Konten dari Pengguna

Tantangan Generasi Muda Dalam Mempertahankan Identitas Nasional

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yasyfi Aaidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Yasyfi Aaidah

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Slamet Riyadi

dengan tema: Identitas Nasional

sumber: chatgpt (ilustrasi gambar bertema identitas nasional)

Pendahuluan

Globalisasi membuat hidup kita berubah cepat. Sekarang, dari internet dan media sosial, kita bisa mengenal budaya dari berbagai negara hanya melalui ponsel. Musik Korea, film Hollywood, tren pakaian dari luar negeri, sampai makanan khas negara lain sudah sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal tersebut terasa biasa, terutama bagi generasi muda yang akrab dengan teknologi.

Menurut saya, mengenal budaya asing sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Kita bisa mendapatkan hiburan, belajar hal baru, bahkan menemukan ide yang bermanfaat dari budaya lain. Namun, kita juga perlu bertanya pada diri sendiri: apakah kita masih mengenal budaya dan identitas bangsa sendiri? Jangan sampai karena terlalu mengikuti tren luar negeri, kita justru menganggap budaya Indonesia kurang menarik atau ketinggalan zaman.

Identitas nasional bukan berarti kita harus menutup diri dari perkembangan dunia. Justru, identitas nasional bisa menjadi pegangan agar kita tetap mengenal jati diri sebagai bangsa Indonesia, meskipun bergaul dan belajar dari banyak budaya.

Pembahasan

Identitas nasional adalah ciri yang membuat suatu bangsa memiliki jati diri. Di Indonesia, hal ini bisa dilihat dari Pancasila, bahasa Indonesia, sejarah bangsa, serta kebudayaan yang beragam. Kita memiliki banyak suku, bahasa daerah, adat istiadat, tarian, musik, dan tradisi. Semua itu merupakan bagian dari kekayaan Indonesia yang perlu dijaga bersama, termasuk oleh generasi muda.

Saat ini, budaya dari luar negeri memang mudah sekali populer. Banyak anak muda mengikuti musik, film, gaya berpakaian, atau cara berbicara yang sedang tren di media sosial. Menyukai hal-hal tersebut tidak otomatis membuat seseorang kehilangan rasa cinta terhadap Indonesia. Kita tetap bisa menikmati musik luar negeri sambil bangga memakai produk lokal atau belajar tarian daerah. Yang perlu diperhatikan adalah ketika budaya sendiri selalu dianggap kuno dan tidak layak untuk dikenal.

Alfiana dan Najicha (2022) membahas tantangan identitas nasional yang dihadapi generasi muda pada masa globalisasi. Menurut saya, hal ini mengingatkan kita bahwa mengenal budaya sendiri tetap penting di tengah banyaknya pengaruh dari luar. Meski begitu, bukan berarti semua anak muda pasti mengalami krisis identitas. Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda. Pengaruh budaya asing juga bisa memberi manfaat jika kita mampu menyaringnya dengan baik.

Menurut saya, hal yang paling penting adalah bagaimana kita memilih pengaruh yang masuk ke kehidupan kita. Kita tidak harus meniru semua hal dari luar negeri, tetapi juga tidak perlu menolak semuanya. Misalnya, kita bisa mengambil semangat belajar, kedisiplinan, kreativitas, atau kemajuan teknologi dari negara lain. Pada saat yang sama, kita tetap perlu menghargai nilai-nilai yang baik dalam masyarakat Indonesia. Dengan begitu, kita bisa terbuka terhadap hal baru tanpa kehilangan jati diri.

Media sosial juga sebenarnya bisa digunakan untuk memperkenalkan budaya Indonesia. Selama ini, kita sering melihat tren luar negeri muncul di beranda. Namun, konten tentang makanan tradisional, tarian daerah, bahasa lokal, kain tradisional, atau cerita rakyat juga bisa menarik perhatian jika dibuat dengan cara yang kreatif. Anak muda tidak hanya perlu menjadi penonton tren, tetapi juga bisa ikut membuat konten yang memperkenalkan budaya Indonesia kepada orang lain.

Pembahasan mengenai Generasi Z dan identitas budaya yang dicantumkan dalam daftar pustaka juga berkaitan dengan tantangan globalisasi terhadap budaya lokal. Bagi saya, media digital bisa menjadi tantangan sekaligus kesempatan. Jika kita hanya mengikuti apa yang sedang viral, budaya lokal mungkin semakin jarang diperhatikan. Sebaliknya, jika media sosial dimanfaatkan untuk berbagi pengetahuan dan karya, budaya Indonesia bisa dikenal oleh lebih banyak orang, bahkan sampai ke luar negeri.

Menjaga budaya tidak harus dilakukan melalui acara besar. Kita bisa memulainya dari hal sederhana, seperti bertanya kepada keluarga tentang tradisi daerah, belajar beberapa ungkapan dalam bahasa daerah, menonton pertunjukan seni, membaca cerita rakyat, atau membeli produk dari pelaku usaha lokal. Kegiatan seperti ini mungkin terlihat kecil, tetapi bisa membantu budaya tetap dikenal. Menurut saya, budaya akan lebih mudah bertahan jika menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya diingat saat ada perayaan tertentu.

Identitas nasional juga bukan hanya tentang pakaian adat, tarian, atau makanan tradisional. Sikap sehari-hari juga mencerminkan identitas kita, misalnya menghargai perbedaan, menjaga persatuan, menghormati orang lain, dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik sesuai keadaan. Indonesia memiliki banyak latar belakang budaya, sehingga mencintai bangsa sendiri juga berarti menghargai kebudayaan daerah lain. Kita tidak perlu merasa budaya satu daerah lebih baik daripada budaya daerah lainnya.

Pendidikan bisa membantu generasi muda memahami identitas nasional dengan lebih dekat. Pelajaran Pancasila, sejarah, dan kebudayaan sebaiknya tidak hanya dihafalkan untuk ujian. Mahasiswa dan pelajar bisa diajak berdiskusi, melakukan kunjungan budaya, membuat video, atau mencari tahu tradisi yang ada di lingkungan mereka. Dengan cara tersebut, kita bisa melihat bahwa identitas nasional bukan sekadar materi pelajaran, tetapi sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan nyata.

Keluarga dan lingkungan sekitar juga memiliki peran. Cerita dari orang tua atau kakek-nenek, penggunaan bahasa daerah di rumah, serta kegiatan masyarakat bisa membantu kita mengenal asal-usul budaya sendiri. Di sisi lain, pemerintah dan komunitas budaya perlu memberi ruang bagi anak muda untuk berkreasi. Budaya tidak harus selalu diperkenalkan dengan cara yang kaku. Selama makna dan nilai budayanya tetap dihormati, cara penyampaiannya bisa mengikuti perkembangan zaman.

Bagi saya, mencintai Indonesia tidak bisa diukur hanya dari seberapa sering seseorang mengunggah simbol nasional atau seberapa banyak budaya asing yang ia hindari. Rasa cinta itu juga terlihat dari kemauan untuk mengenal bangsa sendiri, menghormati orang lain, menjaga persatuan, dan ikut merawat budaya yang kita miliki. Kita tetap bisa menjadi bagian dari masyarakat dunia tanpa melupakan tanggung jawab sebagai warga Indonesia.

Penutup

Dari uraian tersebut, saya berpendapat bahwa tantangan generasi muda bukanlah memilih antara budaya asing dan budaya Indonesia. Tantangan sebenarnya adalah belajar bersikap bijak ketika menghadapi berbagai pengaruh dari luar, sambil tetap memahami identitas bangsa sendiri. Budaya asing tidak selalu menjadi ancaman karena ada banyak hal yang bisa dipelajari darinya. Namun, kita juga tidak boleh mengabaikan budaya sendiri hanya karena budaya lain sedang populer.

Karena itu, generasi muda perlu lebih mengenal kebudayaan Indonesia dan ikut menjaganya melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Kita boleh mengikuti perkembangan zaman, menyukai musik dari negara lain, atau mencoba hal-hal baru. Yang penting, jangan sampai kita lupa pada jati diri sendiri. Menurut saya, keterbukaan dan rasa bangga terhadap Indonesia bisa berjalan berdampingan.

Daftar Pustaka

Alfiana, H. N., & Najicha, F. U. (2022). Krisis identitas nasional sebagai tantangan generasi muda di era globalisasi. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 9(1), 45–52. https://doi.org/10.32493/jpkn.v9i1.y2022.p45-52

Fitri, A. A., dkk. (2025). Generasi Z dan identitas budaya di Indonesia: Apakah globalisasi mengikis keberagaman budaya lokal? Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar. https://doi.org/10.23969/jp.v10i02.24766

Pamungkas, M. N. C. (2025). Identitas nasional di era globalisasi: Relevansi, transformasi dan strategi penguatan. Maliki Interdisciplinary Journal.