Paramount Tuntut Jaminan 1,9 Miliar Dolar Terkait Gugatan Merger

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi headphones, clapper, clapperboard. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi headphones, clapper, clapperboard. Foto: Pixabay

Proses mega-merger antara Paramount dan Warner Bros Discovery kini memasuki babak baru yang penuh ketegangan finansial. Paramount secara resmi mengajukan tuntutan hukum agar koalisi 12 negara bagian Amerika Serikat serta serikat penulis Hollywood, Writers Guild of America (WGA), menyerahkan uang jaminan (bond) sebesar 1,88 miliar dolar AS atau sekitar 29 triliun rupiah untuk melanjutkan gugatan antimonopoli mereka.

Langkah ekstrem ini diambil Paramount guna memitigasi kerugian finansial raksasa akibat tertundanya transaksi senilai 111 miliar dolar AS tersebut. Jika pengadilan tidak mewajibkan uang jaminan tersebut paling lambat tanggal 30 September 2026, Paramount meminta agar perintah penundaan merger segera dicabut agar proses akuisisi bisa langsung berjalan.

Konsekuensi Finansial di Balik Penundaan Merger

Dilansir Variety, penundaan transaksi ini memicu konsekuensi keuangan yang sangat masif bagi Paramount. Perusahaan di bawah kepemimpinan David Ellison tersebut diwajibkan membayar denda harian yang disebut sebagai ticking fee kepada para pemegang saham Warner Bros Discovery. Nilai denda tersebut tidak main-main, yakni mencapai hampir 7 juta dolar AS setiap harinya yang mulai berlaku sejak 1 Oktober 2026 hingga transaksi resmi selesai.

Akumulasi dari denda harian tersebut diproyeksikan menyentuh angka 1,69 miliar dolar AS untuk periode hingga Juni 2027. Selain beban denda harian, Paramount juga harus menanggung tambahan biaya pendanaan sebesar 190 juta dolar AS yang muncul murni akibat mundurnya jadwal penyelesaian transaksi. Sesuai regulasi undang-undang antimonopoli Clayton Act, pihak penggugat idealnya diwajibkan memberikan jaminan finansial atas kerugian yang diderita pihak tergugat selama proses litigasi berlangsung.

Konflik Tajam dengan Jaksa Agung California

Tuntutan fantastis dari Paramount ini langsung memicu reaksi keras dari pihak penggugat, khususnya Jaksa Agung California, Rob Bonta. Pihak kejaksaan menilai langkah hukum Paramount ini sebagai upaya alternatif untuk menghindari kesepakatan penundaan yang sebelumnya telah disetujui bersama secara sukarela sebelum persidangan dimulai pada Maret 2027.

Dalam pernyataan resminya, perwakilan kantor Jaksa Agung California memberikan sindiran tajam terhadap manuver Paramount tersebut. Mereka menegaskan bahwa kedua raksasa hiburan ini sudah mengetahui risiko regulasi sejak awal proses merger dirancang. “Intinya, Paramount memasuki proses ini dengan mata terbuka lebar,” tegas perwakilan kantor Jaksa Agung California. “Mereka sekarang sedang tidur di ranjang yang mereka buat sendiri, dan sekali lagi, mencoba memeras kami agar kami mundur.”

Hambatan Regulasi dan Dampak Industri

Hingga saat ini, gugatan hukum dari koalisi negara bagian dan WGA menjadi satu-satunya penghalang tersisa bagi rampungnya merger Paramount dan Warner Bros Discovery. Padahal, rencana penggabungan dua entitas raksasa media ini sebenarnya telah mendapatkan persetujuan regulasi dari 68 yurisdiksi di berbagai belahan dunia. Koalisi penggugat khawatir merger ini akan merusak iklim kompetisi di pasar bioskop serta membatasi ruang bagi para pekerja kreatif.

Di sisi lain, penundaan yang diperkirakan memakan waktu minimal delapan bulan ini tidak hanya berdampak pada aspek legalitas semata, melainkan juga operasional industri secara menyeluruh. Perwakilan Paramount menyatakan bahwa situasi ketidakpastian ini menghentikan proses integrasi perusahaan, menahan investasi konten baru, serta merugikan moral para karyawan di kedua studio. Meski begitu, proses hukum masih terus bergulir dan Hakim Araceli Martinez-Olguin telah menjadwalkan sidang perdana kasus ini pada awal Maret 2027.