Indeks Literasi Keuangan Meningkat, Mengapa Edukasi Finansial Mahasiswa Tetap Diperlukan?

Seorang Mahasiswa Program studi Manajemen Universitas Pamulang.
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Yosua Nikolas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kenaikan Indeks Keuangan dan Tantangan yang Masih Tersisa
Literasi keuangan menjadi salah satu kemampuan penting dalam kehidupan modern karena hampir setiap orang perlu mengambil keputusan yang berkaitan dengan uang. Keputusan tersebut mencakup mengatur anggaran, menggunakan tabungan, memilih layanan keuangan, memahami biaya transaksi, dan mempertimbangkan risiko sebelum mengeluarkan uang. Bagi mahasiswa, kemampuan ini semakin relevan karena masa perkuliahan sering menjadi tahap ketika seseorang mulai menghadapi tanggung jawab finansial yang lebih besar dan membuat keputusan secara lebih mandiri.
Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diumumkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 11 Agustus 2026, indeks literasi keuangan Indonesia mencapai 69,57 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen. Dalam pengumuman yang sama, otoritas menyampaikan bahwa kedua indeks tersebut meningkat dibandingkan hasil SNLIK 2025, yang masing-masing tercatat sebesar 66,64 persen dan 92,74 persen. Informasi lengkapnya tersedia melalui siaran pers resmi OJK, LPS, dan BPS. https://ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/Hasil-SNLIK-Tahun-2026.aspx.
Angka tersebut menunjukkan perkembangan positif dalam pengukuran literasi dan inklusi keuangan nasional. Namun, kenaikan indeks tidak berarti bahwa seluruh masyarakat telah memiliki kemampuan finansial yang merata. Kemampuan memahami produk keuangan, mempertimbangkan risiko, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari dapat berbeda antarkelompok. Karena itu, data nasional perlu dibaca sebagai gambaran umum yang membantu menentukan arah kebijakan, bukan sebagai bukti bahwa kebutuhan edukasi keuangan telah terpenuhi.
Memahami Perbedaan Literasi dan Inklusi Keuangan
Literasi dan inklusi keuangan mengukur dua aspek yang berkaitan, tetapi tidak sama. Dalam SNLIK 2026, literasi keuangan diukur melalui parameter pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku. Sementara itu, indeks inklusi keuangan menggunakan parameter penggunaan produk dan layanan jasa keuangan. Perbedaan ini penting agar peningkatan penggunaan layanan tidak secara otomatis ditafsirkan sebagai peningkatan kemampuan mengambil keputusan finansial.
Seseorang dapat menggunakan rekening bank, dompet digital, atau layanan pembayaran tanpa sepenuhnya memahami biaya, risiko, dan ketentuan yang berlaku. Penggunaan layanan menunjukkan adanya akses atau pemanfaatan, tetapi belum tentu menggambarkan apakah pengguna mampu menilai kesesuaian produk dengan kebutuhannya. Dalam konteks mahasiswa, kemampuan melakukan pembayaran melalui aplikasi, misalnya, perlu disertai pemahaman mengenai keamanan akun, biaya transaksi, pencatatan pengeluaran, dan risiko penyalahgunaan informasi pribadi.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa penguatan inklusi keuangan perlu berjalan seiring dengan edukasi. Akses terhadap layanan finansial memang dapat membantu masyarakat melakukan transaksi dan mengelola kebutuhan. Namun, akses akan lebih bermanfaat ketika pengguna memahami pilihan yang tersedia dan mampu mempertimbangkan konsekuensinya. Karena itu, pendidikan finansial perlu melampaui pengenalan produk dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melatih keterampilan menilai informasi dan membuat keputusan.
Mengapa Literasi Keuangan Mahasiswa Perlu Diperhatikan?
SNLIK 2026 mencatat indeks literasi keuangan kelompok pelajar dan mahasiswa sebesar 62,72 persen, lebih rendah daripada indeks nasional sebesar 69,57 persen. Indeks inklusi keuangan kelompok tersebut tercatat sebesar 92,76 persen. Hasil ini memperlihatkan adanya ruang untuk memperkuat pemahaman finansial di kalangan generasi muda, meskipun data tersebut merupakan gambaran kelompok dan tidak menunjukkan kemampuan setiap mahasiswa secara individual.
Kondisi ini relevan karena mahasiswa menghadapi berbagai keputusan yang memerlukan pertimbangan finansial. Mereka perlu menyesuaikan pengeluaran dengan sumber dana, membayar kebutuhan akademik, memilih layanan digital, serta menentukan prioritas antara kebutuhan rutin dan kegiatan sosial. Tidak semua mahasiswa memiliki situasi ekonomi yang sama. Ada yang memperoleh uang saku secara rutin, ada yang bekerja sambil kuliah, dan ada pula yang harus membagi sumber keuangannya untuk kebutuhan lain. Oleh sebab itu, keterampilan mengelola keuangan perlu diterapkan sesuai kondisi masing-masing.
Perlu pula diingat bahwa kategori pelajar dan mahasiswa dalam statistik tidak selalu identik dengan seluruh orang yang sedang menempuh pendidikan tinggi. SNLIK merupakan survei masyarakat dengan cakupan kelompok dan karakteristik tertentu, bukan survei khusus seluruh mahasiswa di Indonesia. Dengan demikian, angka 62,72 persen tidak boleh digunakan untuk menyatakan bahwa setiap kampus memiliki tingkat literasi yang sama. Data tersebut lebih tepat dijadikan alasan untuk memperkuat edukasi dan melakukan pengukuran kebutuhan yang lebih spesifik di lingkungan pendidikan.
Pendidikan Finansial Tidak Cukup Berupa Teori
Tantangan dalam pendidikan keuangan adalah memastikan bahwa pengetahuan yang diperoleh dapat digunakan dalam keputusan nyata. Mahasiswa mungkin memahami istilah anggaran, tabungan, biaya, dan risiko melalui pembelajaran, tetapi penerapannya memerlukan latihan. Mengetahui bahwa pengeluaran perlu dikendalikan, misalnya, belum tentu membuat seseorang mampu menyusun anggaran yang sesuai dengan kebutuhan kuliah, transportasi, tempat tinggal, dan aktivitas sosialnya.
Karena itu, pendidikan finansial di perguruan tinggi sebaiknya memberikan pengalaman praktis. Mahasiswa dapat diajak menyusun simulasi anggaran bulanan, mencatat transaksi, membandingkan beberapa pilihan produk keuangan, atau menganalisis kasus ketika seseorang harus menentukan prioritas pengeluaran. Melalui aktivitas tersebut, mahasiswa belajar menerapkan konsep sekaligus memahami bahwa keputusan keuangan dipengaruhi oleh kebutuhan, kemampuan, informasi, dan situasi yang sedang dihadapi.
Pendidikan finansial juga sebaiknya membahas konsekuensi keputusan yang terlihat kecil tetapi berlangsung terus-menerus. Pengeluaran berulang untuk makanan, layanan digital, transportasi, atau aktivitas rekreatif dapat memengaruhi anggaran bulanan apabila tidak diperhitungkan. Mahasiswa dapat mempelajari cara mengidentifikasi pengeluaran rutin, memperkirakan kebutuhan yang akan datang, dan menyiapkan dana cadangan sesuai kemampuan. Latihan semacam ini membantu mengubah materi keuangan menjadi keterampilan yang dapat diterapkan setelah mahasiswa menyelesaikan pendidikan.
Peran Literasi Keuangan Digital
Perkembangan layanan berbasis aplikasi menjadikan literasi keuangan digital sebagai bagian penting dari pendidikan finansial. Mahasiswa perlu memahami bagaimana transaksi digital berlangsung, bagaimana melindungi informasi pribadi, serta bagaimana memeriksa ketentuan dan biaya layanan. Kemampuan menggunakan aplikasi tidak cukup apabila pengguna belum memahami risiko keamanan atau tidak mengetahui cara memperoleh informasi yang benar ketika menghadapi transaksi bermasalah.
Selain aspek keamanan, mahasiswa perlu kritis terhadap informasi keuangan di media sosial. Rekomendasi produk, konten promosi, testimoni, atau klaim tentang keuntungan tertentu belum tentu mencerminkan seluruh kondisi yang perlu dipertimbangkan. Sebelum mengambil keputusan, pengguna perlu memeriksa sumber informasi, memahami karakteristik produk, dan mempertimbangkan risiko serta kecocokannya dengan kebutuhan pribadi. Sikap kritis ini merupakan bagian dari kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Perguruan tinggi dapat mengintegrasikan pembahasan tersebut ke dalam kegiatan literasi keuangan dengan menggunakan contoh yang sering ditemui mahasiswa. Simulasi pemeriksaan biaya layanan, pembahasan keamanan akun, atau latihan menilai informasi promosi dapat membantu peserta mengenali risiko secara konkret. Materi juga perlu disesuaikan dengan perkembangan layanan keuangan agar tetap relevan dengan jenis transaksi yang digunakan mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari.
Kampus sebagai Ruang Pembelajaran dan Praktik Keuangan
Perguruan tinggi memiliki peluang untuk mengembangkan pendidikan finansial melalui mata kuliah yang relevan, seminar, lokakarya, orientasi mahasiswa baru, dan program pengabdian kepada masyarakat. Pendidikan ini tidak harus terbatas pada mahasiswa program studi ekonomi, akuntansi, atau manajemen. Setiap mahasiswa membutuhkan kemampuan untuk memahami anggaran, mempertimbangkan risiko, dan membuat keputusan yang sesuai dengan kondisi finansialnya, terlepas dari bidang studi yang ditempuh.
Kegiatan organisasi mahasiswa dapat menjadi tempat untuk menerapkan prinsip pengelolaan keuangan secara langsung. Penyusunan proposal anggaran, pencatatan pemasukan dan pengeluaran, pemilihan kebutuhan kegiatan, serta pembuatan laporan pertanggungjawaban merupakan pengalaman yang membantu mahasiswa memahami perencanaan dan akuntabilitas. Praktik tersebut juga memperlihatkan bahwa penggunaan dana seharusnya didukung catatan yang jelas agar keputusan dapat ditelusuri dan dipertanggungjawabkan.
Kampus juga perlu mempertimbangkan bagaimana keberhasilan program literasi keuangan diukur. Banyaknya peserta atau jumlah kegiatan dapat menunjukkan jangkauan program, tetapi belum tentu menggambarkan perubahan kemampuan peserta. Evaluasi sederhana dapat dilakukan dengan menilai pemahaman sebelum dan sesudah kegiatan, meminta peserta menyusun anggaran simulasi, atau melihat apakah mereka mampu mengidentifikasi biaya dan risiko dalam sebuah kasus. Dengan pendekatan ini, program pendidikan finansial dapat diperbaiki berdasarkan hasil yang terlihat, bukan hanya berdasarkan jumlah kegiatan yang terlaksana.
Pendidikan Finansial yang Inklusif dan Berkelanjutan
Pendidikan keuangan perlu memperhatikan perbedaan latar belakang ekonomi mahasiswa. Program yang baik tidak mengasumsikan bahwa seluruh peserta memiliki uang saku, penghasilan, dukungan keluarga, atau beban pengeluaran yang sama. Menggunakan satu pola anggaran sebagai standar untuk semua mahasiswa berisiko mengabaikan kebutuhan nyata kelompok yang berbeda. Sebaliknya, pembelajaran sebaiknya membantu peserta membuat keputusan berdasarkan sumber daya dan tanggung jawab masing-masing.
Pendidikan finansial juga tidak seharusnya menempatkan seluruh tanggung jawab atas kesulitan ekonomi pada individu. Kemampuan mengatur anggaran memang penting, tetapi mahasiswa yang menghadapi keterbatasan sumber daya tidak selalu dapat menyelesaikan persoalannya melalui penghematan. Informasi mengenai beasiswa, bantuan pendidikan, dukungan kampus, atau layanan konsultasi yang relevan dapat melengkapi edukasi keuangan. Pendekatan tersebut membantu menghubungkan keterampilan pengelolaan uang dengan dukungan yang tersedia di lingkungan pendidikan.
Agar berkelanjutan, edukasi finansial dapat diselenggarakan secara bertahap sesuai kebutuhan mahasiswa. Materi awal dapat berfokus pada anggaran dan pencatatan pengeluaran, kemudian berkembang ke literasi keuangan digital, keamanan transaksi, pemahaman risiko, dan perencanaan tujuan keuangan. Kampus dapat meninjau materi secara berkala berdasarkan perubahan layanan keuangan dan hasil evaluasi peserta. Dengan demikian, pendidikan finansial tidak berhenti pada satu seminar, tetapi menjadi bagian dari pembelajaran praktis yang terus diperbaiki.
Dari Peningkatan Indeks Menuju Kemampuan Nyata
Peningkatan indeks literasi dan inklusi keuangan Indonesia pada 2026 merupakan perkembangan yang positif, tetapi upaya memperkuat kemampuan finansial masyarakat tetap perlu dilanjutkan. Hasil SNLIK menunjukkan bahwa penggunaan layanan keuangan sudah luas, sementara indeks literasi kelompok pelajar dan mahasiswa masih berada di bawah indeks nasional. Data tersebut memberi alasan bagi perguruan tinggi untuk meninjau kembali bagaimana keterampilan finansial diperkenalkan dan diterapkan dalam kehidupan akademik.
Dalam membaca perubahan antarperiode, perlu pula diperhatikan bahwa SNLIK 2026 menggunakan cakupan pengukuran yang lebih komprehensif dan melibatkan kolaborasi OJK, LPS, serta BPS. Survei ini mencakup 38 provinsi dan seluruh 514 kabupaten/kota di Indonesia, dengan 75.000 responden berusia 15–79 tahun. Perluasan cakupan tersebut memperkaya gambaran kondisi masyarakat, sehingga perbandingan antarperiode sebaiknya mempertimbangkan penjelasan metodologi yang disampaikan dalam publikasi resmi, bukan sekadar melihat perubahan angka.
Pada akhirnya, literasi keuangan bukan hanya kemampuan mengetahui istilah finansial atau menggunakan produk keuangan. Keterampilan tersebut mencakup kemampuan memahami informasi, menilai pilihan, mempertimbangkan risiko, dan menentukan keputusan yang sesuai dengan kebutuhan. Mahasiswa membutuhkan kemampuan ini untuk mengelola kehidupan selama kuliah sekaligus menghadapi tanggung jawab setelah lulus. Dengan pendidikan finansial yang praktis, inklusif, dan dievaluasi secara berkelanjutan, perguruan tinggi dapat berkontribusi dalam mengubah peningkatan literasi keuangan dari sekadar angka survei menjadi kemampuan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Referensi:
Otoritas Jasa Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan, & Badan Pusat Statistik. (2026, 11 Agustus). Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Masyarakat Meningkat: Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026. https://ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/Hasil-SNLIK-Tahun-2026.aspx
