Konten dari Pengguna

Dinamika Sound Horeg Sebagai "Tradisi"

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yohanes Ariel Harsono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto ilustrasi sound horeg. Sumber: Arsip pribadi Yohanes Ariel
zoom-in-whitePerbesar
Foto ilustrasi sound horeg. Sumber: Arsip pribadi Yohanes Ariel

Belakangan ini, fenomena sound horeg menjadi topik yang sangat ramai diperbincangkan di tengah masyarakat. Bulan Agustus kerap menjadi momen yang paling dinanti-nanti oleh para penikmat maupun penyedia sound horeg, karena euforia perayaan kemerdekaan dianggap sebagai sarana yang logis untuk menggelar acara tersebut sebagai bagian dari “tradisi”. Namun, di balik dentuman bass yang menggetarkan dada dan tak jarang memicu polarisasi opini publik, terdapat sebuah realitas sosial yang menarik untuk dibedah. Perayaan audio berskala masif ini sejatinya bukan sekadar ajang unjuk gigi teknologi atau hiburan semata, melainkan sebuah panggung nyata yang memperlihatkan kompleksitas interaksi manusia. Jika dibahas lebih dalam, mulai dari tingginya solidaritas di dalam komunitas, kuatnya sentimen kolektif yang terbangun, hingga munculnya gesekan dengan pihak luar yang merasa terganggu, fenomena ini memberikan pandangan yang sangat relevan untuk mengkaji bagaimana dinamika kelompok bekerja, berbenturan, dan pada akhirnya membentuk identitas bersama.

Kita perlu menyadari bahwa keberadaan suatu kelompok tidak selalu berdampak positif karena berkumpulnya massa dalam skala besar sering membuat individu kehilangan batas personal dan menjadi anonim sehingga mereka lebih berani melakukan tindakan gaduh hingga melanggar ketertiban umum. Kondisi ini menjelaskan mengapa kerumunan pengiring sound horeg dapat bertindak di luar kendali seperti mengokupasi jalan raya atau mengabaikan kerusakan sekitar tanpa beban rasa bersalah, terlebih lagi perilaku impulsif dan antisosial ini dengan mudah menular melalui efek pemodelan serta dinormalisasi oleh validasi kolektif. Selain memicu hilangnya kendali personal, kuatnya sentimen kebersamaan dalam komunitas ini melahirkan tekanan konformitas yang mengikis empati terhadap pihak luar, sebagaimana dijelaskan melalui perspektif bahaya kelompok David W. Johnson dan Frank P. Johnson serta teori tekanan peran Stanley Milgram. Tuntutan untuk tampil solid demi kelompok membuat konformitas berujung ekstrem hingga mengancam identitas individu, yang pada akhirnya mengurai alasan mengapa berbagai keluhan warga atas kerusakan dan kebisingan justru diabaikan, ditertawakan, atau bahkan dibalas dengan intimidasi. Semua dinamika psikologis ini mengonfirmasi premis bahwa kelompok dapat menjadi tempat suburnya ketidakadilan dan perundungan, di mana euforia kebersamaan justru bergeser menjadi pembenaran kolektif untuk merampas kenyamanan ruang publik demi kepuasan satu pihak.

Realitas dari tekanan psikologis dan invasi ruang publik ini terekam jelas melalui pengalaman JAS. Meskipun tidak pernah sekalipun berpartisipasi atau menonton parade tersebut, JAS mengaku sangat terganggu oleh kehadiran sound horeg. Kebisingan yang memekakkan telinga secara langsung merusak fokusnya saat bekerja, sementara penutupan jalan secara sepihak telah menciptakan kemacetan yang merampas hak mobilitas masyarakat luas. Ironisnya, di tengah keresahan tersebut, JAS memilih untuk menahan diri dan tidak pernah melayangkan protes. Ia merasa tidak memiliki otoritas untuk menegur karena menganggap bahwa "itu adalah acara mereka". Kebungkaman JAS ini menjadi bukti nyata bagaimana dominasi kerumunan secara halus berhasil mengintimidasi dan menekan individu untuk pasrah pada keadaan. Bagi JAS, euforia sound horeg tidak bisa lagi dimaklumi atau berlindung di balik tameng tradisi. Ia secara rasional berpandangan bahwa acara semacam ini sebenarnya sah-sah saja dilakukan, asalkan direlokasi ke tempat yang memang semestinya seperti lapangan terbuka yang jauh dari permukiman sehingga tidak perlu memblokir jalan umum, dan durasi pelaksanaannya dibatasi cukup satu hari saja demi mengembalikan hak kenyamanan warga.

Pada akhirnya, fenomena sound horeg tidak bisa lagi dipandang sebelah mata sebagai sekadar hiburan rakyat atau perayaan euforia kemerdekaan semata. Realitas yang terjadi justru memperlihatkan bagaimana arogansi kelompok dan tekanan konformitas dapat merampas ruang publik serta membungkam suara-suara individu yang terpinggirkan. Solusi yang ditawarkan oleh JAS sejatinya adalah jalan tengah yang paling rasional, yaitu mengembalikan fungsi jalan raya sebagaimana mestinya tanpa harus mematikan kebebasan berekspresi komunitas tersebut. Sudah saatnya pemerintah daerah dan aparat penegak hukum mengambil sikap tegas melalui regulasi yang terukur, seperti merelokasi acara ke lapangan terbuka yang jauh dari permukiman padat, membatasi durasi maksimal menjadi satu hari, serta menerapkan ambang batas desibel yang aman. Sebuah perayaan hanya pantas disebut sebagai tradisi dan hiburan rakyat apabila ia mampu membawa kegembiraan bersama, bukan ketika ia dipaksakan melalui penderitaan dan perampasan hak kenyamanan orang lain.

Sumber

Johnson, D. W., & Johnson, F. P. (2017). Joining together: Group theory and group skills (12th ed.). Pearson.