Terjebak 'Productivity Theater': Lelahnya Pura-pura Sibuk di Kantor

Mahasiswi Manajemen Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Yuli Susanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era kerja modern, ada sebuah pemandangan ironis yang sering terjadi di banyak perkantoran maupun layar laptop para pekerja jarak jauh. Seseorang mungkin sudah menyelesaikan seluruh tugas utamanya pada pukul dua siang. Namun, alih-alih beristirahat atau pulang, ia memilih untuk tetap duduk di depan meja, membuka-tutup dokumen yang tidak perlu, atau sekadar memastikan status di aplikasi komunikasi kantor tetap berwarna hijau.
Fenomena ini dikenal dengan istilah 'Productivity Theater' atau teater produktivitas. Ini adalah kondisi di mana pekerja merasa harus melakukan "pertunjukan" kesibukan agar terlihat berdedikasi di mata atasan, meskipun hal yang mereka lakukan sebenarnya tidak memberikan nilai tambah apa pun bagi perusahaan.
Akar dari munculnya Productivity Theater ini sebenarnya bermuara pada sistem manajemen yang keliru. Masih banyak lingkungan kerja yang mengukur indikator kinerja utama (KPI) atau kedisiplinan bukan dari kualitas dan output yang dihasilkan, melainkan dari berapa jam seorang karyawan duduk menatap layar. Saat presensi visual dan kecepatan membalas pesan dianggap sebagai metrik utama kesuksesan, para pekerja secara otomatis akan beradaptasi untuk "terlihat" selalu ada.
Dampak dari teater produktivitas ini jauh dari kata sepele. Secara psikologis, berpura-pura sibuk justru membutuhkan energi kognitif yang jauh lebih besar dan melelahkan dibandingkan benar-benar bekerja. Pekerja dipaksa hidup dalam kondisi siaga yang konstan, diliputi kecemasan atau productivity paranoia, ketakutan bahwa mereka akan dinilai malas jika tidak terlihat sibuk setiap detik. Pada akhirnya, hal ini tidak menghasilkan inovasi, melainkan hanya mempercepat terjadinya burnout massal.
Mengevaluasi kinerja hanya dari seberapa sibuk seseorang terlihat adalah sebuah kemunduran dalam manajemen sumber daya manusia. Produktivitas sejati tidak diukur dari seberapa lama seseorang bertahan di kantor atau seberapa cepat ia membalas email di luar jam kerja. Pekerja yang cerdas mungkin menyelesaikan tugas dalam waktu yang lebih singkat, dan efisiensi semacam itu seharusnya dihargai, bukan malah dihukum dengan tuntutan untuk terus terlihat sibuk.
Sudah saatnya kita berhenti meromantisasi kesibukan palsu. Membebaskan diri dari tuntutan Productivity Theater adalah langkah pertama untuk menciptakan budaya kerja yang tidak hanya menghargai waktu, tetapi juga menghargai akal sehat.
