Ketika Sampah Menggunung dan Kita Belajar untuk Pasrah

Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Yeona Arsilenda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teman teman pernah merasa kesal melihat tumpukan sampah di jalan, tapi lama lama perasaan itu berubah jadi biasa saja? Awalnya mungkin jijik, marah, atau ingin protes. Namun setelah berhari hari bahkan berminggu minggu, rasa kesal itu perlahan memudar. Sampah masih ada, bau masih tercium, tapi kita memilih lewat begitu saja seolah tidak terjadi apa apa.
Fenomena ini bukan semata soal kebiasaan atau sikap cuek. Dalam psikologi, ada penjelasan mengapa manusia bisa berhenti bereaksi terhadap kondisi buruk yang terus berulang. Kondisi ini dikenal sebagai learned helplessness, atau ketidakberdayaan yang dipelajari.
Learned helplessness adalah keadaan ketika seseorang merasa apa pun yang ia lakukan tidak akan mengubah situasi. Perasaan ini biasanya muncul setelah seseorang berkali kali mengalami kekecewaan, hingga akhirnya berhenti berharap. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena terlalu sering merasa gagal.
Dalam konteks krisis sampah di ruang publik, proses ini bisa terjadi tanpa kita sadari.
Dari Marah ke Diam
Ketika masalah sampah pertama kali muncul, respons warga biasanya cukup kuat. Ada keluhan, unggahan di media sosial, hingga tuntutan agar masalah segera diselesaikan. Sampah dipandang sebagai gangguan yang tidak seharusnya ada di ruang hidup bersama.
Namun ketika kondisi itu terus berulang dan tidak kunjung berubah, respons emosional mulai bergeser. Otak manusia sangat peka terhadap pola. Saat kita melihat bahwa keluhan tidak membawa dampak nyata, otak perlahan menyimpulkan satu hal penting, usaha kita tidak berarti.
Dari sini, rasa marah berubah menjadi lelah. Lelah berubah menjadi pasrah. Kita tetap terganggu, tetapi tidak lagi bereaksi sekeras sebelumnya. Inilah inti dari learned helplessness. Bukan karena warga kehilangan kepedulian, melainkan karena pengalaman mengajarkan bahwa kepedulian sering kali tidak menghasilkan perubahan.
Pasrah Bukan Berarti Baik Baik Saja
Banyak orang mengira sikap pasrah adalah tanda ketenangan. Padahal secara psikologis, pasrah yang lahir dari ketidakberdayaan justru bisa berdampak negatif. Ketika seseorang merasa tidak memiliki kendali atas lingkungannya, tingkat stres justru bisa meningkat secara perlahan.
Masalahnya, stres ini tidak selalu muncul dalam bentuk kemarahan. Ia bisa hadir sebagai kelelahan mental, apatis, atau perasaan hampa. Lingkungan yang kotor dan tidak tertangani juga membuat otak terus berada dalam kondisi siaga rendah, seolah ada ancaman kecil yang tidak pernah benar benar hilang.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental dan cara seseorang memandang ruang publik. Kota tidak lagi terasa sebagai tempat yang layak dirawat bersama, melainkan sekadar ruang yang harus dilewati.
Ketika Ketidakberesan Menjadi Normal
Salah satu dampak paling halus dari learned helplessness adalah normalisasi. Hal yang awalnya mengganggu lama lama dianggap wajar. Sampah yang dulu memicu emosi kini hanya menjadi bagian dari pemandangan sehari hari.
Normalisasi ini berbahaya karena menurunkan standar kepedulian kolektif. Ketika kekacauan diterima sebagai hal biasa, dorongan untuk memperbaiki juga ikut melemah. Bukan hanya dari warga, tetapi juga dari sistem yang melihat minimnya tekanan publik.
Di titik ini, masalah sampah tidak lagi sekadar persoalan kebersihan, tetapi persoalan psikologis tentang hilangnya rasa kendali dan harapan.
Belajar Berdaya Kembali
Memahami learned helplessness penting agar kita tidak keliru menilai sikap diam masyarakat sebagai ketidakpedulian. Diam sering kali merupakan hasil dari terlalu banyak berharap dan terlalu sering kecewa.
Psikologi juga menunjukkan bahwa rasa berdaya bisa tumbuh kembali ketika individu melihat adanya respons nyata dan perubahan kecil yang konsisten. Ketika usaha terasa bermakna, harapan perlahan dapat pulih.
Krisis sampah mungkin terlihat sebagai persoalan teknis, tetapi dampaknya menyentuh lapisan psikologis yang dalam. Ia mengajarkan bagaimana manusia bisa belajar pasrah terhadap kondisi yang sebenarnya tidak layak diterima.
Dengan memahami proses ini, kita dapat mulai melihat bahwa menjaga lingkungan bukan hanya soal membersihkan sampah, tetapi juga soal merawat rasa berdaya dan harga diri kolektif sebagai warga kota.
