Konten dari Pengguna

Makan Siang Bersama MBG dan Solidaritas ala Durkheim

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari widiana naurohimah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi siswa makan siang bersama di sekolah. (Sumber foto Pexels)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi siswa makan siang bersama di sekolah. (Sumber foto Pexels)

Hingga 10 Juni 2026, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tercatat telah melayani 63,1 juta penerima manfaat. Angka itu biasanya dibaca sebagai capaian anggaran dan gizi. Tetapi di balik angka tersebut, ada pemandangan sosial yang jarang disorot, jutaan anak di ribuan sekolah duduk, menerima nampan, dan makan pada waktu yang hampir sama. Pertanyaannya, apakah MBG hanya urusan perut, atau juga bisa menjadi perekat sosial di sekolah?

Makan bersama sebagai ritual

Émile Durkheim, sosiolog klasik asal Prancis, berpendapat bahwa masyarakat dipersatukan oleh solidaritas, yaitu rasa kebersamaan yang dipelihara lewat ritual dan pengalaman kolektif. Dalam karyanya tentang kehidupan religius, ia menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan bersama-sama, berulang, dan bermakna dapat menumbuhkan perasaan "kita" yang melampaui kepentingan individu.

Makan siang bersama punya unsur-unsur itu. Ia dilakukan serentak, berulang setiap hari, dan melibatkan semua orang di ruang yang sama. Anak dari keluarga yang berbeda duduk menghadapi menu yang sama. Dalam kondisi ideal, MBG bisa menjadi ritual kecil yang menegaskan bahwa di sekolah, semua anak setara sebagai bagian dari satu komunitas.

Ketika ritual itu terganggu

Namun ritual hanya mempersatukan jika semua merasa menjadi bagian darinya. Belakangan arah MBG bergeser. BGN menyiapkan refocusing agar penyaluran lebih tepat sasaran, dengan opsi mencoret sekolah yang mayoritas siswanya dari keluarga mampu. Per 18 Juni, BGN sudah mencoret 76 sekolah di Pulau Jawa dari daftar penerima.

Dari sisi anggaran, kebijakan ini bisa dipahami. Namun dari kacamata Durkheim, pemilahan penerima berisiko mengubah makan siang dari ritual bersama menjadi penanda perbedaan. Ketika sebagian sekolah menerima dan sebagian tidak, atau sebagian anak menerima dan sebagian tidak, rasa "kita" bisa tergantikan oleh rasa "mereka dan kami".

Ritual yang kehilangan makna

Ada tanda lain bahwa ritual ini belum sepenuhnya bermakna bagi semua. Evaluasi penerima manfaat dilakukan antara lain karena ditemukan sejumlah kasus makanan MBG yang tidak dikonsumsi oleh siswa. Makanan yang dibuang adalah tanda bahwa program dijalankan sebagai distribusi, belum sebagai pengalaman bersama. Durkheim mengingatkan bahwa ritual yang dijalankan tanpa makna akan kehilangan daya ikatnya, sekadar rutinitas yang dilewati.

Siapa yang diuntungkan?

Banyak. Anak mendapat asupan gizi, keluarga berpenghasilan rendah terbantu, dan ekonomi lokal bergerak lewat rantai pasok pangan. Tuntutan agar dana publik tepat sasaran juga wajar dan perlu dijaga.

Tetapi manfaat sebuah program publik tidak berhenti pada gizi. Sekolah adalah tempat anak belajar hidup bersama, dan makan siang adalah salah satu momen paling alami untuk itu. Program yang memberi makan tetapi mengabaikan dimensi kebersamaan hanya memanfaatkan separuh potensinya.

Menjaga yang bersama

Kalau sasaran harus dipersempit, kebersamaan di dalam sekolah tetap perlu dirawat. Pemilahan sebaiknya dilakukan di tingkat sekolah atau wilayah, bukan dengan menunjuk anak tertentu di dalam kelas. Di sekolah yang menerima, semua siswa makan di waktu dan tempat yang sama, dengan menu yang sama. Guru bisa ikut makan bersama, dan waktu makan dijadikan kesempatan berbincang, bukan sekadar menghabiskan porsi.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan MBG bukan hanya berapa porsi yang terdistribusi, tetapi apakah anak-anak merasa menjadi bagian dari satu meja yang sama. Gizi mengisi tubuh, kebersamaan mengisi rasa memiliki. Sekolah yang baik membutuhkan keduanya.