Konten dari Pengguna

Ketika Sampah Bertutur, Siapa Sebenarnya yang Lebih Kotor: Sampah atau Manusia?

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yoga Rifai Hamzah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan jika suatu hari sampah bisa berbicara. Apa yang akan diceritakan sebotol plastik yang kita buang sembarangan? Apa kesaksian selembar kertas yang selama ini hanya dianggap sebagai limbah? Atau, jangan-jangan, sampah justru akan membongkar berbagai kebohongan, keserakahan, dan praktik kotor yang selama ini disembunyikan manusia?

Poster Monolog Sampah Bertutur, Sumber poster atas ijin panitia
zoom-in-whitePerbesar
Poster Monolog Sampah Bertutur, Sumber poster atas ijin panitia

Pertanyaan itu bukan sekadar imajinasi. Sabtu malam, 31 Oktober 2026, di Aula Universitas Pekalongan, komunitas Teater Reakses menghadirkan sebuah pertunjukan yang cukup berani: Sampah Bertutur. Sebuah monolog teaterikal yang menjadikan sampah bukan sekadar benda mati, melainkan tokoh yang memiliki suara, cerita, bahkan gugatan terhadap manusia.

Melalui akting Nur Aya’ Rozak, di bawah arahan sutradara Ahmad Bukhori dan naskah Abror Y. Prabowo, penonton diajak memasuki dunia seorang pemulung yang memiliki kemampuan mendengar cerita dari sampah-sampah yang ditemuinya. Dari sebuah botol air mineral yang menceritakan perjalanan hingga berakhir di tempat penampungan, sampai kertas dokumen yang mengungkap laporan palsu dan rekayasa keuangan. Ada pula sampah kondom yang menjadi simbol transaksi dan lobi-lobi keputusan, serta benda-benda lain yang membuka sisi gelap kehidupan manusia.

Cerita itu disampaikan dengan pendekatan satir. Penonton tidak hanya diajak melihat persoalan sampah, tetapi juga menemukan ironi bahwa benda-benda yang kita anggap kotor ternyata menyimpan cerita tentang kebusukan perilaku manusia. Kertas yang semestinya menjadi alat pencatat kebenaran justru menjadi saksi manipulasi. Benda yang dibuang menjadi metafora tentang praktik-praktik yang merusak kehidupan sosial.

Pada bagian akhir, sampah-sampah itu bahkan bersepakat untuk berevolusi. Sebuah gambaran surealis yang menyisakan pertanyaan: bagaimana jika sesuatu yang selama ini kita abaikan justru berbalik menjadi ancaman bagi kehidupan kita sendiri?

Di titik ini, Sampah Bertutur berhasil membawa persoalan lingkungan keluar dari batas pembicaraan tentang kebersihan.

Sampah Adalah Cermin Kebudayaan

Selama ini, ketika berbicara tentang sampah, pikiran kita hampir selalu tertuju pada tempat pembuangan akhir, sungai yang tercemar, plastik yang berserakan, atau persoalan pengangkutan yang tidak kunjung selesai. Kita sibuk membicarakan bagaimana sampah dibuang dan dipindahkan, tetapi sering lupa bertanya mengapa masyarakat terus-menerus memproduksi sampah dalam jumlah besar dan bagaimana sistem kita mengelolanya.

Padahal, sampah bukan hanya persoalan lingkungan. Ia juga merupakan cermin kebudayaan.

Cara seseorang memperlakukan sampah memperlihatkan bagaimana ia memahami ruang bersama dan tanggung jawab sosial. Orang yang membuang sampah ke sungai mungkin merasa urusannya selesai ketika sampah itu tidak lagi terlihat. Padahal, persoalannya baru saja berpindah kepada orang lain: masyarakat yang tinggal di hilir, lingkungan yang tercemar, bahkan generasi berikutnya yang harus menanggung akibatnya.

Pola pikir semacam ini sesungguhnya tidak hanya ditemukan dalam persoalan sampah. Kita juga menjumpainya dalam kehidupan sosial dan penyelenggaraan pemerintahan. Ada kebiasaan memindahkan masalah tanpa menyelesaikannya, menutupi persoalan dengan laporan yang terlihat baik, atau menghindari tanggung jawab ketika dampak sebuah keputusan mulai terasa.

Karena itu, menarik ketika dalam pertunjukan ini sampah kertas diberi cerita tentang manipulasi laporan dan rekayasa keuangan. Sampah menjadi semacam saksi yang menghubungkan persoalan ekologis dengan persoalan integritas. Seolah-olah pertunjukan ini ingin mengatakan bahwa kebusukan tidak selalu terlihat dari sesuatu yang berserakan. Ada pula kebusukan yang tersimpan rapi di balik dokumen, keputusan, dan perilaku manusia.

Inilah yang membuat pertunjukan tersebut relevan untuk direnungkan lebih jauh. Persoalan lingkungan pada akhirnya berkaitan dengan cara kita membangun kebudayaan: apakah kita terbiasa bertanggung jawab atau justru pandai melemparkan tanggung jawab kepada pihak lain?

Jangan Hanya Menyalahkan Masyarakat

Kita sering mendengar imbauan agar masyarakat mengurangi plastik, memilah sampah, dan tidak membuang sampah sembarangan. Semua itu penting. Namun, rasanya tidak adil jika persoalan sampah terus-menerus dibebankan kepada perilaku individu, sementara sistem pengelolaannya belum sepenuhnya mampu menjawab persoalan dari hulu hingga hilir.

Masyarakat bisa saja mulai memilah sampah dari rumah, tetapi apakah tersedia sistem pengangkutan yang mendukung? Sampah organik dan anorganik bisa dipisahkan, tetapi apakah fasilitas pengolahannya tersedia dan berfungsi? Kita juga bisa mengajak warga mengurangi penggunaan plastik, tetapi bagaimana dengan sistem produksi dan perdagangan yang masih sangat bergantung pada kemasan sekali pakai?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita pada tanggung jawab yang lebih besar, yaitu tanggung jawab negara dan dunia usaha. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah telah memberikan landasan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan penanganan, tetapi juga pengurangan. Artinya, pemerintah tidak cukup hanya memastikan sampah terangkut dan tidak menumpuk di jalanan. Harus ada kebijakan yang mendorong pengurangan dari sumbernya, pemilahan, pengolahan, pemanfaatan kembali, hingga penanganan residu.

Pemerintah daerah juga perlu membangun sistem pengelolaan yang transparan dan terukur. Masyarakat berhak mengetahui berapa volume sampah yang dihasilkan, berapa kapasitas pengolahan yang tersedia, bagaimana penggunaan anggaran, serta sejauh mana target pengurangan sampah tercapai. Dunia usaha pun harus ikut bertanggung jawab terhadap dampak produk dan kemasan yang dihasilkannya.

Negara tidak boleh sekadar menjadi pengangkut sampah. Negara harus hadir sebagai pengatur, pengawas, sekaligus pelindung kepentingan ekologis masyarakat. Sebab, persoalan lingkungan tidak akan selesai hanya dengan memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain.

Seni Bisa Menggerakkan Kesadaran

Penampilan memukai Nur Ayak Rozak. Sumber foto koleksi pribadi

Hal menarik lainnya dari Sampah Bertutur adalah bagaimana persoalan lingkungan disampaikan melalui bahasa seni. Karya yang dikembangkan berdasarkan riset mengenai persoalan sampah di Kabupaten Pemalang, Kabupaten Batang, dan Kota Pekalongan ini sebelumnya dipentaskan di Taman Kota Comal pada 23 Oktober 2026. Pementasan perdana tersebut menarik sekitar 300 penonton dari berbagai kalangan.

Pendekatan teater instalasi rupa sampah membuat benda-benda yang biasanya kita singkirkan justru menjadi bagian penting dari pertunjukan. Sampah tidak sekadar menjadi properti panggung, tetapi menjadi bahasa visual yang membawa pesan. Sutradara Ahmad Bukhori dan penulis naskah Abror Y. Prabowo memilih pendekatan satir agar kritik lingkungan tidak terasa seperti ceramah.

Menurut saya, pendekatan seperti ini penting dikembangkan. Tidak semua persoalan publik harus disampaikan melalui seminar, sosialisasi, atau kampanye formal. Seni memiliki cara tersendiri untuk mengetuk kesadaran. Data dapat menjelaskan besarnya persoalan sampah, tetapi pertunjukan seperti ini membuat kita merasakan dan merenungkan persoalan tersebut melalui pengalaman artistik.

Setelah pementasan di Aula Univeritas Pekalongan, ruang refleksi juga dilanjutkan melalui diskusi publik bertajuk "Sampah dan Wajah Kebudayaan Kita Hari Ini". Forum yang dipandu Muhammad Burhan tersebut menghadirkan budayawan DS Priyadi, praktisi pendidikan sekaligus pemerhati lingkungan Suyatmin Widodo, S.Pd., M.Pd., serta perwakilan Pemerintah Kota Pekalongan. Pertemuan antara seni, pendidikan, lingkungan, dan pemerintah ini menjadi penting karena perubahan ekologis memang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Diskusi Publik Sampah dan Wajah Kebudayaan Kita Hari Ini. sumber foto koleksi pribadi

Dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana 2025 terhadap penciptaan karya kreatif inovatif seperti ini juga patut diapresiasi. Kerja kebudayaan seharusnya tidak hanya diukur dari banyaknya pertunjukan atau festival yang diselenggarakan, tetapi juga dari sejauh mana karya mampu menghadirkan percakapan baru dan mendorong perubahan di masyarakat.

Setelah Pertunjukan, Apa yang Berubah?

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa bagus sebuah pertunjukan dimainkan atau seberapa ramai penonton yang hadir. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah lampu panggung dipadamkan dan penonton kembali ke rumah masing-masing.

Apakah kita akan kembali membuang sampah tanpa berpikir ke mana perginya? Apakah pemerintah akan kembali menjalankan rutinitas pengangkutan tanpa memperbaiki sistem pengelolaan? Apakah sekolah hanya akan mengajarkan kebersihan sebagai slogan, tanpa membangun kesadaran ekologis sebagai bagian dari karakter peserta didik?

Jangan sampai Sampah Bertutur hanya menjadi pertunjukan yang selesai ketika tirai ditutup. Pesan yang dibawanya semestinya berlanjut menjadi percakapan di rumah, sekolah, komunitas, ruang kebijakan, dan kehidupan sehari-hari.

Sebab, persoalan sampah sesungguhnya bukan hanya tentang benda yang kita buang, tetapi tentang tanggung jawab yang sering kali kita tinggalkan. Kita bisa membersihkan halaman, mengangkut sampah, bahkan memindahkannya jauh dari permukiman. Namun, selama cara berpikir dan sistem yang menghasilkan persoalan itu tidak berubah, kita hanya sedang memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.

Barangkali, itulah gugatan paling keras dari pertunjukan ini: jika sampah saja bisa bersaksi tentang kebusukan manusia, masihkah kita merasa diri kita bersih hanya karena sampah itu tidak lagi terlihat?