Konten dari Pengguna

Kericuhan Suporter Persija dan Persita: Di Mana Batas Sportivitas?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yazidmisbah Abdillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber foto: Ilustrasi AI dibuat menggunakan ChatGPT.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: Ilustrasi AI dibuat menggunakan ChatGPT.

Pernah terpikir mengapa pertandingan sepak bola yang seharusnya menjadi hiburan justru bisa berakhir dengan kericuhan? Hal inilah yang membuat saya tertarik membahas peristiwa antara suporter Persita Tangerang dan Persija Jakarta di Banten International Stadium (BIS), Kota Serang, pada 17 Oktober 2026.

Sepak bola memang bukan sekadar permainan. Bagi banyak orang, klub yang didukung sudah menjadi bagian dari kebanggaan mereka. Ada yang rela datang jauh-jauh ke stadion, memakai atribut klub, dan bernyanyi bersama suporter lainnya. Namun, dukungan yang seharusnya membawa kegembiraan bisa berubah menjadi masalah ketika persaingan mulai diwarnai ejekan dan emosi yang tidak terkendali.

Ketika Dukungan Berubah Menjadi Kericuhan

Berdasarkan pemberitaan detikNews, ketegangan dalam pertandingan Persita melawan Persija dilaporkan mulai terjadi pada babak pertama di sekitar Gerbang 14. Situasi disebut memanas setelah suporter kedua tim saling mengejek. Ketegangan kembali terjadi saat jeda pertandingan di sekitar Gerbang 5, Gerbang 6, dan Gerbang 7.

Bayangkan jika kita datang ke stadion hanya untuk menonton pertandingan, tetapi tiba-tiba suasana berubah menjadi menegangkan. Penonton yang awalnya ingin mendukung tim kesayangannya justru harus berlarian untuk menyelamatkan diri. Menurut laporan yang sama, kericuhan tersebut menyebabkan 11 orang mengalami luka-luka dan mendapatkan penanganan medis.

Pertandingan sempat tertunda sebelum akhirnya dilanjutkan. Persita Tangerang kemudian dilaporkan menang dengan skor 3–2 atas Persija Jakarta. Namun, bagi saya, skor akhir bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Keselamatan orang-orang di stadion jauh lebih penting daripada kemenangan sebuah tim.

Sepak Bola dan Batas Sportivitas

Menurut saya, mendukung klub sepak bola adalah hal yang wajar. Setiap orang bebas memiliki tim kesayangan dan menunjukkan dukungannya. Masalah muncul ketika rasa cinta terhadap klub membuat seseorang merasa boleh menghina, mengancam, atau menyakiti orang lain.

Bukankah tujuan datang ke stadion adalah menikmati pertandingan dan memberikan semangat kepada pemain? Perbedaan warna jersey seharusnya tidak membuat kita melupakan bahwa orang yang mendukung klub lawan juga memiliki hak untuk merasa aman.

Sportivitas bukan hanya tentang menerima kekalahan atau merayakan kemenangan. Sportivitas juga terlihat dari cara kita memperlakukan orang lain, terutama ketika suasana pertandingan sedang panas. Kita boleh berbeda dukungan, tetapi tidak seharusnya menjadikan perbedaan itu sebagai alasan untuk bermusuhan.

Jika Dilihat dari Sudut Pandang Hukum

Kericuhan ini juga mengingatkan kita bahwa tindakan kekerasan bukan sekadar persoalan emosi atau persaingan antarsuporter. Ada hukum yang harus dihormati oleh setiap orang, termasuk ketika berada di lingkungan stadion.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, termasuk ketentuan Pasal 466 mengenai penganiayaan, dapat menjadi salah satu dasar hukum yang relevan apabila perbuatan yang terjadi terbukti memenuhi unsur tindak pidana tersebut. Meski demikian, penentuan kesalahan harus didasarkan pada bukti dan pemeriksaan terhadap tindakan masing-masing orang.

Selain itu, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan juga relevan dalam membahas penyelenggaraan olahraga yang aman dan bertanggung jawab. Penyelenggara pertandingan perlu mengevaluasi sistem keamanan, pengaturan akses stadion, pemisahan kelompok suporter jika diperlukan, serta kesiapan petugas dalam menghadapi keadaan darurat.

Menurut saya, penanganan kejadian seperti ini tidak cukup hanya dengan mencari siapa yang memulai keributan. Kita juga perlu melihat bagaimana kejadian tersebut bisa berkembang dan langkah apa yang dapat dilakukan agar tidak terulang. Namun, evaluasi terhadap penyelenggara bukan berarti mereka otomatis bersalah. Setiap pihak perlu diperiksa secara objektif sesuai peran dan tanggung jawabnya.

Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?

Ketika terjadi kericuhan, menyalahkan seluruh suporter dari satu klub tentu bukan penyelesaian yang adil. Tindakan seseorang tidak seharusnya langsung dianggap mewakili semua orang yang mendukung klub yang sama.

Suporter perlu belajar mengendalikan emosi dan tidak mudah terpancing provokasi. Klub serta organisasi suporter juga dapat membangun komunikasi yang lebih baik untuk mengingatkan anggotanya agar menjaga ketertiban. Di sisi lain, penyelenggara dan petugas keamanan perlu terus mengevaluasi prosedur pengamanan pertandingan.

Penelitian Bramantio Wisnu Wicaksono (2025) mengenai pemenuhan hak atas keamanan, kenyamanan, dan keselamatan penonton sepak bola di Indonesia, dengan studi kasus Kanjuruhan, juga dapat menjadi bahan pembanding. Meskipun penelitian tersebut tidak secara khusus membahas pertandingan Persita melawan Persija, pembahasannya relevan untuk mengingatkan kita bahwa keselamatan penonton harus menjadi perhatian utama.

Sanksi olahraga dan hukuman pidana pun perlu dibedakan. Sanksi olahraga diberikan berdasarkan peraturan kompetisi yang berlaku, sedangkan pertanggungjawaban pidana ditentukan melalui proses hukum dan alat bukti yang sah. Dengan begitu, penanganan kericuhan dapat dilakukan secara adil tanpa menghakimi kelompok tertentu secara keseluruhan.

Jangan Sampai Sepak Bola Kehilangan Maknanya

Dari kejadian ini, saya merasa kita perlu kembali mengingat alasan orang menyukai sepak bola. Ada semangat kebersamaan, perjuangan pemain, dukungan suporter, dan kebanggaan terhadap klub. Semua itu seharusnya menjadi sesuatu yang menyatukan, bukan justru memisahkan kita.

Kemenangan memang menyenangkan, sedangkan kekalahan terkadang mengecewakan. Namun, keduanya merupakan bagian dari pertandingan. Tidak ada hasil pertandingan yang sebanding dengan risiko keselamatan seseorang.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah pertandingan bukan hanya siapa yang menang dan siapa yang kalah. Pertandingan juga harus menjadi ruang yang aman bagi pemain, suporter, dan seluruh orang yang hadir di stadion.

Kita boleh berbeda klub, berbeda warna, dan berbeda pendapat. Akan tetapi, ketika pertandingan selesai, rasa hormat terhadap sesama manusia seharusnya tetap ada. Sebab, sepak bola akan jauh lebih berarti jika persaingan tetap berjalan tanpa kekerasan.