Max Richter Bersiap Rilis Album Baru While The Flood Rages

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi saxophone, instrument, music. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi saxophone, instrument, music. Foto: Pixabay

Komposer kenamaan asal Inggris-Jerman, Max Richter, bersiap kembali dengan karya teranyarnya lewat pengumuman album studio terbaru bertajuk While The Flood Rages. Sebagai pembuka dari proyek besar ini, Richter telah melepas sebuah single bernuansa kontemplatif berjudul Now We Can Sing yang akan menjadi penutup manis dari rangkaian album tersebut.

Album ini dijadwalkan meluncur pada 16 Oktober mendatang di bawah naungan label Decca Records. Menariknya, karya terbaru ini tidak sekadar menjadi album musik biasa, melainkan sebuah proyek kolaborasi lintas disiplin yang melibatkan koreografer ternama, Wayne McGregor.

Kolaborasi Teatrikal Berdasarkan Trilogi MaddAddam

Proyek kolaborasi antara Max Richter dan Wayne McGregor ini menandai kerja sama ketiga mereka dalam dunia seni pertunjukan. Karya ini merupakan komisi bersama antara National Ballet Of Canada dan Royal Opera House, yang proses kreatifnya terinspirasi langsung oleh trilogi novel fiksi ilmiah populer karya Margaret Atwood, MaddAddam. Trilogi tersebut menyoroti perjuangan umat manusia dalam membangun kembali peradaban setelah tersapu oleh pandemi mematikan.

Secara struktural, While The Flood Rages akan terdiri dari 15 trek yang dibagi ke dalam tiga babak pertunjukan (acts). Richter mengungkapkan bahwa proses penggarapan materi album ini sebenarnya telah dimulai jauh sebelum pandemi COVID-19 melanda dunia nyata, yang pada akhirnya sempat menunda perkembangannya selama beberapa tahun.

Berbeda dengan proyek musik panggung konvensional, album ini dirancang untuk dapat dinikmati sebagai karya mandiri (standalone piece), bukan sekadar lagu pengiring pertunjukan balet atau soundtrack. Komposer tersebut menjelaskan proses dekonstruksi musiknya agar dapat berdiri sendiri secara utuh. “Saya membongkar materi tersebut dan menciptakan alur yang masuk akal hanya dengan mendengarkannya,” ujar Richter mengenai konsep album barunya. “Ini adalah cara berbeda untuk mencapai tujuan yang sama.”

Apresiasi Tinggi bagi Kontribusi Budaya Max Richter

Tahun ini menjadi momentum besar bagi perjalanan karier Max Richter. Sang komposer dianugerahi gelar kehormatan CBE (Commander of the Order of the British Empire) dalam daftar New Years Honours atas kontribusi luar biasanya terhadap kebudayaan Inggris, advokasi, serta komunitas seni yang lebih luas. Gelar ini menyejajarkannya dengan tokoh industri hiburan Inggris lainnya seperti Idris Elba, Cynthia Erivo, dan Ellie Goulding.

Menanggapi penghargaan prestisius tersebut, Richter menyatakan rasa syukur yang mendalam atas kesempatan untuk terus berkarya sepanjang hidupnya. “Kesempatan untuk menghabiskan hidup saya melakukan apa yang saya impikan sejak kecil terus menjadi hak istimewa yang luar biasa, dan sesuatu yang tidak pernah saya anggap biasa,” ungkapnya merefleksikan pencapaian tersebut.

Tidak hanya gelar CBE, Richter juga didapuk sebagai ikon musik dalam gelaran National Album Day bersama dengan musisi modern lainnya seperti PinkPantheress dan Melanie C dari Spice Girls. Richter menekankan pentingnya format album fisik di era digital saat ini sebagai media koneksi emosional yang mendalam antara musisi dan pendengar. Menurutnya, album memberikan ruang bagi ide-ide musik untuk berkembang secara utuh dan mengundang interaksi mendengarkan yang lebih intim.

Rekam Jejak Gemilang di Kancah Sinema Dunia

Pengaruh Max Richter dalam industri musik global memang tidak perlu diragukan lagi, khususnya dalam lanskap musik latar perfilman. Sepanjang kariernya, ia telah menggarap ilustrasi musik untuk sekitar 50 judul film layar lebar. Salah satu karya terbarunya yang paling menyita perhatian adalah keterlibatannya dalam menyusun skor musik untuk film Hamnet yang disutradarai oleh sineas, Chloé Zhao.

Komposisi musiknya dalam film Hamnet berhasil mengantarkannya masuk ke dalam jajaran nominasi penghargaan bergengsi global untuk kategori Best Original Score. Film itu sendiri menyoroti dinamika hubungan emosional yang kompleks antara sastrawan legendaris William Shakespeare dan istrinya, Agnes, setelah mereka kehilangan putra mereka yang berusia 11 tahun bernama Hamnet. Lewat proyek terbarunya ini, Richter kembali membuktikan kepiawaiannya dalam menerjemahkan narasi tragedi dan harapan menjadi untaian nada yang menyentuh jiwa.