Menilik Growth of the Soil Representasi Epik Klasik Norwegia di Oscar

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi river, flowing, waterfall. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi river, flowing, waterfall. Foto: Pixabay

Sinema Skandinavia kembali menunjukkan taringnya di panggung penghargaan internasional. Kali ini, Norwegia resmi mengirimkan film terbaru sutradara Hans Petter Moland berjudul Growth of the Soil (dengan judul asli Markens Grøde) sebagai perwakilan mereka untuk kategori film internasional di ajang Piala Oscar. Film yang diadaptasi dari novel klasik karya pemenang Nobel, Knut Hamsun, ini menawarkan sebuah drama sejarah berdurasi 155 menit yang memotret perjuangan manusia bertahan hidup di tengah kerasnya alam liar Norwegia pada awal abad ke-20.

Mengusung pendekatan sinematik yang terasa klasik sekaligus bertenaga, film ini menyatukan kembali duet aktor Herbert Nordrum dan Asta Kamma August. Penampilan keduanya yang memukau menjadi jangkar emosional yang kuat dalam menggambarkan transisi sebuah keluarga dari kehidupan primitif menuju peradaban modern yang kerap kali membawa dampak merusak bagi manusia.

Kolaborasi Kuat Herbert Nordrum dan Asta Kamma August

Kehadiran Herbert Nordrum dan Asta Kamma August dalam film ini menjadi daya tarik utama yang tidak boleh dilewatkan. Sebelum dipertemukan dalam proyek ini, keduanya sempat beradu akting dalam film komedi hitam bertajuk The Hypnosis pada tahun 2023. Melalui film tersebut, Nordrum bahkan berhasil menyabet penghargaan Aktor Terbaik di Festival Film Karlovy Vary atas penampilannya yang gemilang sebagai pengusaha startup yang canggung.

Di bawah arahan sutradara Hans Petter Moland, keduanya kembali dipasangkan namun dengan dinamika emosional yang jauh lebih berat dan tragis. Nordrum memerankan karakter Isak, seorang pria praktis yang tabah dan bertekad membangun kehidupan baru di gunung yang belum terjamah. Sementara itu, August memerankan Inger, perempuan yang merasa terasing dari dunia luar karena kondisi fisik berupa bibir sumbing. Pertemuan tak sengaja di tengah badai salju menyatukan mereka untuk membangun keturunan dan bertahan hidup bersama.

Adaptasi Karya Sastra Pemenang Nobel tentang Batas Peradaban

Ditulis bersama oleh Moland dan Gard B. Eidsvold, naskah Growth of the Soil diangkat dari novel dua volume rilisan tahun 1917 karya Knut Hamsun. Kisahnya menyoroti bagaimana lanskap pegunungan utara Norwegia yang liar lambat laun mulai terkikis oleh kemajuan zaman dan urbanisasi. Ketika komunitas kecil mulai tumbuh di sekitar pertanian Isak dan Inger, aturan hukum, kontrak tanah, hingga pajak mulai mendikte kehidupan mereka yang buta huruf dan tidak siap menghadapi birokrasi modern.

Konflik mencapai puncaknya ketika anak ketiga mereka lahir ke dunia. Inger, yang didera keputusasaan mendalam, melakukan sebuah tindakan nekat yang secara instan menghancurkan keharmonisan keluarga kecil mereka yang selama ini terisolasi dari dunia luar. Tragedi tersebut membuka jalan bagi dunia luar untuk masuk dan mengintervensi kehidupan mereka, membawa perubahan yang tidak hanya progresif tetapi juga destruktif.

Estetika Sinematik yang Sunyi dan Alami

Dari sisi teknis, film ini tidak menonjolkan keindahan visual yang romantis, melainkan memilih pendekatan estetika yang kasar dan dingin. Sinematografer Oskar Dahlsbakken berhasil menangkap kejamnya cuaca pegunungan Norwegia dengan visual yang autentik. Dilansir Variety, kehebatan tata suara film ini digambarkan secara puitis, di mana “Angin layak mendapatkan kredit utama dalam film ini—bahkan dalam adegan paling tenang sekalipun, Anda dapat mendengarnya berderak dan mengerang di latar belakang.”

Dengan durasi penayangan yang cukup panjang, Growth of the Soil berhasil menyajikan transformasi batin para tokohnya secara mendalam. Sutradara Moland menghindari dramatisasi berlebih demi mempertahankan keaslian emosi karakter. Pendekatan ini menjadikannya sebuah potret sejarah yang tidak hanya memukau, tetapi juga menghanyutkan bagi para penikmat sinema arthouse di seluruh dunia.