Terjebak 'Boreout': Ketika Kurang Tantangan Justru Bikin Lelah Mental

Mahasiswi Manajemen Universitas Pamulang
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Yuli Susanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita semua tahu betapa tersiksanya tumpukan pekerjaan yang memicu burnout. Namun, ada sebuah ironi aneh di dunia kerja yang jarang mau diakui secara terbuka: duduk berjam-jam di kantor tanpa beban kerja yang berarti ternyata bisa terasa jauh lebih melelahkan daripada bekerja keras seharian penuh.
Fenomena ini dikenal dalam kacamata psikologi industri sebagai 'Boreout'. Berbeda dengan burnout yang diakibatkan oleh eksploitasi tenaga dan waktu, boreout lahir dari ketiadaan tantangan, minimnya tanggung jawab, dan kebosanan kronis. Karyawan yang mengalaminya sering kali secara fisik hadir di meja kerja, tetapi secara mental mereka merasa terjebak dalam siklus kekosongan yang tidak berujung.
Dalam ilmu manajemen dan perilaku organisasi, motivasi pekerja modern tidak lagi sebatas pada keamanan finansial atau sekadar menerima gaji di akhir bulan. Ada kebutuhan kognitif untuk merasa berguna, berkembang, dan memberikan dampak (job enrichment). Ketika manajemen gagal memfasilitasi hal ini, misalnya karena birokrasi yang terlalu kaku, delegasi tugas yang buruk dari atasan, atau peran yang monoton karyawan akan mulai merasa eksistensinya di perusahaan tidak memiliki makna.
Secara sekilas, dibayar hanya untuk diam dan scroll media sosial terdengar seperti pekerjaan impian. Namun, realitasnya justru menyiksa. Pekerja yang terjebak boreout sering kali harus menguras energi ganda, mereka merasa lelah secara emosional karena merasa potensinya mati perlahan, sekaligus merasa cemas dan bersalah sehingga harus berpura-pura sibuk agar tidak dicap makan gaji buta oleh rekan kerjanya.
Mengatasi fenomena ini membutuhkan kepekaan dari kedua belah pihak. Perusahaan tidak bisa lagi hanya mengukur keberhasilan dari sekadar "mengisi kursi kosong" di jam kerja, melainkan harus memastikan bakat setiap individunya dimanfaatkan dengan optimal. Pada akhirnya, manusia tidak didesain untuk menjadi robot yang dimatikan mesinnya; kita butuh ruang untuk bertumbuh, berpikir, dan merasa bahwa apa yang kita kerjakan hari ini memiliki arti.
