Konten dari Pengguna

Ketertinggalan dan Harapan di Rapor PISA

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yudhi Hertanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar saat bulan Ramadhan di SDN Slipi 15, Jakarta, Kamis (6/3/2025). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar saat bulan Ramadhan di SDN Slipi 15, Jakarta, Kamis (6/3/2025). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Belum sehat! Dunia pendidikan global secara periodik melakukan evaluasi berskala besar, bernama Programme for International Student Assessment (PISA). Diinisiasi OECD, PISA tidak menguji kekuatan hafalan, melainkan mengukur kemampuan nalar matematika, sains, serta literasi membaca guna memecahkan masalah di dunia nyata.

Hasil rilis OECD pada PISA 2025, menjadi momen penting pembenahan sektor pendidikan nasional. Bagi Indonesia, hasil tersebut merefleksikan realitas getir, sekaligus mencatat terdapat secercah harapan yang perlu dikapitalisasi.

Titik kritis yang krusial untuk dijawab: mampukah berbagai manuver kebijakan pendidikan yang ada, dapat membawa kita keluar dari krisis pembelajaran?

Fakta Pahit Ketertinggalan

Mari dianalisis angkanya, pada PISA 2025, rerata skor Indonesia berada di angka 389 untuk Sains, 365 untuk Membaca, dan 364 untuk Matematika. Angka yang tergolong masih tertinggal, nyaris 100 poin dari rata-rata negara maju (OECD). Dalam metrik pendidikan internasional, ketertinggalan puluhan poin ekuivalen dengan defisit masa belajar selama bertahun-tahun.

Hal lain yang lebih mengkhawatirkan, 60,9% siswa tergolong low performers -berada di bawah kecakapan dasar. Artinya, lebih dari separuh mengalami kesulitan untuk memahami gagasan utama dari sebuah teks bacaan, atau menyelesaikan persoalan matematika keseharian.

Dalam kerangka komparatif di Asia Tenggara, terjadi kontras. Singapura menduduki posisi utama, sebagai raja global dengan skor di atas 530 untuk semua bidang. Bahkan Vietnam, yang secara ekonomi setara, tampil sebagai anomali brilian dengan raihan skor Sains 457. Posisi Indonesia, masih berjuang di papan bawah regional bersama Kamboja dan Filipina.

Meski demikian, tidak semua potretnya buram. Terjadi peningkatan dibandingkan PISA 2022, saat pandemi memukul telak, terbilang rebound alias kenaikan tipis literasi Sains (+6 poin) dan Membaca (+7 poin). Perlahan terjadi kebangkitan, ketika rata-rata negara OECD justru sedang mengalami kemunduran prestasi secara historis.

Bila ditarik mundur dalam satu dekade (2015–2025), tren jangka panjang pendidikan nasional mengalami penyusutan. Secara kumulatif, skor Sains turun 17 poin, lalu Membaca anjlok 32 poin, dan Matematika tergerus 24 poin dibandingkan sepuluh tahun lalu. Mengapa ini terjadi?

Kesenjangan, Distraksi, dan Pedagogi

Jika kita menilik analisis anatomi hasil tersebut, ada tiga penyakit kronis yang menjangkiti sistem pendidikan kita.

Pertama, kesenjangan sosio-ekonomi. Layaknya ramalan Pierre Bourdieu (1986) tentang reproduksi kelas sosial, pelajar Indonesia dari keluarga mapan mencatatkan skor lebih tinggi daripada murid dari kelompok rentan. Fasilitas di Pulau Jawa dan luar Jawa, juga menciptakan jurang kualitas yang menganga.

Kedua, epidemi distraksi digital. Laporan PISA 2025 membunyikan alarm keras: 28% pelajaran sains di seluruh dunia terdistraksi gawai (ponsel). Teknologi yang diasumsikan sebagai sarana memerdekakan pembelajaran, justru membunuh kedalaman berpikir (deep learning).

Ketiga, metode mengajar yang terjebak pada hafalan. Hasil Matematika dan Sains stagnan karena para guru kurang terfasilitasi dengan baik, untuk mengajarkan Higher-Order Thinking Skills (HOTS). Sebagaimana Hanushek & Woessmann (2015), menambah anggaran atau mengganti kurikulum tidak akan berdampak, jika kualitas interaksi guru dan murid tidak dibenahi.

Secercah Harapan ke Depan

Di tengah kritik, PISA 2025 menyoroti modal psikologis yang luar biasa dari pelajar Indonesia. Laporan tersebut mencatat, bahwa siswa Indonesia memiliki lonjakan tertinggi di dunia dalam hal ketekunan atau grit. Dimana terdapat kesiapan untuk mengerahkan"usaha ekstra, ketika materi pelajaran dirasa semakin menantang.

Selain itu, lebih dari 90% siswa memiliki kesadaran ekologis yang tinggi serta ingin berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Tentu kondisi ini, menjadi bahan bakar yang luar biasa. Dimaknai bila para murid memiliki ketangguhan dan kepedulian, dibutuhkan nahkoda yang tepat.

Lalu, apa yang perlu dilakukan? Transformasi kelembagaan melalui jalur yang rasional, dengan berfokus pada kematangan serta kedalaman, dengan memangkas kepadatan materi. Namun, fleksibilitas ini harus dikawal.

Pertama, pemerintah harus membuat regulasi dengan fokus pada upaya pengingkatan sarana prasarana pendukung langsung proses pendidikan sebagai prioritas, serta kebutuhan bagi kesejahteraan relasi guru dan murid di lingkungan sekolah.

Kedua, gairah anak-anak terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim, harus dikapitalisasi menjadi metode Project-Based Learning, menghadirkan realitas sosial sebagai pembelajaran, bagi masa depan yang lebih baik secara kolaboratif.

Pada akhirnya, rapor PISA 2025 mengingatkan bahwa tidak ada jalan pintas dalam pendidikan. Mengubah kriteria low performers, bukan sekadar urusan ganti kurikulum atau bagi-bagi makanan dan kuota internet, melainkan memastikan bahwa setiap anak mendapatkan sosok guru yang mumpuni, beserta ekosistem yang memantik nalar kritis mereka.