Diskriminasi dalam Aksen Berbahasa? Mari Mengenali Akarnya

Hai! Aku mahasiswi Hubungan Internasional UNSRI. Si ENFP yang suka mencoba banyak hal baru serta pemaknaan dalam hidup. Quirky generalist? Absolutely! Ayo berteman:D
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ayatul Husna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah merasa kagum saat mendengar seseorang berbicara bahasa Inggris dengan aksen British atau Amerika yang dianggap keren? Namun, begitu mendengar orang lain berbicara bahasa Inggris dengan logat dari negara selain negara asal bahasa tersebut, tiba-tiba muncul rasa geli, bahkan nada yang sedikit merendahkan. Padahal, kesan keren karena merendahkan itu hanyalah persepsi pribadi dan keduanya sama-sama setara dalam berbahasa Inggris. Fenomena ini punya istilahnya sendiri, yaitu accentism.
Accentism merupakan bentuk diskriminasi yang muncul akibat cara seseorang mengucapkan suatu bahasa, bukan karena isi ucapannya atau kemampuan berbahasanya secara keseluruhan. Istilah ini pertama kali populer dalam kajian sosiolinguistik sebagai cabang dari diskriminasi berbasis bahasa, tetapi karakternya lebih spesifik. Diskriminasi bahasa secara umum menyasar bahasa yang digunakan seseorang (misalnya orang direndahkan karena berbicara bahasa daerah), sedangkan accentism menyasar cara dari bahasa itu diucapkan, meskipun bahasanya sama.
Yang membuat accentism menarik sekaligus berbahaya adalah sifatnya yang sering tidak disadari oleh pelakunya sendiri. Jarang ada orang yang secara sadar dengan berpikir sadar bahwa merupakan seorang pelaku. Namun reaksi spontan seperti tertawa kecil, menganggap seseorang kurang kompeten atau meragukan kecerdasan hanya dari cara mengucapkan huruf "r" atau intonasi kalimat sudah termasuk accentism yang mengakar tanpa disadari.
Accentism biasanya bekerja lewat perbandingan antara aksen mana yang menurut sosial itu normal dan mana yang tidak normal. Aksen yang paling sering muncul di media, atau dianggap berasal dari pusat kekuasaan (ekonomi, politik, budaya), diam-diam dijadikan tolak ukur yang benar dan pantas ditiru. Sementara itu, aksen lain yang secara linguistik sama sahnya justru dicap kurang, aneh atau lucu didengar dalam artian negatif. Padahal, dari sudut pandang linguistik murni, tidak ada satu pun aksen yang secara objektif lebih benar daripada aksen lainnya. Semua aksen adalah hasil variasi fonologis yang wajar ketika bahasa dipakai oleh kelompok masyarakat dengan latar belakang geografis, sosial, dan budaya yang berbeda.
Perlu digarisbawahi bahwa accentism bukan sekadar soal selera atau preferensi personal terhadap suatu aksen. Menyukai cara bicara ya tertentu sah-sah saja. Masalah muncul ketika preferensi itu berubah menjadi penilaian terhadap nilai seseorang sebagai individu, seolah-olah orang yang dikira aksennya kurang keren otomatis kurang cerdas, kurang berpendidikan atau kurang layak didengar pendapatnya. Maka dari sinilah accentism berpindah dari sekadar persepsi estetika menjadi diskriminasi karena dapat memengaruhi cara seseorang diperlakukan di manapun bahkan dalam interaksi sosial sehari-hari.
Ciri Pelaku Accentism
Pelaku accentism jarang merasa dirinya pelaku. Biasanya mereka menganggapnya hanya candaan atau sekadar komentar jujur. Namun, ada beberapa pola yang cukup mudah dikenali.
Pertama, biasanya menjadikan aksen sebagai ukuran kemampuan, lalu sibuk mengoreksinya. Pelaku mudah menyimpulkan bahwa orang yang aksennya kurang keren pasti bahasa Inggrisnya kurang bagus, padahal kosakata, tata bahasa, dan isi gagasannya bisa jauh lebih baik. Perhatian mereka tertuju pada bunyi, bukan pada makna. Karena itu, mereka sering mengoreksi pelafalan yang sebenarnya tidak mengubah arti. Koreksi memang bermanfaat kalau kesalahan ucapan membuat pesan sulit dipahami. Namun, kalau lawan bicara sudah dimengerti dengan baik dan koreksi tetap datang hanya karena tidak seperti orang bule, itu bukan membantu, melainkan menunjukkan superioritas.
Kedua, menertawakan atau menirukan dengan nada mengejek. Bentuknya beragam, mulai dari tawa kecil, senggolan ke teman di sebelah, hingga memperagakan ulang cara bicara seseorang untuk bahan lucu-lucuan. Reaksi ini sering muncul spontan, dan justru itulah yang membuatnya berbahaya karena dianggap wajar.
Ketiga, memakai standar ganda. Aksen penutur asli, atau aksen yang sudah akrab dari film dan media, selalu dipuji dan dianggap keren. Sebaliknya, aksen lain yang sama-sama punya ciri khas asalnya, misalnya dari sesama orang Indonesia atau dari negara non-Barat, dianggap tidak enak didengar atau mengganggu telinga. Padahal semuanya berbahasa Inggris dengan aksennya masing-masing.
Sasaran Accentism
Hampir semua orang bisa menjadi sasaran para pelaku accentism, misalnya aksen Jawa saat berbahasa Indonesia, aksen Prancis saat berbahasa Inggris, atau aksen India yang sering menjadi bahan lelucon di internet. Pola yang paling sering muncul adalah aksen dari negara atau daerah dengan pelafalan berbeda dinilai lebih rendah daripada aksen dari pusat bahasa asli, terutama Amerika dan Inggris. Orang Asia dan Afrika yang berbahasa Inggris dengan aksen asalnya seringkali dicap kurang fasih, padahal mereka sudah berkomunikasi dengan benar.
Lucunya, bahasa Inggris sendiri memiliki puluhan aksen yang berbeda, bahkan di dalam satu negara asalnya. Aksen Skotlandia, Irlandia, Australia, hingga Texas terdengar sangat berbeda satu sama lain, tetapi tidak ada yang mengatakan salah satunya bukan bahasa Inggris yang asli. Lalu, mengapa ketika orang Indonesia berbicara bahasa Inggris dengan logat Indonesia, hal itu dianggap bermasalah atau kurang baik?
Dampak yang Berlanjut
Orang yang sering diejek karena aksennya cenderung menjadi takut berbicara, enggan bertanya di kelas, atau menolak presentasi dalam bahasa Inggris, padahal kemampuannya mungkin sudah sangat baik. Akhirnya, potensi seseorang terhambat bukan karena kurang mampu, melainkan karena takut dihakimi. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kepercayaan diri, peluang akademik, bahkan karier.
Apakah memang seburuk itu memakai aksen sendiri untuk belajar bahasa baru? Bukankah tujuan belajar bahasa adalah komunikasi dan saling memahami? Mengapa aksen, yang merupakan ciri paling jelas, selalu dianggap rendah?
Jika merasa aksen seseorang jelek, coba tanyakan pada diri sendiri seperti apakah itu benar hanya sebuah masalah, atau hanya karena belum terbiasa dan kurang eksplorasi. Sering kali anggapan itu lahir dari ketidaktahuan, yaitu pola pikir bahwa makna akan ikut berubah jika tidak memakai aksen negara asal bahasa tersebut. Padahal bahasa adalah alat untuk saling memahami. Selama lawan bicara dapat menangkap pesan dengan jelas dan sesuai artinya, tujuan berbahasa sudah tercapai apa pun aksen nya.
Aksen adalah identitas
Yang terpenting bukanlah terdengar seperti orang Amerika atau Inggris, melainkan mampu menyampaikan gagasan dengan tepat dan dipahami dengan baik.
Jadi, daripada sibuk menertawakan logat orang lain, lebih baik cukup belajar mendengarkan isi dari apa yang disampaikan. Pada akhirnya, kecerdasan seseorang ditentukan oleh apa yang ia pikirkan dan bagaimana ia memperlakukan orang lain sebagaimana layaknya makhluk sosial yang mau terus belajar.
