Konten dari Pengguna

Dari Layar Kaca ke Layar HP, Ketika Algoritma Mengambil Alih Remote TV Kita

Yubahri

Yubahri

Mahasiswa ilmu komunikasi di universitas pamulang (unpam)

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yubahri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pergeseran tontonan dari layar televisi ke layar smartphone di era algoritma.(sumber:https://pixabay.com/id)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pergeseran tontonan dari layar televisi ke layar smartphone di era algoritma.(sumber:https://pixabay.com/id)

Dulu, menonton televisi merupakan salah satu aktivitas hiburan yang hampir selalu dilakukan bersama keluarga. Setelah pulang sekolah atau bekerja, orang-orang biasanya duduk di depan televisi sambil memegang remote untuk memilih saluran yang ingin ditonton. Namun, perkembangan teknologi digital membuat algoritma mulai memiliki peran dalam menentukan konten yang kita lihat dan nikmati setiap hari.

Namun, kebiasaan tersebut perlahan berubah seiring perkembangan teknologi digital. Saat ini, televisi bukan lagi satu-satunya tempat untuk menikmati hiburan. Kehadiran smartphone dan berbagai platform digital membuat kita dapat menonton video kapan saja dan di mana saja. YouTube, TikTok, Instagram, Netflix, dan berbagai platform lainnya menawarkan begitu banyak pilihan konten hanya dalam satu perangkat.

Perubahan tersebut tidak hanya mengubah cara kita menonton, tetapi juga mengubah cara kita menentukan apa yang ingin ditonton. Jika dahulu kita memilih saluran melalui remote TV, sekarang algoritma ikut menentukan konten yang muncul di hadapan kita.

Pada era televisi konvensional, pilihan tontonan relatif terbatas. Penonton memilih berdasarkan jadwal acara dan saluran yang tersedia. Berbeda dengan media digital, ketika seseorang membuka platform video atau media sosial, konten yang muncul tidak sepenuhnya acak. Algoritma mempelajari berbagai aktivitas pengguna, seperti video yang ditonton, durasi menonton, konten yang disukai, pencarian, hingga konten yang sering dilewati.

Dari data tersebut, platform kemudian memberikan rekomendasi yang dianggap sesuai dengan minat pengguna. Akibatnya, semakin sering seseorang menggunakan sebuah platform, semakin personal pula tampilan konten yang diterimanya. Di sinilah terjadi perubahan besar: remote TV yang dahulu menjadi alat utama untuk memilih tontonan seolah-olah digantikan oleh algoritma.

Salah satu alasan algoritma sangat berpengaruh adalah kemampuannya membuat pengguna terus menemukan konten baru. Ketika seseorang selesai menonton satu video, platform dapat langsung menawarkan video berikutnya yang memiliki tema serupa. Misalnya, seseorang menonton beberapa video tentang sepak bola. Setelah itu, rekomendasinya dapat semakin banyak menampilkan pertandingan, berita pemain, analisis, atau konten lain yang berkaitan dengan sepak bola.

Di satu sisi, sistem ini memberikan kenyamanan. Pengguna tidak perlu mencari satu per satu konten yang ingin ditonton. Algoritma membantu mempersempit pilihan dari jumlah konten yang sangat besar. Namun, kemudahan tersebut juga dapat membuat seseorang berada dalam pola konsumsi yang berulang. Ketika platform terus memberikan konten yang dianggap menarik, pengguna dapat menghabiskan waktu lebih lama tanpa menyadari berapa banyak waktu yang telah digunakan.

Peran algoritma juga tidak hanya berkaitan dengan hiburan. Algoritma dapat memengaruhi informasi yang kita temui setiap hari. Dua orang yang menggunakan platform yang sama belum tentu mendapatkan tampilan konten yang sama karena rekomendasi dapat disesuaikan dengan aktivitas masing-masing pengguna.

Kondisi ini membuat pengalaman setiap pengguna menjadi berbeda. Seseorang dapat lebih sering melihat informasi mengenai olahraga, sementara orang lain lebih banyak menemukan konten mengenai musik, pendidikan, gaya hidup, atau topik lainnya. Karena itu, kemampuan literasi digital menjadi semakin penting. Pengguna tidak cukup hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga perlu memahami bagaimana informasi yang mereka lihat dapat dipengaruhi oleh sistem rekomendasi.

Meskipun algoritma memiliki pengaruh besar, bukan berarti manusia sepenuhnya kehilangan kendali. Pengguna tetap memiliki pilihan untuk mencari informasi secara mandiri, mengikuti berbagai sumber, mengatur preferensi, dan memutuskan apakah sebuah konten layak dipercaya atau tidak. Perbedaannya adalah proses memilih tontonan sekarang tidak lagi sesederhana ketika kita menggunakan remote TV. Ada sistem yang bekerja di belakang layar untuk mengurutkan, merekomendasikan, dan menyajikan konten kepada kita.

Pada akhirnya, perjalanan dari layar kaca ke layar HP menunjukkan bagaimana teknologi telah mengubah kebiasaan masyarakat dalam menikmati media. Jika dahulu remote TV menjadi alat utama untuk menentukan tontonan, kini algoritma memiliki peran besar dalam menentukan konten apa yang muncul di hadapan pengguna.

Algoritma memberikan manfaat karena mampu membantu kita menemukan konten yang sesuai dengan minat. Namun, pengguna juga perlu bersikap kritis agar tidak sepenuhnya bergantung pada rekomendasi sistem. Remote memang sudah berubah bentuk. Dulu kita menggenggam remote televisi, sekarang kita menggenggam smartphone. Tetapi kendali atas apa yang kita tonton seharusnya tetap berada pada diri kita. Teknologi boleh membantu memilihkan, tetapi keputusan untuk menonton, mempercayai, dan membagikan sebuah informasi tetap menjadi tanggung jawab manusia.

Yubahri, mahasiswa unpam, ilmu komunikasi.