Curhat ke AI, Kenapa Terasa Lebih Aman daripada ke Manusia?

Mahasiswa Aktif Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Yovita Prameystika R tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau lagi punya masalah, biasanya kita akan mencari seseorang untuk diajak cerita. Bisa teman, keluarga, pasangan, atau orang yang memang kita percaya. Tapi sekarang, ada pilihan lain yang semakin sering digunakan, yaitu AI. Tinggal buka chatbot, ketik apa yang sedang ada di pikiran, dan kita bisa langsung mulai bercerita. Bahkan, bagi sebagian orang, curhat ke AI justru terasa lebih nyaman dibandingkan curhat ke orang lain.
Kenapa Curhat ke AI Terasa Lebih Nyaman?
Salah satu alasannya mungkin karena kita merasa lebih bebas ketika bercerita kepada AI. Saat mau curhat ke orang lain, kadang kita sudah memikirkan berbagai kemungkinan sebelum mulai cerita. Kita bisa merasa takut dianggap terlalu sensitif, takut dibilang lebay, takut disalahkan, atau bahkan takut cerita kita malah jadi bahan pembicaraan. Akhirnya, bukannya lega setelah cerita, kita malah sibuk memikirkan bagaimana orang tersebut akan menanggapi cerita kita. Sementara itu, ketika cerita ke AI, rasanya kita bisa lebih leluasa menyampaikan apa yang sedang dirasakan. Kita bisa cerita dari awal, menjelaskan kronologinya panjang-panjang, atau membahas hal yang mungkin sebenarnya sulit kita ceritakan secara langsung kepada orang lain. Bahkan ketika AI memberikan tanggapan yang berbeda dari apa yang kita pikirkan, respons tersebut biasanya disampaikan dengan cara yang lebih halus sehingga kita tetap bisa mendapatkan masukan tanpa merasa sedang diserang atau dihakimi.
Tidak Berubah Menjadi Adu Nasib
Hal lain yang menurutku menarik adalah AI tidak ikut adu nasib dengan cerita yang kita sampaikan. Bukan berarti ketika teman menceritakan pengalaman mereka setelah kita curhat itu selalu buruk. Kadang mereka memang ingin menunjukkan bahwa mereka mengerti karena pernah mengalami hal yang mirip. Tapi, tidak setiap kali kita curhat kita sedang membutuhkan cerita yang sama dari orang lain. Kadang kita cuma ingin didengarkan. Ketika kita sedang bercerita tentang sesuatu yang membuat kecewa, kemudian respons yang diberikan justru berisi pengalaman yang lebih berat, fokus pembicaraan bisa saja berpindah tanpa disadari. Padahal, kita mungkin masih ingin menyelesaikan cerita dan mengeluarkan semua yang sedang dirasakan. Kita juga tidak selalu membutuhkan orang lain untuk membuktikan bahwa masalah kita sebenarnya tidak seberapa. Saat sedang bercerita, terkadang kita hanya ingin perasaan kita dipahami tanpa harus dibandingkan dengan pengalaman siapa pun. Di sinilah AI bisa terasa berbeda. AI tidak punya pengalaman pribadi yang harus diceritakan kembali kepada kita, sehingga ketika kita bercerita, percakapannya bisa tetap berfokus pada apa yang sedang kita alami. Kita bisa menjelaskan masalah dari berbagai sisi tanpa merasa harus membandingkannya dengan pengalaman orang lain. Selain itu, AI juga cukup fleksibel. Kalau kita ingin curhat kepada teman, mau tidak mau kita tetap perlu melihat kondisi mereka karena bisa saja mereka sedang kuliah, kerja, tidur, pergi, atau sedang menghadapi masalahnya sendiri. Bukan berarti mereka tidak peduli, tetapi mereka juga punya kesibukan dan kehidupan masing-masing. Kadang kita sudah ingin cerita, tetapi akhirnya memilih menunda karena merasa takut mengganggu. Sementara kalau kita cerita ke AI, kita tidak perlu memikirkan apakah sedang mengganggu waktu orang lain atau tidak. Lagi ingin cerita, kita bisa langsung membuka chatbot dan mulai mengetik.
AI yang Bisa Diajak Kapan Saja
Fleksibilitas dari kecanggihan teknologi ini juga membuat kita bisa mengatur sendiri bagaimana percakapannya berjalan. Mau cerita panjang, berhenti sebentar, lanjut lagi nanti, atau kembali membahas masalah yang sama karena masih kepikiran, semuanya bisa dilakukan. Kita juga tidak perlu merasa sungkan karena takut orang yang mendengarkan sudah bosan. Buat sebagian orang, hal-hal sederhana seperti ini justru bisa membuat AI terasa nyaman sebagai tempat untuk bercerita. Bukan karena AI selalu punya jawaban yang paling benar, tetapi karena kita mendapatkan ruang untuk mengeluarkan isi kepala tanpa terlalu banyak memikirkan respons sosial yang mungkin muncul. Ada juga rasa nyaman karena AI bukan seseorang yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Ketika cerita kepada teman atau orang yang kita kenal, terkadang ada rasa takut kalau cerita tersebut nantinya diketahui orang lain, apalagi kalau masalah yang diceritakan cukup pribadi dan melibatkan orang-orang di sekitar kita. Ketika cerita ke AI, kekhawatiran seperti itu bisa terasa berbeda karena kita tidak sedang bercerita kepada seseorang yang nantinya akan bertemu dengan kita di kampus, tempat kerja, atau lingkungan sehari-hari.
Tetap Ada Batasnya
Namun, meskipun AI bisa menjadi tempat curhat yang nyaman, bukan berarti kita jadi tidak membutuhkan orang lain. AI tetap punya batas karena tidak benar-benar menjalani kehidupan kita dan tidak mengenal kita secara langsung seperti teman atau keluarga. Respons yang diberikan juga belum tentu selalu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya kita alami. Tetap ada saatnya kita membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat, terutama ketika kita membutuhkan seseorang yang bisa hadir dan menemani secara langsung. Teman atau keluarga yang sudah mengenal kita juga bisa memahami hal-hal kecil tentang diri kita yang mungkin tidak bisa diketahui hanya dari percakapan dengan AI. Jadi, menurutku, orang yang memilih curhat ke AI bukan berarti sudah tidak membutuhkan manusia. Bisa saja mereka hanya menemukan tempat bercerita yang terasa lebih nyaman untuk kondisi tertentu. Pada akhirnya, AI dan manusia tidak harus saling menggantikan. Ada saatnya kita membutuhkan AI untuk sekadar menuangkan isi kepala atau mencari sudut pandang lain, tetapi ada juga saatnya kita membutuhkan teman, keluarga, atau orang terdekat untuk memberikan dukungan secara langsung. Menurutku, yang menarik dari kebiasaan curhat ke AI bukan soal apakah AI lebih baik daripada manusia, tetapi tentang kenapa seseorang bisa merasa lebih aman ketika bercerita kepada teknologi. Mungkin karena ketika sedang punya masalah, kita tidak selalu membutuhkan seseorang yang langsung memberikan solusi. Kadang kita hanya ingin cerita sampai selesai, merasa didengarkan, dan tahu bahwa apa yang kita rasakan tidak harus selalu dibandingkan dengan pengalaman orang lain.
