Like & Share: Ketika Medsos dan Realita Kekerasan Seksual Remaja Bertemu

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret yang tertarik di bidang digital marketing dan pembuatan konten.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Zachwa Alisya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Isu kekerasan seksual dan bahaya media sosial pada remaja menjadi topik krusial yang diangkat secara jujur dalam film Like & Share (2022) karya Gina S. Noer. Sebagai penikmat film, saya sering melihat layar lebar Indonesia dihiasi kisah manis asmara sekolah. Namun, waktu menyaksikan Like & Share, rasa-rasanya saya seperti diajak melihat realita kelam yang selama ini kerap kita abaikan.
Film ini berfokus pada perjalanan dua sahabat karib berusia 17 tahun, Lisa (Aurora Ribero) dan Sarah (Arawinda Kirana). Dari luar, mereka tampak seperti remaja pada umumnya yang aktif menyalurkan kreativitas lewat kanal YouTube ASMR. Namun di balik kebersamaan itu, tersimpan dinamika personal yang rumit. Lisa melampiaskan stres akibat tekanan keluarganya melalui kebiasaan mengonsumsi konten porno di internet. Sementara Sarah terjebak dalam hubungan asmara manipulatif bersama Deon (Jerome Kurnia), pria dewasa berusia 27 tahun.
Bahaya Manipulasi Grooming dan Stigma Masyarakat
Salah satu adegan yang paling membekas bagi saya adalah saat Deon perlahan mendoktrin dan memanipulasi Sarah. Lewat gestur perhatian berlebih dan kalimat-kalimat manis, Deon meyakinkan Sarah bahwa tindakan mereka adalah bentuk "cinta" dan "kepercayaan". Maksud dari percakapan dan adegan ini memperlihatkan secara jelas dan terbuka bagaimana modus grooming bekerja. Orang dewasa memanfaatkan kepolosan serta haus kasih sayang anak remaja untuk meruntuhkan batasan dirinya secara perlahan tanpa korban sadari.
Puncak konflik emosional terjadi ketika video pribadi Sarah disebarkan secara ilegal di ruang digital tanpa persetujuannya. Adegan ketika Sarah berada di ruang kepala sekolah menjadi momen yang sangat menyayat hati. Maksud adegan ini menggambarkan betapa dinginnya respons lembaga pendidikan dan lingkungan sekitar. Alih-alih mendapatkan perlindungan dan ruang aman, Sarah justru diinterogasi dan dijatuhi sanksi seolah-olah ia adalah pelaku kejahatan tersebut. Percakapan di ruang itu menegaskan betapa refleks victim blaming masih mengakar kuat di masyarakat kita saat menghadapi kasus Kekerasan Seksual Berbasis Elektronik (KSBE).
Makna Percakapan di Akhir Cerita dan Pesan Moral
Pesan kuat film ini kembali ditegaskan menjelang akhir cerita, tepatnya saat Lisa dan Sarah duduk bersama merencanakan video statement mereka. Percakapan di antara dua sahabat ini tidak lagi berisi rasa takut atau kepasrahan, melainkan keberanian untuk mengambil kembali kontrol atas hidup mereka. Makna adegan unggah video tersebut menyampaikan pesan mendalam bahwa suara korban tidak boleh dibungkam oleh stigma.
Melalui perjalanan Lisa dan Sarah, pesan utama yang bisa kita ambil adalah bahwa korban kekerasan seksual di dunia nyata tidak membutuhkan penceramahan, penghakiman, atau stigma. Hal terpenting yang mereka butuhkan adalah support system yang mau merangkul, mempercayai, dan memberikan ruang aman agar mereka bisa memulihkan lukanya. Film ini menjadi pengingat bagi kita semua, baik orang tua, pendidik, maupun teman untuk lebih peka dan hadir bagi remaja di sekitar kita.
