaru mereka, The Mandalorian and Grogu, mencatatkan diri sebagai rilisan dengan pendapatan bioskop terendah dalam sejarah waralaba tersebut. Namun, kegagalan di tangga box office global tersebut tampaknya mulai terbayar lewat perilisan format digitalnya di layanan streaming.
Dilansir Collider, film yang disutradarai oleh Jon Favreau ini langsung melesat ke posisi puncak tangga tontonan terpopuler di platform Disney+ tak lama setelah debut digitalnya. Fenomena ini memicu kembali diskusi hangat di kalangan penggemar mengenai pergeseran tren menonton, di mana audiens masa kini cenderung lebih memilih menikmati konten petualangan luar angkasa ini langsung dari kenyamanan rumah mereka daripada pergi ke bioskop.
Performa Box Office yang Di Luar Ekspektasi
Selama masa penayangannya di bioskop, film ini hanya mampu mengantongi pendapatan global sebesar 345 juta dolar AS. Angka ini terbilang sangat mengecewakan mengingat anggaran produksi yang digelontorkan Disney dilaporkan mencapai 165 juta dolar AS, belum termasuk biaya pemasaran yang masif. Pendapatan tersebut bahkan lebih rendah dibandingkan dengan film Solo: A Star Wars Story rilisan tahun 2018 yang sebelumnya memegang rekor performa terendah dengan raihan 393 juta dolar AS di seluruh dunia.
Kegagalan komersial ini memicu banyak analisis dari para pengamat industri film. Salah satu teori yang paling kuat menyebutkan bahwa penonton telanjur memandang proyek ini sebagai konten streaming biasa dan bukan sebuah suguhan sinematik besar yang layak ditonton di layar lebar. Penilaian tersebut tidak lepas dari fakta bahwa kisah petualangan ini memang berawal dari serial televisi populer tiga musim di platform digital yang sama.
Tanggapan Kritikus dan Absennya Aktor Utama
Secara kualitas, proyek layar lebar ini menerima reaksi yang cukup beragam dari para kritikus. Di situs agregator ulasan Rotten Tomatoes, film ini hanya mengantongi skor kritikus sebesar 60 persen. Konsensus kritikus di situs tersebut menyebutkan, “Penuh dengan aksi tetapi sangat tipis dalam hal dorongan naratif karena struktur episodiknya, film Star Wars ini lebih terasa seperti pertempuran kecil yang hanya mengandalkan pesona dari duo dinamis utamanya.”
Selain narasi yang dinilai kurang kokoh, minimnya keterlibatan langsung dari Pedro Pascal sebagai pemeran utama juga menjadi sorotan tajam. Aktor tersebut dilaporkan sangat jarang berada di balik kostum zirah besi miliknya sepanjang proses syuting. Sebaliknya, peran fisik karakter Din Djarin lebih banyak dijalankan oleh dua pemeran pengganti (stunt double), yaitu Brendan Wayne dan Lateef Crowder, yang namanya bahkan ditulis secara jelas dalam kredit film.
Kebangkitan di Platform Streaming dan Proyek Masa Depan
Meskipun kurang mendapat apresiasi dari para kritikus dan loyo di bioskop, respons dari kalangan penggemar justru berbanding terbalik. Penonton umum memberikan skor audiens yang cukup tinggi, yakni sebesar 86 persen di platform Rotten Tomatoes. Sentimen positif inilah yang mendorong lonjakan penonton ketika film ini mendarat di Disney+, di mana data dari FlixPatrol menunjukkan bahwa judul ini langsung menggeser film-film populer lain dari daftar puncak tontonan mingguan.
Terlepas dari pasang surut performa komersial film ini, Disney dan Lucasfilm dipastikan tidak akan mengerem produksi proyek fiksi ilmiah mereka. Waralaba ini bersiap untuk melanjutkan langkahnya dengan sebuah petualangan baru di luar saga keluarga Skywalker lewat film Star Wars: Starfighter yang dijadwalkan tayang di bioskop pada 28 Mei 2027. Proyek masa depan tersebut kabarnya akan disutradarai oleh Shawn Levy serta dibintangi oleh aktor ternama Ryan Gosling.

