Kate Nash Umumkan Album Baru Cailin dan Rilis Single Spilt Milk

Penyanyi dan penulis lagu Kate Nash resmi mengumumkan proyek album studio terbarunya yang bertajuk Cailín. Bersamaan dengan pengumuman tersebut, ia merilis single terbaru berjudul Spilt Milk, sebuah lagu yang secara lantang menyoroti krisis hak reproduksi perempuan dan kelompok minoritas yang tengah terjadi di berbagai belahan dunia.
Album ini dijadwalkan meluncur pada 22 Januari mendatang melalui label rekaman Kill Rock Stars. Melalui karya terbarunya, musisi berkebangsaan ganda ini mencoba menggabungkan elemen musik protes punk dengan sentuhan musik tradisional Irlandia untuk mengeksplorasi identitas budaya serta sejarah leluhurnya.
Suara Lantang untuk Hak Reproduksi Perempuan
Single Spilt Milk awalnya ditulis untuk merespons undang-undang aborsi di Irlandia sebelum amandemen kedelapan dicabut pada tahun 2018. Namun, isu ini kembali relevan seiring dengan perkembangan situasi politik di Amerika Serikat terkait pembatalan keputusan hukum Roe v. Wade yang membatasi hak kesehatan seksual perempuan.
Nash mengungkapkan bahwa lagu ini merepresentasikan hilangnya kendali individu atas tubuh mereka sendiri ketika berhadapan dengan otoritas kekuasaan yang kian mendominasi. “Ini tentang tidak memiliki kendali atas tubuh Anda sendiri, tidak didengarkan, dan merasa seolah-olah kekuatan yang ada di luar sana menjadi lebih besar, lebih menakutkan, dan lebih menghancurkan,” jelas Nash.
Ia juga mempertanyakan mengapa suara perempuan masih sering diabaikan dalam ruang publik. Melalui video musik yang disutradarai oleh Tom Beard, Spilt Milk divisualisasikan secara teatrikal guna memperkuat pesan perlawanan terhadap penindasan hak-hak sipil tersebut.
Eksplorasi Budaya dan Warisan Irlandia
Eksplorasi warisan budaya Irlandia menjadi pilar utama dalam konsep album Cailín. Sebelumnya, pada April lalu, Nash sempat merilis versi daur ulang lagu Famine milik Sinéad O’Connor yang memicu ketertarikannya untuk menggali lebih dalam sejarah keluarga dan garis keturunannya. Lagu tersebut dipastikan akan masuk ke dalam daftar trek album baru ini.
Perjalanan emosional ini memengaruhi arsitektur musik di dalam album, di mana Nash memadukan melodi tradisional dengan narasi bertema kolonialisme, agama, hingga konflik batin keluarga. Menurut Nash, memori musikal masa kecilnya sangat lekat dengan atmosfer kebudayaan Irlandia yang menghargai musisi sebagai bagian organik dari kehidupan sehari-hari.
Protes terhadap Krisis Industri Musik Grassroots
Selain fokus pada isu sosial dan budaya dalam karyanya, Nash juga dikenal vokal menyuarakan kesulitan finansial yang dihadapi musisi independen saat ini. Akhir tahun lalu, ia memicu perhatian publik lewat kampanye unik Butts for Tour Buses dengan membuka akun platform OnlyFans guna mendanai biaya turnya di Inggris dan Eropa.
Langkah tersebut diambil sebagai bentuk aksi protes langsung terhadap industri pertunjukan musik yang dinilai tidak lagi ramah terhadap artis skala menengah ke bawah. Nash sempat mendatangi kantor Live Nation, Spotify, hingga Gedung Parlemen Inggris di London untuk mendesak adanya intervensi regulasi dari pemerintah demi menyelamatkan ekosistem musik lokal.

