Konten dari Pengguna

Mengenal Majlis, Tempat Warga Jazirah Arab Mengobrol dengan Pemimpinnya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ayatul Husna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi majlis yang sering di lakukan oleh masyarakat, sumber foto: Magnific
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi majlis yang sering di lakukan oleh masyarakat, sumber foto: Magnific

Kebiasaan duduk bareng untuk membahas sesuatu sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari kehidupan banyak masyarakat, termasuk di Indonesia. Entah itu di balai desa, di teras rumah tetangga, atau di warung kopi langganan.Obrolan santai terkadang justru melahirkan gagasan yang penting. Ternyata di Jazirah Arab ada tradisi yang punya semangat serupa, namanya majlis. Tradisi ini sering dianggap sekadar ruang tamu, padahal di baliknya ada kaitan menarik dengan cara warga dan pemimpin berinteraksi.

Kata majlis berasal dari bahasa Arab yang secara harfiah berarti "tempat duduk". Menurut UNESCO, majlis adalah tempat warga berkumpul untuk membahas persoalan setempat, bertukar kabar, menerima tamu, bersosialisasi, sekaligus menyelesaikan masalah bersama. Biasanya berupa ruang luas dengan karpet di lantai dan bantal yang disandarkan ke dinding, serta terbuka untuk siapa saja, mulai dari anggota keluarga, suku, hingga warga satu lingkungan (UNESCO, 2015).

Tradisi ini cukup penting sampai mendapat pengakuan internasional. UNESCO mencatat majlis sebagai warisan budaya takbenda pada 2015, yang diajukan bersama oleh Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, dan Arab Saudi.

Lebih dari Sekadar Ruang Tamu

Jangan salah, majlis punya banyak fungsi sosial. Menurut UNESCO (2015), di sana warga juga menyampaikan belasungkawa dan menggelar resepsi pernikahan. Hakim dan tokoh agama punya peran khusus karena ikut menengahi perselisihan, dan perempuan memiliki majlis sendiri. Majlis juga menjadi tempat menurunkan cerita rakyat, lagu, dan puisi tradisional. Anak-anak ikut menemani orang dewasa, sehingga mereka belajar tata krama, cara berdialog, kemampuan mendengarkan, dan menghargai pendapat orang lain hanya dengan mengamati orang yang lebih tua.

Maka dari itu, majlis lebih tepat dibayangkan sebagai ruang pertemuan sosial ketimbang sekadar tempat menjamu tamu. Orang datang bukan hanya untuk dijamu, tetapi juga untuk hadir, mendengar, dan didengar.

Majlis Pedagang dan Majlis Pengadilan

Di Uni Emirat Arab, majlis punya beberapa jenis. Selain majlis yang dipimpin tetua, kepala suku, atau syekh (disebut barza), secara tradisional ada pula majlis pedagang dan majlis pengadilan. Pada musim menyelam, majlis dipakai untuk berbagi cerita tentang kejadian di laut sekaligus menyelesaikan perselisihan antarpenyelam atau antara penyelam dan pedagang, sedangkan majlis pengadilan dikenal sebagai tempat menyelesaikan sengketa. Dari sini terlihat bahwa majlis ikut menyentuh urusan ekonomi dan hukum sehari-hari, bukan hanya urusan sosial.

Ketika Pemimpin Membuka Majlis

Bagian yang paling menarik dari sisi politik pemerintahan adalah majlis yang dibuka oleh pemimpin. Kita ambil contoh Uni Emirat Arab. Otoritas budaya Abu Dhabi menyebut majlis Emirat sebagai bagian penting dari kehidupan sosial dan politik, yaitu forum bagi warga untuk membahas persoalan dan menyampaikannya kepada para tetua dan syekh. UNESCO juga mencatat bahwa para hakim dan syekh punya peran khusus di majlis karena menengahi perselisihan sekaligus menjelaskan hak dan kewajiban warga di bidang politik, sosial, dan agama.

Dalam kajian politik, majlis kerap dipahami sebagai jalur komunikasi informal antara pemimpin dan warga yang berjalan berdampingan dengan lembaga-lembaga formal. Seberapa besar pengaruhnya terhadap keputusan kebijakan tentu berbeda di tiap negara dan tiap masa, dan itu pembahasan tersendiri. Namun yang jelas, majlis menunjukkan bahwa interaksi antara pemimpin dan warga tidak selalu terjadi lewat gedung resmi dan prosedur tertulis, tetapi juga lewat percakapan tatap muka.

Kopi dan Tata Krama Tamu

Dalam tradisi Jazirah Arab, kopi Arab atau gahwa menjadi bagian penting dari keramahan terhadap tamu. Biji kopinya disangrai, ditumbuk dengan lumpang, lalu diseduh di dalam teko. Secara tradisional kopi ini disiapkan di hadapan tamu oleh laki-laki maupun perempuan, dan tamu yang paling penting atau paling tua dilayani lebih dulu. Menariknya, kopi ini juga disajikan langsung oleh para syekh dan kepala suku.

Kopi Arab sendiri juga masuk dalam daftar warisan budaya takbenda UNESCO. Dari sini terlihat bahwa secangkir kopi di sana membawa makna sosial yang cukup dalam, yaitu cara menyambut dan menghormati orang lain.

Ada fakta kecil yang menyenangkan untuk kita sebagai orang Indonesia, yaitu kata "majelis" dalam bahasa kita berasal dari akar kata yang sama dengan majlis. Begitu juga kata "musyawarah" yang berakar dari kata Arab untuk berembuk bersama. Jadi, kata yang awalnya hanya berarti "tempat duduk" ternyata ikut melahirkan istilah yang berkaitan dengan cara orang berembuk dan mengambil keputusan.

Apa yang Bisa Kita Ambil?

Membaca tradisi majlis, kita jadi teringat pada budaya kita sendiri, seperti musyawarah di balai desa, rembug warga, atau obrolan santai di warung kopi. Setiap masyarakat memang punya caranya masing-masing untuk membangun kedekatan, dan tidak ada yang perlu dinilai lebih baik atau lebih buruk dari yang lain.

Pada akhirnya, majlis mengingatkan kita bahwa hubungan antara warga dan pemimpin bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana yaitu duduk bersama dan saling mendengarkan.