AI di Kalangan Mahasiswa Hukum: Membantu Belajar atau Menjadi Ketergantungan?
Tulisan dari Yogi Nur Afiandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi mahasiswa di zaman sekarang rasanya berbeda dengan mahasiswa beberapa tahun lalu. Ketika mendapatkan tugas kuliah, saya tidak harus selalu menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari bahan dari satu buku ke buku lainnya. Sekarang, berbagai informasi dapat ditemukan dengan bantuan teknologi, termasuk Artificial Intelligence atau AI.
Sebagai mahasiswa hukum, saya sendiri melihat AI sebagai sesuatu yang cukup membantu dalam proses belajar. Ketika menemukan istilah hukum yang sulit dipahami, saya bisa meminta penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana. Ketika mendapat tugas dan belum mengetahui harus memulai dari mana, AI juga bisa membantu memberikan gambaran awal.
Tetapi semakin sering menggunakan AI, muncul satu pertanyaan dalam pikiran saya: apakah teknologi ini benar-benar membantu saya belajar, atau justru perlahan membuat saya malas berpikir?
Ketika Tugas Kuliah Bisa Selesai Lebih Cepat
Saya rasa banyak mahasiswa pernah berada dalam situasi ketika tugas kuliah datang bersamaan. Belum selesai tugas yang satu, sudah ada tugas lain yang menunggu.
Dalam kondisi seperti itu, AI tentu terasa sangat membantu.
Kita bisa meminta AI menjelaskan suatu materi, membuat contoh pertanyaan, membantu menyusun kerangka tulisan, atau memberikan gambaran mengenai suatu permasalahan.
Bagi saya, kemudahan tersebut bukan sesuatu yang harus ditolak.
Justru teknologi dapat membuat proses belajar menjadi lebih fleksibel. Ketika dosen menjelaskan suatu materi dan saya masih belum memahami bagian tertentu, saya dapat mencari penjelasan tambahan melalui AI. Setelah itu, saya tetap bisa kembali membaca buku, jurnal, peraturan, atau bahan kuliah untuk memastikan pemahaman saya.
Masalahnya muncul ketika kemudahan tersebut membuat kita tidak mau lagi melakukan proses berikutnya.
Misalnya, mendapatkan tugas dari dosen, memasukkan pertanyaannya ke AI, kemudian langsung menyalin jawabannya.
Tugas memang selesai.
Tetapi saya kemudian berpikir, kalau seluruh proses berpikir sudah dikerjakan AI, sebenarnya apa yang saya pelajari?
Sebagai Mahasiswa Hukum, Saya Tidak Bisa Hanya Percaya pada Jawaban Instan
Hal tersebut menjadi semakin penting ketika belajar hukum.
Dalam ilmu hukum, sebuah jawaban biasanya tidak berdiri sendiri. Ada peraturan yang menjadi dasar, ada teori yang harus dipahami, ada pendapat para ahli, dan dalam beberapa persoalan ada putusan pengadilan yang perlu diperhatikan.
Karena itu, menurut saya, AI sebaiknya tidak dijadikan sebagai sumber hukum utama.
Contohnya, ketika saya mencari penjelasan mengenai suatu pasal, saya tetap harus melihat peraturan perundang-undangan yang sebenarnya. Begitu juga ketika membahas sebuah putusan pengadilan, saya perlu melihat sumber resmi dan memahami konteks putusannya.
AI bisa membantu menjelaskan.
Tetapi mahasiswa tetap harus melakukan pemeriksaan.
Ini penting karena jawaban AI tidak selalu sempurna. Bisa saja informasi yang diberikan kurang lengkap, konteksnya berbeda, atau aturan yang digunakan sudah mengalami perubahan.
Sebagai mahasiswa hukum, kemampuan untuk memeriksa dan membandingkan sumber justru merupakan bagian dari proses belajar.
AI Sebagai Teman Diskusi, Bukan Pengganti Dosen atau Buku
Saya lebih melihat AI sebagai teman diskusi.
Misalnya, setelah membaca materi tentang suatu hukum tertentu, saya bisa bertanya kepada AI mengenai contoh kasusnya. Saya juga bisa meminta AI memberikan pertanyaan untuk menguji apakah saya benar-benar memahami materi tersebut.
Cara seperti ini menurut saya lebih bermanfaat daripada sekadar meminta jawaban jadi.
Ketika kita mencoba menjawab sendiri, kemudian menggunakan AI untuk melihat kekurangan dari jawaban tersebut, kita masih melakukan proses berpikir.
AI membantu kita belajar, bukan mengambil alih proses belajar.
Hal yang sama juga berlaku ketika membuat tugas. AI bisa membantu mencari ide atau menyusun kerangka awal, tetapi isi akhirnya tetap harus dipahami dan dikembangkan oleh mahasiswa.
Sebab, ketika dosen bertanya kembali mengenai tugas yang kita buat, kita harus mampu menjelaskan dengan pemahaman sendiri.
Jangan Sampai Kemudahan Teknologi Membuat Kita Kehilangan Kebiasaan Membaca
Ada satu hal yang menurut saya perlu mendapat perhatian lebih besar: kebiasaan membaca.
Sebagai mahasiswa, kita tetap harus membaca buku, jurnal, peraturan, dan berbagai sumber lainnya. Jangan sampai karena adanya AI, kita hanya membaca jawaban singkat yang diberikan teknologi.
Padahal, terkadang pemahaman justru muncul setelah membaca sesuatu secara lebih panjang dan mendalam.
Bagi mahasiswa hukum, membaca bukan sekadar kewajiban. Membaca merupakan bagian dari cara memahami bagaimana suatu aturan dibuat, bagaimana suatu pendapat dibangun, dan bagaimana sebuah masalah hukum dianalisis.
AI dapat membantu mempercepat proses pencarian informasi, tetapi kemampuan membaca dan memahami tetap harus kita miliki.
Jadi, Apakah AI Membuat Mahasiswa Malas?
Menurut saya, jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak.”
AI adalah alat. Bagaimana dampaknya sangat bergantung pada bagaimana kita menggunakannya.
Kalau AI digunakan untuk memahami materi yang sulit, mencari ide, berlatih menjawab pertanyaan, atau berdiskusi, teknologi tersebut dapat membantu proses belajar.
Namun, jika AI digunakan untuk menggantikan seluruh proses membaca, berpikir, dan menganalisis, tentu ada risiko mahasiswa menjadi terlalu bergantung pada teknologi.
Karena itu, sebagai mahasiswa, saya merasa kita tidak perlu takut terhadap perkembangan AI. Kita justru perlu belajar menggunakannya dengan bijak.
Bagi saya, ukuran keberhasilan belajar bukan seberapa cepat kita mendapatkan jawaban dari AI.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah setelah mendapatkan jawaban tersebut kita benar-benar memahami alasannya.
Pada akhirnya, teknologi boleh semakin pintar. AI boleh memberikan jawaban dalam hitungan detik.
Tetapi mahasiswa tetap harus membaca, bertanya, menganalisis, dan berpikir.
Karena kita kuliah bukan hanya untuk mendapatkan nilai dan menyelesaikan tugas.
Kita kuliah untuk belajar menjadi manusia yang mampu berpikir dan mempertanggungjawabkan pikirannya sendiri.

