Gizi Bukan Sekadar soal Kenyang, Melainkan Investasi Sumber Daya Manusia

Ahli gizi. Master of Nutrition and Dietetics dari University of Sydney, Australia.
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Winda Ekayanti, MND, APD tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemenuhan kebutuhan gizi seharusnya tidak dipandang hanya sebagai persoalan “sudah makan atau belum”. Apabila perut sudah kenyang, tandanya kebutuhan gizi sudah tercukupi merupakan pemahaman yang keliru oleh kaum awam dikarenakan minim informasi dan sosialisasi tentang gizi yang baik di negara ini. Padahal dari kacamata seorang ahli gizi, makanan yang masuk ke dalam mulut seseorang bukan hanya sekadar bahan bakar biologis, melainkan modal dasar pembentukan kognitif, produktivitas, dan ketahanan fisik jangka panjang para calon penerus bangsa di masa depan.
Tubuh manusia membutuhkan lebih dari sekadar kalori. Protein diperlukan untuk membangun dan memperbaiki jaringan tubuh, Karbohidrat merupakan sumber energi utama untuk aktivitas sehari-hari. Zat besi berperan penting dalam pembentukan sel darah merah dan fungsi kognitif. Kalsium dan vitamin D mendukung pertumbuhan tulang, sementara berbagai vitamin dan mineral berperan dalam sistem imun dan metabolisme.
Pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang unggul tidak hanya dimulai dari ruang kelas, tetapi dimulai dari piring makan seorang ibu hamil dan 1000 (seribu) hari pertama kehidupan sang anak sejak dalam kandungan. Ketika asupan zat gizi terpenuhi pada fase ini, sel-sel otak anak dapat berkembang dengan pesat, membantu anak tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal. Sebaliknya, kekurangan gizi kronis (dalam jangka waktu lama) dapat merusak perkembangan otaknya secara permanen, menyebabkan rendahnya kapasitas belajar seseorang yang berdampak langsung pada rendahnya tingkat kecerdasan (IQ), kemampuan, keterampilan, serta daya saing anak tersebut di masa depan. Efek samping kekurangan gizi kronis juga tampak pada kelainan fisik anak, seperti faltering dan stunting.
Growth faltering (gagal tumbuh) merupakan kondisi saat kenaikan berat badan anak melambat, macet, atau turun sehingga tidak sesuai dengan grafik pertumbuhan normal. Stunting (kerdil) adalah pertumbuhan fisik anak yang ditandai dengan tinggi atau panjang badan yang terlalu pendek untuk usianya. Growth faltering adalah tanda peringatan dini ketika anak kekurangan gizi atau sedang sakit dan dapat dengan segera diperbaiki untuk mencegah kerusakan otak dan fisik yang permanen.
Stunting dialami akibat kekurangan gizi kronis atau infeksi berulang yang berlangsung lama, terutama sebelum anak menginjak usia 3 tahun. Apabila kekurangan gizi berlanjut dan infeksi tidak segera ditangani maka dapat menyebabkan penurunan tingkat kecerdasan (IQ) dan gangguan kognitif yang sifatnya sulit diubah (ireversibel) jika anak sudah lewat usia 2 tahun. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua/ pengasuh untuk selalu memantau tumbuh kembang anak secara rutin, terutama pada usia balita.
Gizi Sebagai Pencegah Penyakit dan Efisiensi Ekonomi
Gizi buruk menjadi akar dari sebagian besar penyakit degeneratif seperti diabetes tipe 2, hipertensi (darah tinggi), dan penyakit jantung. Biaya pengobatan penyakit kronis jauh melampaui investasi yang dibutuhkan untuk membeli makanan sehat dan bergizi seimbang. Dari sudut pandang ekonomi makro, populasi yang kekurangan gizi kronis mengalami penurunan produktivitas akibat rendahnya tingkat kecerdasan (IQ), berkurangnya kognitif seta fokus, kelelahan kronis dan sering sakit/ infeksi, yang pada akhirnya membebani sistem kesehatan nasional. Perbaikan dan pemenuhan gizi yang seimbang adalah strategi pencegahan paling murah dan efektif yang dapat dilakukan suatu negara.
Banyak negara maju telah menyadari hal itu, sehingga mereka menerapkan program makan bergizi bagi anak-anak di sekolah. Jepang merupakan negara tertua yang menerapkan sistem makan siang bergizi bagi anak sekolah. Kyūshoku (給食) – program makan siang sekolah – telah ada sejak tahun 1889 dan menjadi inspirasi global untuk berbagai kebijakan makan bergizi gratis, termasuk di Indonesia. Makan siang adalah bagian dari kelas pendidikan nutrisi dan etika (Shokuiku). Siswa belajar mengenali gizi, menyajikan makanan secara bergiliran, membersihkan kelas bersama, serta menghargai proses pembuatan makanan.
Negara Korea Selatan telah menjalankan program school meal service selama 70 tahun sejak dimulai sebagai bantuan kemanusiaan pasca-Perang Korea pada 1953. Pada tahun 1981, pemerintah Korea selatan membentuk Undang-Undang Makanan Sekolah dan mewajibkan penempatan ahli gizi di sekolah. Sejak tahun 2011, Universal Free, Eco-Friendly (UFEF) School Lunch Program resmi diluncurkan dan sudah dirasakan manfaatnya oleh sekitar 5 juta siswa di lebih dari 12.000 sekolah hingga saat ini. Kini, setiap sekolah telah memiliki fasilitas dapur untuk memasak makanannya sendiri dan seluruh menu dirancang serta diawasi ketat oleh ahli gizi.
Pemerintah Tiongkok menerapkan Nutrition Improvement Program for Rural Compulsory Education Students (NIPRCES) sejak tahun 2011. Program makan siang bergizi gratis untuk pelajar bertujuan untuk meningkatkan status gizi, kesehatan, fokus belajar, serta prestasi akademik anak-anak di daerah pedesaan dan wilayah pinggiran. Setiap sekolah memiliki dapur mandiri agar makanan dapat disajikan segera setelah dimasak untuk mengurangi risiko kerusakan dan menu disusun berdasarkan standar gizi ketat mencakup protein hewani dan sayuran. Program ini sempat menjadi salah satu rujukan dan didukung melalui kerja sama dengan Indonesia lewat Pemerintah China Dukung Program Makan Bergizi Gratis Prabowo.
The Hidden Hunger
Pola konsumsi harian sebagian besar keluarga Indonesia masih didominasi oleh karbohidrat sederhana secara berlebihan, makanan ultra-proses, dan junkfood yang minim nilai nutrisi. Banyak orang tua merasa tugasnya telah selesai ketika melihat anak-anak mereka kenyang setelah menghabiskan sebungkus mi instan, gorengan, atau aneka jajanan pasar yang tinggi kandungan minyak jahat, gula dan natrium (garam). Realitas sosiologis ini melahirkan fenomena yang sangat berbahaya dalam dunia medis, yakni kelaparan tersembunyi (hidden hunger).
Hidden hunger merupakan suatu kondisi kronis di mana tubuh seseorang tampak memiliki berat badan yang cukup, bahkan cenderung berlebih (overweight), namun secara biologis mengalami defisiensi akut zat gizi mikro (micronutrient deficiencies) esensial seperti zat besi, iodium, seng, dan vitamin. Dampak buruk dari kondisi ini tidak terlihat dalam hitungan hari, melainkan menumpuk secara struktural. Anak-anak yang mengalami hidden hunger akan memiliki sistem imunitas yang rapuh sehingga rentan terhadap infeksi berulang, mengalami penurunan kapasitas kognitif, dan dalam jangka panjang, berujung pada kondisi gagal tumbuh atau stunting.
Bukan rahasia lagi bahwa potret kualitas SDM kita masih dibayangi oleh rapor merah sektor kesehatan. Berdasarkan laporan resmi Kementerian Kesehatan RI melalui hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), angka prevalensi stunting nasional saat ini berada pada kisaran 19,8%. Angka ini memang merefleksikan tren penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya, namun secara substansi tetap bermakna bahwa hampir satu dari lima balita di Indonesia mengalami gangguan pertumbuhan otak dan fisik yang ireversibel akibat malnutrisi.
Indonesia saat ini tengah berada dalam momentum krusial untuk merealisasikan visi besar Indonesia Emas. Narasi mengenai lompatan menjadi negara berpenghasilan tinggi (high-income country) kerap didominasi oleh isu-isu makro seperti pembangunan infrastruktur fisik, transformasi digital, hingga hilirisasi industri. Namun, di balik kemegahan target-target ekonomi tersebut, kita sering kali mengabaikan pondasi paling fundamental dari suatu peradaban: kualitas manusia yang ditentukan oleh apa yang tersaji di atas piring anak-anak Indonesia setiap harinya.
Keluarga sebagai Benteng Pertama Literasi Gizi
Keluarga merupakan lingkungan utama bagi anak-anak dalam mengenal rasa, tekstur, dan kebiasaan pola makan. Sayangnya mayoritas kegagalan pemenuhan gizi seimbang di level rumah tangga bukan disebabkan oleh faktor kemiskinan ekstrem semata, melainkan akibat rendahnya literasi gizi dasar yang dimiliki orang tua. Banyak anggaran belanja rumah tangga kelas menengah ke bawah yang sebenarnya mencukupi untuk membeli pangan bernutrisi, justru dialokasikan secara keliru untuk membeli rokok, minuman kemasan manis, maupun makanan instan ultra-proses miskin nutrisi.
Literasi gizi—pembagian zat makro gizi (karbohidrat, protein, lemak) dan gizi mikro secara seimbang—membuat rantai kemiskinan kognitif terus berputar dari satu generasi ke generasi. Mengedukasi para ibu dan ayah mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif enam bulan, pengenalan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang padat protein hewani, serta pembatasan ketat terhadap asupan junkfood pada anak adalah investasi non-fisik mutlak. Orang tua harus benar-benar memahami ilmu gizi dasar tersebut.
Ketahanan Pangan Lokal Solusi Terjangkau Kecukupan Gizi Bangsa
Suatu miskonsepsi besar para orang tua bahwa makanan bergizi selalu identik dengan label mahal. Paradigma keliru ini menganggap bahwa anak-anak baru tercukupi nutrisinya jika mengonsumsi susu formula impor, daging sapi premium, atau ikan salmon berharga tinggi. Padahal, alam Indonesia kaya akan alternatif pangan lokal yang tidak kalah mewah dari segi nilai biologisnya dan jauh lebih ramah di kantong.
Berdasarkan publikasi ilmiah mengenai pemanfaatan komoditas daerah, sumber daya pangan lokal kita menyimpan potensi raksasa untuk memutus rantai stunting dan malnutrisi, contohnya: ikan kembung. Data dari Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa ikan kembung memiliki kandungan protein dan omega-3 yang setara, bahkan dalam beberapa aspek lebih unggul daripada ikan salmon, dengan harga yang jauh lebih terjangkau.
Selain itu, protein hewani berkualitas tinggi bisa didapatkan dengan mudah melalui pemanfaatan telur, hati ayam, udang rebon, hingga ikan lele yang melimpah di pasar tradisional. Indonesia juga memiliki diversifikasi sumber karbohidrat dan mikronutrisi mulai dari ubi jalar, singkong, jagung, kacang hijau, hingga daun kelor yang kaya akan zat besi. Mengoptimalkan pangan lokal artinya kita tidak hanya memotong biaya logistik bahan pangan, tetapi juga memastikan kesegaran nutrisi makro dan mikro diserap utuh oleh tubuh anak.
Mengatasi tantangan gizi di Indonesia menuntut kerja kolaboratif yang terintegrasi. Intervensi medis dan pembagian makanan gratis oleh pemerintah harus berjalan paralel dengan strategi komunikasi perubahan perilaku yang masif di akar rumput. Langkah penyesuaian menu berbasis stok pangan wilayah—seperti yang telah diuji coba melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah—membuktikan bahwa pemenuhan gizi makro tidak boleh diseragamkan lewat pasokan impor, melainkan wajib menyerap hasil panen kelompok tani, peternak, dan nelayan lokal. Pemerintah daerah dan pusat juga perlu bekerja sama menggiatkan gerakan Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi) lewat optimalisasi peran kader Posyandu, Dasawisma, dan Puskesmas secara berkala. Edukasi pemanfaatan pangan lokal harus dikemas secara sederhana, realistis, interaktif, dan aplikatif agar para orang tua di tingkat rukun tetangga memahami cara mengolah bahan pangan murah dan bergizi menjadi hidangan yang disukai anak tanpa kehilangan densitas nutrisinya.
Investasi Sederhana, Modal Kuat Bangsa di Masa Depan
Membicarakan gizi berhenti pada angka kecukupan zat gizi saja. Faktor ekonomi, pendidikan, akses terhadap pangan, budaya makan, lingkungan, hingga pengetahuan di lingkup keluarga memengaruhi kualitas pola makan seseorang. Karena itu, perbaikan gizi membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Edukasi gizi harus berjalan bersama dengan peningkatan akses terhadap pangan bergizi dan terjangkau.
Kita tidak harus menunggu perubahan besar untuk mulai berinvestasi pada gizi. Mulailah dari meja makan kita sendiri dengan memilih sumber pangan natural yang beragam. Biasakan setiap kali makan terdapat sumber karbohidrat, lauk sebagai sumber protein, sayur dan buah sebagai sumber serat pangan. Sebagai keluarga, jadikan waktu makan kesempatan untuk membangun kebiasaan makan yang sehat sejak dini. Di sekolah, tempat kerja, dan institusi, ciptakan lingkungan pangan yang memudahkan seseorang mendapatkan pilihan makanan yang bergizi dan terjangkau. Tentunya, dengan dukungan pemerintah untuk menciptakan kedaulatan pangan lokal.
Pada akhirnya, makanan adalah bahan baku bagi tubuh untuk tumbuh, berpikir, bergerak, melawan penyakit, dan menjalani kehidupan secara optimal. Memastikan anak-anak Indonesia memperoleh makanan bergizi seimbang bukan lagi dipandang sekadar aksi filantropi, bantuan sosial pasif, atau gerakan pemenuhan kepuasan biologis (rasa kenyang) semata.
Investasi gizi pada anak sejak dini adalah modal utama untuk menciptakan generasi mumpuni yang dapat bersaing global serta memajukan bangsa. Langkah menuju Indonesia Emas tidak dimulai dari megahnya gedung-gedung pencakar langit, melainkan dari makanan sehat berbasis kearifan lokal yang dikonsumsi oleh setiap keluarga Indonesia.
