Kejahatan Epstein Terbongkar karena Polisi Mau Repot Ngubek-ngubek Sampah

Jurnalis - Alumnus Hubungan Internasional Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed)
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari Yopi Makdori tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kasus Jeffrey Epstein tidak ada habis-habisnya membuat geger publik. Terbaru, lebih dari tiga juta halaman dokumen, ratusan ribu foto, dan ribuan video kasus Jeffrey Epstein kini terbuka untuk diplototin warga. Angka-angka itu bukan sekadar statistik penyelidikan, melainkan pintu masuk untuk melihat sisi gelap lingkaran kekuasaan global yang selama ini hanya terdengar sebagai bisik-bisik konspirasi.
File-file ini membuat orang berpikir, “oh... konspirasi itu benaran ada!” Sebab jutaan dokumen ini memuat email dan komunikasi yang menyebut sejumlah figur publik dan elite, termasuk nama-nama seperti Elon Musk, Bill Gates, dan Steve Bannon (si orkestrator sayap kanan di Amerika). Meskipun penyebutan mereka bukan bukti keterlibatan kriminal, tapi menegaskan kuatnya jaringan di lingkaran penjahat seksual itu.
Tapi Anda tahu, kasus yang mengguncang publik Amerika ini ternyata bisa terbongkar lantaran polisi mau repot “negorek-ngorek” sampah milik Epstein. Kita mesti bertandang ke 2005, saat itu petugas bernama Michelle Pagan (menjabat sebagai Detektif di Departemen Kepolisian Palm Beach, Florida) bersama atasannya, Kepala Polisi Michael Reiter memimpin penyelidikan kasus Epstein.
Penyelidikan serius itu dilakukan buntut gadis 14 tahun bernama Mery berkelahi di sekolah. Saat digeledah, dia ketahuan membawa uang $300 (sekarang sekitar Rp5 jutaan). Jelas pihak sekolah curiga, Mery yang baru berusia 14 tahun membawa uang sebanyak itu untuk apa?
Mery merupakan gadis yang memberikan layanan “pijat” buat Epstein. Ia direkrut oleh seorang wanita bernama Wendy Dobbs (juga nama samaran) dengan janji mendapatkan uang yang besar hanya dengan memberikan layanan tersebut.
Tekanan dari psikolog sekolah dan orang tuanya akhirnya membuat Mary tidak tahan dan menceritakan semuanya. Laporan inilah yang memicu bola salju investigasi yang terus menggelinding.
James Patterson bersama dua penulis lainnya lewat buku “Filthy Rich” (2016) menceritakan, kedua petugas tersebut menggunakan metode detektif yang cerdas, salah satunya adalah "trash pull," yang mana mereka benar-benar mengubek-ubek sampah Epstein.
"Recarey [Joe Recarey, detektif dari Departemen Kepolisian Palm Beach] and Pagan had already begun what is known in the trade as a 'trash pull.' It is exactly what it sounds like. Under the cover of darkness, police detectives wait for the garbage to be put out on the curb, then they swoop in and take it before the sanitation trucks arrive. Because it has been left on public property, it is no longer private, and no search warrant is required. It is a dirty, smelly, but often effective way of gathering evidence."
Terjemahan:
"Recarey dan Pagan telah memulai apa yang dalam dunia kepolisian dikenal sebagai 'trash pull' (penarikan sampah). Istilah ini menggambarkan apa adanya. Di bawah kegelapan malam, detektif polisi menunggu sampah diletakkan di pinggir jalan, lalu mereka menyergap dan mengambilnya sebelum truk sampah tiba. Karena sampah tersebut telah diletakkan di properti publik, ia tidak lagi bersifat pribadi, dan surat perintah penggeledahan tidak diperlukan. Ini adalah cara mengumpulkan bukti yang kotor dan berbau, tetapi sering kali efektif."
Mereka bekerja sama dengan petugas kebersihan bernama Noel St. Pierre. Setiap kali truk sampah datang ke rumah Epstein, Noel diam-diam memisahkan kantong sampahnya untuk diberikan kepada polisi.
Salah satu kasus terbesar abad ini pecah bukan karena peretasan canggih, tetapi karena polisi mau repot-repot membongkar sampah. Dari sampah itulah mereka menemukan harta karun berupa secarik kertas berisi daftar nama, termasuk nama Wendy Dobbs dan Mary.
Titik balik datang dari kesaksian korban lain, sebut saja Allison. Dia memberikan detail yang sangat mengerikan tentang pelecehan yang semakin parah. Dia bahkan mengatakan kepada polisi, "Jeffrey akan menangkapku atau tidak aman sekarang." Ketakutannya nyata dan menjadi bahan bakar bagi para detektif.
Dengan bukti dari sampah dan kesaksian Allison, polisi menekan Wendy Dobbs. Dalam interogasi yang direkam, dia akhirnya hancur dan mengakui semuanya. Dia mengatakan Epstein suka gadis yang "semakin muda, semakin baik," dan dengan sombongnya menyamakan dirinya dengan Heidi Fleiss, mucikari terkenal di Hollywood.
Asal-Usul Kekuasaan Epstein
Polisi memiliki bukti fisik dari sampah, pengakuan dari perekrut, dan kesaksian korban yang detail. Kasusnya tampak sangat kuat, namun mereka berhadapan dengan orang yang super kaya dengan koneksi di mana-mana.
Dari mana sebenarnya semua uang dan kekuasaan Epstein berasal?
Epstein digambarkan sebagai anak jenius matematika dari Brooklyn yang melompati dua kelas. Namun yang mengejutkan adalah dia pernah menjadi guru Fisika di Dalton School (salah satu sekolah paling elite di Manhattan) tanpa memiliki gelar sarjana.
Bagaimana bisa sekolah sekelas Dalton tidak memeriksa latar belakang pengajarnya? Ini menunjukkan bahwa sejak awal, Epstein memiliki bakat luar biasa untuk memanipulasi sistem. Dia bisa menjual citra dirinya sebagai jenius yang tidak terikat aturan biasa.
Bakat itu kemudian membawanya ke Wall Street. Titik baliknya adalah saat dia bertemu Ace Greenberg, bos firma investasi Bear Stearns. Greenberg terkenal suka merekrut orang-orang yang dia sebut "PSD" atau Poor, Smart, and Determined (Miskin, Cerdas, dan Penuh Tekad). Epstein adalah poster boy untuk kriteria itu, dan kariernya langsung meroket.
Setelah keluar dari Bear Stearns, Epstein membuat firma sendiri dengan model bisnis yang eksklusif yang hanya melayani klien miliarder. Salah satu klien awalnya adalah aktris Spanyol Ana Obregon. Dia membantu mengembalikan jutaan dolar untuk ayahnya, dan sejak itu reputasinya sebagai "penyihir keuangan" untuk kaum superkaya menyebar ke mana-mana.
Namun sumber utama kekuasaannya adalah hubungannya dengan Leslie Wexner, miliarder di balik merek raksasa seperti Victoria's Secret. Epstein menjadi manajer keuangannya, tetapi hubungan mereka lebih dari itu, bahkan digambarkan sebagai hampir tak terpisahkan semacam jari dengan kukunya.
Koneksi dengan Wexner memberikan Epstein dua hal paling berharga, pertama kredibilitas finansial yang tidak terbantahkan, dan kedua yang lebih penting, akses ke lingkaran elite global (dari pangeran, politisi, hingga ilmuwan pemenang Nobel). Dia membangun citra sebagai pusat dari jaringan orang-orang paling berkuasa di dunia.
Intimidasi dan Tekanan
Dengan latar belakang kekuasaan seperti itu, tekanan yang dihadapi polisi Palm Beach bisa dibayangkan. Ini setara “Kapolsek Metro” di area elite Jakarta lagi menangani kasus kakap. Sebab mereka bukan hanya melawan satu orang, tetapi semacam imperium tak kasat mata.
Kepala Polisi Reiter mulai merasakannya. Orang-orang berpengaruh di sirkuit pesta koktail Palm Beach mulai berbisik, menyarankannya untuk mundur dari kasus ini. Yang lebih parah, tim pengacara Epstein menyewa detektif swasta untuk menyelidiki latar belakang para detektif yang menangani kasusnya.
Mereka membalikkan keadaan, penyelidik malah diselidiki. Ini adalah taktik intimidasi klasik yang digunakan oleh mereka yang memiliki sumber daya tak terbatas. Mereka mencari-cari kesalahan untuk mendiskreditkan penegak hukum.
Taktik itu mulai berhasil di tingkat lokal. Proses hukumnya menjadi aneh. Menurut Reiter, kasus ini diserahkan ke Grand Jury, langkah yang sebenarnya tidak biasa dan bisa jadi cara untuk mengendalikan narasi dan hasil akhirnya. Grand Jury ini terdiri dari sekelompok warga sipil yang ditugaskan untuk menentukan apakah ada cukup bukti untuk mengajukan dakwaan resmi terhadap seseorang. Tawaran hukuman pertama yang diajukan pun sangat ringan, hampir seperti “guyonan.”
Awalnya, kepolisian Palm Beach ingin menjerat Epstein dengan satu pasal tindakan asusila dan empat pasal aktivitas seksual melanggar hukum dengan anak di bawah umur (kejahatan berat/felony). Namun, setelah melalui proses Grand Jury, dakwaan tersebut "menguap" dan dia hanya direkomendasikan untuk satu pasal pelanggaran tingkat rendah, yaitu mengajak melakukan prostitusi (solicitation of prostitution).
Merasa kasusnya mungkin akan mandek di tingkat negara bagian, Reiter melakukan langkah nekat, dia mengambil semua berkas kasusnya, memasukkannya ke mobil, lalu menyetir sendiri ke kantor FBI dan Jaksa federal saat itu, R. Alexander Acosta.
Harapannya sederhana mungkin penegak hukum federal dengan sumber daya dan yurisdiksi yang lebih besar akan menangani kasus ini lebih serius dan kebal dari tekanan lokal. Sayangnya, yang terjadi malah sebaliknya.
Kesepakatan Paling Kontroversial dalam Sejarah Hukum Amerika
Di tangan federal, kasus ini berakhir dengan salah satu kesepakatan hukum paling kontroversial dalam sejarah Amerika modern, yakni Non-Prosecution Agreement (NPA) atau Perjanjian Non-Penuntutan. Tim pengacara all-star Epstein (yang berisi nama-nama besar seperti Alan Dershowitz dan Ken Starr) melobi langsung kantor Jaksa Acosta dan berhasil menegosiasikan kesepakatan rahasia ini.
Mari kita bedah isi kesepakatan yang skandal ini:
Pertama, Epstein hanya perlu mengaku bersalah atas dua tuduhan prostitusi ringan di tingkat negara bagian. Sebagai gantinya, pemerintah federal setuju untuk tidak menuntutnya atas 53 halaman dakwaan federal yang jauh lebih serius, dakwaan yang bisa membuatnya dipenjara seumur hidup. Puluhan potensi kejahatan federal diabaikan begitu saja.
Kedua, hukumannya hanya 13 bulan di penjara wilayah yang longgar, bukan penjara federal yang ketat.
Ketiga, dan ini yang paling mengejutkan bahwa NPA ini memberikan kekebalan hukum penuh dari penuntutan federal kepada "setiap calon rekan konspirator."
Biasanya kesepakatan seperti ini diberikan kepada saksi atau pelaku kecil yang mau bekerja sama untuk menangkap ikan yang lebih besar (justice collaborator). Ini malah sebaliknya, target utama mendapat hukuman ringan dan semua komplotannya mendapat payung hukum.
Nama-nama seperti Sarah Kellen dan Nadia Marcinkova, yang diduga kuat sebagai fasilitator utama, disebut secara eksplisit dalam dokumen rahasia sebagai orang yang dilindungi. Dan yang paling menyakitkan, para korban sama sekali tidak pernah diberi tahu tentang kesepakatan ini. Mereka dibiarkan dalam gelap.
Hukuman 13 bulan itu pun bukan hukuman sesungguhnya. Sebagian besar waktu itu Epstein habiskan dalam program "Work Release," yang artinya dia boleh meninggalkan sel penjaranya hingga 16 jam sehari, 6 hari seminggu.
Dia bisa pergi ke kantornya, bahkan kembali ke rumahnya di El Brillo Way, rumah yang sama yang menjadi tempat kejadian perkara kejahatannya. Dia "dihukum" untuk kembali ke TKP setiap hari.
Orang waras menyebutnya ini bukan keadilan, tapi lebih mirip liburan yang diatur dengan sangat baik.
Bahkan Jaksa Acosta sendiri, bertahun-tahun kemudian, mengakui bahwa perlakuan yang diterima Epstein "sangat tidak biasa." Kata "sangat tidak biasa" rasanya terlalu sopan untuk menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi.
Detail Mengerikan
Sekarang kembali ke soal Mary, bagaimana gadis ABG mau direkrut Wendy Dobbs untuk memberikan layanan pijat kepada Epstein? Dia diiming-imingi ratusan dolar hanya untuk satu jam kerja.
Bagi anak seumur Mary yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi sulit, tawaran itu terlalu menggiurkan untuk ditolak. Wendy disebut terus meyakinkan Mary bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sambil menyuruhnya berbohong tentang umur, bilang saja sudah 18 tahun.
Menurut James Patterson, ini adalah langkah pertama dalam pola rekrutmen yang ternyata sudah sangat sistematis, yakni menargetkan gadis-gadis dari lingkungan ekonomi yang rentan, yang mudah tergoda dengan janji uang instan.
Kunjungan pertama Mary ke rumah Epstein di Palm Beach langsung terasa aneh. Dinding penuh dengan foto perempuan telanjang, udara dipenuhi aroma lavender yang menyengat. Di sana ada perempuan lain bernama Sarah yang seolah bertugas membuat semua keanehan itu tampak normal.
Klimaksnya, Epstein muncul hanya mengenakan handuk, lalu dengan sengaja melepaskannya di depan Mary. Bagian yang membingungkan adalah kehadiran Sarah, seorang perempuan dewasa yang melihat semua itu namun diam saja. Inilah yang disebut sebagai "fasilitator" dalam sistem kejahatan Epstein.
Tugas mereka bukan hanya merekrut, tetapi juga menciptakan “ilusi normalitas.” Kehadiran wanita dewasa membuat korban yang masih sangat muda berpikir, "Mungkin ini tidak seburuk yang kukira" atau "Mungkin ini memang pekerjaan biasa."
"The presence of these women was essential to the operation. They created an illusion of normalcy. A young girl might be terrified to go to a billionaire’s house alone, but if she saw another woman there—especially one who seemed sophisticated or motherly—her guard would drop. It made the unthinkable seem routine, a mundane part of a high-society job."
Terjemahan:
"Kehadiran para wanita ini sangat penting bagi operasi tersebut. Mereka menciptakan sebuah ilusi normalitas. Seorang gadis muda mungkin akan merasa ketakutan untuk pergi ke rumah seorang miliarder sendirian, tetapi jika ia melihat wanita lain di sana—terutama yang tampak berkelas atau bersikap keibuan—kewaspadaannya akan hilang. Hal ini membuat sesuatu yang tidak terbayangkan menjadi tampak seperti rutinitas, bagian biasa dari sebuah pekerjaan di kalangan masyarakat kelas atas."
