Kosta Rika: Warisan Kolonial Lahan dan Pentingnya Kualitas Manusia

Mahasiswi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya yang suka mencoba banyak hal baru. Lets be friend
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ayatul Husna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Opini analitis ini membahas bahwasannya kemerdekaan tidak semerta-merta bisa menghapus ketimpangan yang sudah di bentuk oleh sistem kolonial. Pengalaman Kosta Rika yang menempatkan pendidikan dan kesehatan sebagai fondasi bisa menjadi bahan belajar tentang pentingnya kualitas manusia bagi kekuatan sebuah bangsa dalam jangka panjang.
Kemiripan terbesar kedua negara ada pada ketimpangan yang berakar dari ekonomi kolonial berbasis lahan. Di Kosta Rika, masa kolonial Spanyol meninggalkan ekonomi yang bertumpu pada kopi, yang pada abad ke-19 menjadi komoditas ekspor utama (Luetchford, 2007). Keuntungan ekspor itu berpusat pada kepemilikan tanah, sehingga siapa yang menguasai lahan hampir selalu menjadi pihak yang paling diuntungkan. Dari sinilah ketimpangan di Kosta Rika bermula, dan dari sini pula perbandingan dengan Indonesia bisa dimulai.
Pola Serupa dan Perbedaan Konteks di Indonesia
Indonesia punya pola yang mirip. Tanam paksa dan perkebunan kolonial membentuk ekonomi yang bergantung pada lahan, terutama untuk kebutuhan ekspor.
Meski begitu, konteks keduanya berbeda. Kosta Rika berukuran kecil dan pada masa kolonial dikenal tidak sekaya wilayah Spanyol lainnya dalam hal emas dan perak, sehingga kopi menjadi andalan. Indonesia, yang saat itu masih berupa Nusantara, sangat luas dan terdiri dari banyak pulau dengan beragam hasil bumi, terutama rempah. Perbedaan skala dan geografi ini berarti pengalaman satu negara tidak bisa disamakan begitu saja dengan negara lain.
Mengapa Kualitas Manusia Penting
Ketimpangan terbentuk secara bertahap, maka dari itu untuk mengatasinya pun butuh waktu panjang. Kebutuhan dasar memang penting, tetapi manfaatnya akan lebih tahan lama bila masyarakat juga dibekali pengetahuan, misalnya pemahaman tentang gizi dan cara mengolah bahan pangan lokal menjadi makanan sehat. Hasilnya bisa berbeda antara masyarakat yang hanya menerima bantuan dan masyarakat yang juga memahami alasan di baliknya.
Dengan kata lain, pendidikan dan kesehatan adalah bekal yang terus dibawa seseorang, sementara kebutuhan yang dipenuhi sesaat bisa habis begitu saja.
Yang Bisa Dipelajari dari Kosta Rika
Kosta Rika sering dijadikan contoh negara kecil yang menaruh perhatian besar pada pendidikan dan kesehatan. Menurut sejarawan Universitas Kosta Rika, Lucía Arce, fondasinya bahkan sudah dibangun sejak beberapa waktu sebelum 1948, ditandai dengan berdirinya Universitas Kosta Rika, lembaga jaminan sosial, dan aturan ketenagakerjaan pada awal 1940-an (Teletica, 2021). Artinya, kualitas manusia di sana tumbuh dari proses yang berlangsung lama, bukan hasil satu keputusan mendadak.
Tentu saja untuk ukuran wilayah, jumlah penduduk hingga tantangan geografis kedua negara jauh berbeda, jadi pengalaman Kosta Rika lebih tepat dijadikan bahan belajar daripada model yang ditiru mentah-mentah.
Kualitas Manusia Dimulai dari Hal Kecil
Di luar konteks sejarah dan perbandingan antarnegara, ada satu hal yang menarik untuk direnungkan, yaitu bahwa kualitas manusia sebenarnya dimulai dari lingkup yang paling kecil. Kebiasaan membaca di rumah, cara keluarga menjaga kesehatan, rasa ingin tahu yang dipupuk sejak kecil, hingga lingkungan sekitar yang menghargai ilmu, semuanya ikut membentuk seseorang jauh sebelum ia dewasa.
Hal-hal sederhana seperti ini memang jarang terlihat dan hasilnya tidak muncul dalam waktu singkat, tetapi justru di situlah dasar kemajuan jangka panjang dibangun. Kosta Rika bisa dipandang sebagai contoh bahwa perhatian pada pendidikan dan kesehatan yang dirawat dari waktu ke waktu bisa membentuk masyarakat yang lebih siap menghadapi perubahan. Tentu setiap daerah punya tantangan dan kebutuhannya sendiri, sehingga tidak ada satu cara yang cocok untuk semua.
Meski begitu, kita bisa belajar dari cara negara lain memandang pentingnya manusia, lalu menyesuaikannya dengan kondisi yang kita punya. Belajar dari negara lain pun sebaiknya tidak berhenti pada rasa kagum, tetapi diteruskan dengan bertanya:
apa yang sudah kita punya, apa yang masih bisa ditumbuhkan, dan langkah kecil apa yang bisa dimulai dari sekarang.
Dari kebiasaan belajar yang konsisten, pola hidup sehat yang dijaga, sampai sikap saling berbagi pengetahuan, setiap orang sebenarnya punya andil dalam membangun kualitas manusia di lingkungannya masing-masing.
Pada akhirnya, pelajaran terbesarnya yakni kekuatan sebuah bangsa dibangun pelan-pelan lewat manusianya. Warisan masa lalu memang sulit diubah, tetapi setidaknya pendidikan dan kesehatan adalah cara yang bisa terus dirawat oleh setiap generasi.
