Konten dari Pengguna

Ajarkan Anak Bahasa Gaul Sesuai Konteks

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yuftahurrizqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anak kecil sedang memegang handphone, Foto: hessan nabavi
zoom-in-whitePerbesar
Anak kecil sedang memegang handphone, Foto: hessan nabavi
Ilustrasi seseorang sedang menggunakan smartphone di era digital. Foto: Priscilla Du Preez, diambil melalui Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang sedang menggunakan smartphone di era digital. Foto: Priscilla Du Preez, diambil melalui Unsplash

Pernah enggak sih, Moms, menyadari betapa drastisnya cara kita dan anak-anak berkomunikasi belakangan ini? Kalau dulu kita lebih sering berbincang tatap muka, kini hampir seluruh interaksi harian berpindah ke layar ponsel. Mulai dari grup obrolan keluarga di WhatsApp, tingkah anak di Instagram, hingga obrolan mereka di TikTok maupun X (Twitter).

Disadari atau tidak, pergeseran ke ruang digital ini membuat cara berbahasa Indonesia ikut berevolusi pesat. Coba deh, Moms intip riwayat obrolan di ponsel anak atau bahkan ponsel kita sendiri. Pasti bertaburan kata singkatan, bahasa gaul, hingga campuran bahasa Inggris dan Indonesia. Kata "tidak" berubah jadi "nggak" atau "ga", "terima kasih" disingkat "makasih", belum lagi serapan kata seperti chat, update, meeting, atau deadline yang lebih sering terucap ketimbang padanan bahasa Indonesianya.

Sebagai orang tua, fenomena ini sebenarnya tak perlu bikin kita panik berlebihan. Ini bukan tanda bahwa bahasa Indonesia anak-anak kita sedang luntur. Era digital justru memberi ruang kreasi yang luas bagi bahasa untuk terus hidup dan berkembang mengikuti zamannya.

Media sosial menuntut respons yang cepat dan praktis, sehingga wajar jika anak-anak (dan kita) menjadi sangat kreatif menciptakan istilah baru agar pesan cepat sampai. Tantangan terbesarnya bukan pada kreativitas berbahasa tersebut, melainkan satu hal esensial yang wajib kita ajarkan pada anak: tahu tempat dan konteks.

Masalah Muncul Saat 'Bahasa Chat' Dibawa ke Sekolah

Guru sedang mengajari siswa dalam keadaan duduk melingkar, Foto: Husniati Salma

Isu utama yang kerap ditemui para orang tua dan pendidik adalah ketika kebiasaan santai di media sosial tanpa sadar terbawa ke ranah formal.

Pernahkah Moms menemukan anak mengetik chat atau email kepada guru/dosennya dengan singkatan seperti "yg", "dgn", "sy", atau "otw"? Atau mungkin melihat tugas sekolah anak yang struktur kalimatnya berantakan dan terlalu pendek layaknya pesan instan? Jika dibiarkan, kebiasaan ini perlahan bisa menurunkan kemampuan berpikir terstruktur dan kualitas literasi anak di masa depan.

Padahal, teknologi itu ibarat pisau bermata dua. Kita bisa memanfaatkan sumber daya digital untuk melatih kemampuan berbahasa anak, bukan malah merusaknya. Mengakses situs KBBI Daring atau mengecek pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) kini sangat mudah dilakukan lewat peramban ponsel saat anak sedang mengerjakan tugas rumah.

Kita tentu tidak perlu melarang anak menggunakan istilah asing atau bahasa gaul sama sekali. Namun, jangan sampai anak merasa gengsi menggunakan bahasa Indonesia yang baik hanya karena menganggap bahasa asing atau bahasa gaul terlihat "lebih keren".

Mengajari Anak Memasang 'Sakelar' di Otak

Kunci pengasuhan di era digital ini sebenarnya sederhana: bantu anak membangun switch alias 'sakelar' di otak mereka. Anak perlu paham kapan harus berada di mode santai, dan kapan harus masuk ke mode formal.

Mode Santai: Saat anak asyik mengobrol dengan bestie-nya atau membalas komentar di media sosial, sah-sah saja menggunakan bahasa gaul. Itu membuat hubungan pertemanan mereka terasa hangat dan akrab.

Mode Terstruktur: Namun, begitu anak mengerjakan tugas sekolah, berkirim pesan kepada guru, atau nanti memasuki dunia kerja, mereka harus kembali ke mode formal. Menggunakan bahasa yang baik dan benar adalah bentuk rasa hormat kepada lawan bicara sekaligus wujud profesionalisme.

Ingatkan Anak: Jejak Digital Itu Abadi

Ilustrasi peremupan yang memegan hp dengan lambang fingerprint, Karya: VectorElements

Satu hal lagi yang tak boleh bosan kita ingatkan kepada anak:

Jejak digital itu abadi. Pilihan kata yang mereka ketik di ruang publik menentukan bagaimana orang lain menilai karakter dan kepribadian mereka. Jika anak terus-menerus menormalisasi bahasa yang berantakan di ranah yang salah, hal itu akan membentuk kebiasaan buruk hingga mereka dewasa.

Tugas kita sebagai orang tua di era digital bukanlah membatasi kreativitas berbahasa anak, melainkan menjadi pendamping yang bijak. Mari ajak anak menjadi pengguna bahasa yang cerdas: bebas berkreasi di situasi informal, namun tetap santun, elegan, dan taat aturan saat berada di ranah resmi.