QOTSA Umumkan Album Baru Perfecth dan Rilis Single Insignificant Other

Queens Of The Stone Age (QOTSA) resmi mengumumkan detail album studio kesembilan mereka yang diberi tajuk Perfecth. Band rock asal Amerika Serikat ini juga melepas single terbaru bertajuk Insignificant Other sebagai perkenalan awal sebelum album penuhnya meluncur pada 30 Oktober mendatang melalui label Matador Records.
Keputusan merilis album ini terhitung cukup cepat mengingat Josh Homme, sang vokalis, sempat berjanji kepada penggemar untuk mempercepat proses kreatif mereka. Langkah ini sekaligus memutus tradisi jeda panjang antar-album yang sebelumnya sempat membuat pendengar menunggu hingga enam tahun.
Makna di Balik Kata Perfecth dan Seni Kintsugi
Homme menjelaskan bahwa pemilihan kata Perfecth didasari atas pandangannya terhadap kata 'sempurna' yang dianggap tidak pernah jujur dan tidak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Melalui nama unik ini, Homme ingin menciptakan istilah baru yang lebih realistis dan dekat dengan ketidaksempurnaan manusia. “Tidak ada yang sempurna di dunia ini, tetapi semuanya tampak menjadi perfecth,” ujar Homme seperti dilansir dari NME. Ia juga menambahkan bahwa judul tersebut terasa lucu saat berada di dalam kelompok, namun berubah menjadi getir ketika seseorang sedang sendirian.
Selain itu, tema besar dari album ini sangat dipengaruhi oleh seni tradisional Jepang bernama Kintsugi, yaitu metode memperbaiki keramik rusak menggunakan sambungan emas. Konsep menyatukan kembali pecahan yang rusak menjadi sesuatu yang jauh lebih bernilai sangat selaras dengan kondisi emosional band saat ini. Bagi Homme, proses perbaikan tersebut justru membuat apa yang hancur menjadi tampak lebih indah dan kuat setelah mereka berhasil melewati berbagai badai personal sebagai sebuah unit musik.
Sentuhan Groove Santai dalam Single Baru
Single Insignificant Other hadir sebagai jembatan pembuka dengan nuansa musik yang lebih santai dan mengalir bebas. Trek ini membawa kembali memori pendengar pada groove sensual ala lagu klasik mereka, Make It Wit Chu. Homme mendeskripsikan lagu baru ini sebagai refleksi mengenai jarak emosional antar-manusia. “Ini adalah lagu tentang jarak,” ungkap Homme. Ia menceritakan bagaimana seseorang yang awalnya menjadi pusat dunia bagi orang lain bisa tiba-tiba menghilang begitu saja, meninggalkan perasaan aneh seperti vertigo bagi mereka yang ditinggalkan.
Untuk melengkapi perilisan single tersebut, band ini juga meluncurkan video musik jenaka yang disutradarai oleh Chapman Baehler. Menariknya, video klip tersebut menampilkan anjing viral bernama Big Chongus yang diposisikan sebagai representasi visual dari konsep kesempurnaan aneh itu sendiri. Tidak hanya itu, video ramah hewan ini juga melibatkan anggota keluarga para personel, termasuk anak-anak Homme serta hewan peliharaan mereka.
Eksplorasi Proses Produksi dan Inspirasi Parisian Catacombs
Album yang berisi sembilan lagu ini diproduseri langsung oleh Josh Homme bersama sang pemain bas, Michael Shuman. Proses perekaman dilakukan di berbagai kota besar, mulai dari New Orleans hingga Los Angeles, guna menangkap getaran emosional yang berbeda di setiap wilayah. Homme menegaskan bahwa setiap lagu dalam album ini memang sengaja dirancang agar terdengar seperti berasal dari dunia yang berbeda demi menyatukan spektrum emosi yang rumit seperti cinta, nafsu, hingga kebodohan masa muda.
Sebagian besar arah estetika album ini juga terinspirasi dari pengalaman intim band saat menggelar konser akustik di lorong bersejarah Parisian Catacombs pada tahun 2024 lalu. Penampilan sunyi dan kontemplatif di bawah tanah Paris tersebut telah direkam menjadi film dokumenter konser dan live album berjudul Alive In The Catacombs. Energi magis dan aransemen minimalis dengan iringan ansambel gesek dari tur tersebut kini diadaptasi secara matang ke dalam nomor-nomor baru di album Perfecth.

