Guru Perempuan, Kelas Pertama Literasi Bangsa
Tulisan dari Yuliana Marista tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kali saya duduk di kelas Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan membayangkan diri saya kelak berdiri di depan anak-anak kelas satu SD, saya sadar satu hal: saya bukan sekadar akan mengajar membaca, saya akan menanam benih literasi yang menentukan seperti apa generasi ini kelak berpikir dan mengambil keputusan. Dan mayoritas orang yang menanam benih itu, di ruang kelas maupun di rumah, adalah perempuan.
Ironisnya, perempuan yang paling banyak berperan menumbuhkan literasi justru masih tertinggal dalam mengakses dan menguasai literasi itu sendiri di berbagai bidang kehidupannya.
Data terbaru Badan Pusat Statistik menunjukkan Indeks Ketimpangan Gender Indonesia 2025 membaik menjadi 0,402, turun dari 0,421 tahun sebelumnya, terutama pada dimensi kesehatan reproduksi dan pasar tenaga kerja. Tapi perbaikan ini tidak merata. Tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan baru mencapai 56,63%, jauh di bawah laki-laki yang mencapai 84,40%. Keterwakilan perempuan di parlemen bahkan menurun menjadi 22,28%, masih jauh dari target afirmasi 30%.
Kesenjangan ini juga terlihat pada literasi yang lebih spesifik. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan OJK 2025 mencatat indeks literasi keuangan perempuan sebesar 65,58%, tertinggal dari laki-laki di angka 67,32%. Di bidang sains dan teknologi, data ILO 2024 mengungkap hanya 35% lulusan STEM di Indonesia adalah perempuan, dan yang benar-benar bekerja di sektor itu tinggal 8% saja. Skor Gender Gap Index Indonesia dari World Economic Forum tahun 2025 pun hanya 0,692, menempatkan kita di peringkat ke-97 dari 148 negara.
Padahal, jika ditelusuri ke titik paling awal, perempuan sebenarnya unggul. Angka partisipasi sekolah anak perempuan usia 7-12 tahun mencapai 99,42%, konsisten lebih tinggi daripada anak laki-laki, menurut data BPS. Artinya, akses pendidikan dasar bukan masalahnya. Yang menjadi persoalan adalah apa yang terjadi setelahnya, saat literasi dasar itu seharusnya berkembang menjadi kecakapan berpikir kritis, melek finansial, percaya diri di ruang sains, dan berani mengambil peran di ruang publik.
Di sinilah saya melihat peran krusial guru SD, dan khususnya guru perempuan. Kelas satu sampai kelas enam SD adalah jendela paling menentukan dalam hidup seorang anak untuk membangun relasi dengan buku, angka, dan keberanian bertanya. Anak perempuan yang di kelas SD dibiasakan berpendapat, memecahkan soal, dan diberi contoh sosok perempuan yang percaya diri, akan tumbuh menjadi remaja dan orang dewasa yang tidak canggung mengambil ruang di bidang yang selama ini didominasi laki-laki, entah itu STEM, keuangan, atau politik.
Sayangnya, literasi perempuan sering direduksi hanya menjadi soal kemampuan membaca dan menulis. Padahal literasi yang sesungguhnya menyelamatkan perempuan dari ketimpangan adalah literasi yang lebih luas, literasi finansial supaya tidak mudah terjebak pinjaman daring atau bergantung penuh secara ekonomi, literasi digital supaya bisa memilah informasi dan tidak jadi korban hoaks maupun kekerasan berbasis gender daring, serta literasi kepemimpinan supaya berani duduk di kursi pengambil keputusan.
Sebagai calon guru SD, saya percaya perubahan ini tidak harus menunggu kebijakan besar dari atas. Ia bisa dimulai dari hal sederhana di ruang kelas, membiasakan siswi bertanya dan menyampaikan pendapat tanpa rasa minder, menghadirkan sosok perempuan inspiratif dalam materi ajar, mengenalkan konsep dasar mengelola uang jajan sejak dini, dan tidak diam-diam menganggap wajar ketika anak perempuan lebih pendiam dibanding anak laki-laki
di kelas sains atau matematika.
Literasi perempuan bukan proyek yang selesai dalam satu generasi, tapi ia dimulai dari ruang paling kecil dan paling personal: kelas SD, tempat perempuan kecil pertama kali belajar bahwa suaranya berarti. Dan kelak, merekalah yang akan mengisi angka-angka ketimpangan itu menjadi kesetaraan yang nyata.
Referensi: Badan Pusat Statistik (Indeks Ketimpangan Gender 2025, data APS 2025); Otoritas Jasa Keuangan (Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025); International Labour Organization (2024); World Economic Forum, Global Gender Gap Report 2025.

