Dari Diajari Menjadi Mengajarkan: Cerita Magang di Sekretariat DPRD DIY

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prodi Manajemen
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Zahidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: Zahidah, Mahasiswa Manajemen FEB UMY

Magang di Bagian Keuangan Sekretariat DPRD DIY mengajarkan saya satu hal yang tidak saya duga akan sepenting ini: kemampuan beradaptasi. Bukan hanya beradaptasi dengan lingkungan kerja pemerintah daerah yang asing bagi saya di awal, tetapi juga dengan rekan kerja yang terus berganti sepanjang periode magang.
Belajar Lagi dari Awal, Setiap Beberapa Bulan
Di Bagian Keuangan, partner magang saya tidak selalu sama sepanjang periode. Setiap beberapa bulan, ada pergantian pasangan kerja, baik karena rotasi penempatan maupun karena mahasiswa magang baru datang menggantikan yang sebelumnya.
Awalnya saya pikir ini akan merepotkan. Baru saja terbiasa dengan cara kerja satu orang, saya harus menyesuaikan lagi dengan yang lain. Namun lama-lama saya sadar, justru di situlah pelajarannya. Setiap orang punya kebiasaan kerja yang berbeda, ada yang teliti dan pelan, ada yang cepat tapi perlu dicek ulang. Saya belajar membaca ritme kerja orang lain, menyesuaikan tempo saya sendiri, dan tetap menjaga agar pekerjaan bersama tidak terganggu meski timnya berubah-ubah. Kemampuan beradaptasi ini, saya rasa, adalah salah satu bekal paling praktis yang saya bawa pulang dari magang ini.
Dari Diajari Menjadi Mengajarkan
Di minggu-minggu awal, saya adalah orang yang paling banyak bertanya. Bagaimana cara memeriksa kelengkapan SPJ, bagaimana mencocokkan kode rekening, bagaimana alur kerja di aplikasi SIPD. Semua itu saya pelajari pelan-pelan, sering kali sambil mencoba dan salah, dengan bimbingan pembimbing lapangan saya.
Namun begitu gelombang mahasiswa magang baru datang, posisi saya berubah. Saya yang tadinya bertanya, kini menjelaskan. Saya mengajarkan cara mengarsipkan SPJ dan LS ke dalam ordner, cara memberi cap atau stempel tanda dokumen sudah diverifikasi, sampai cara menginput dan mencocokkan data pada aplikasi SIPD.
Menjelaskan ternyata jauh lebih menantang daripada mengerjakan sendiri. Saya harus memastikan penjelasan saya runtut, tidak melompat-lompat, dan mudah diikuti oleh orang yang sama sekali baru dengan istilah-istilah pemerintahan. Proses ini mengajarkan saya bahwa memahami sesuatu dan mampu menjelaskannya kepada orang lain adalah dua keterampilan yang berbeda. Saya juga belajar lebih sabar, karena pertanyaan yang sama bisa muncul berkali-kali dari orang yang berbeda.
Siklus yang Terus Berputar
Menariknya, siklus “belajar lalu mengajarkan” ini tidak hanya terjadi sekali. Setiap kali partner baru datang, saya kembali mengulang proses yang sama, menjelaskan alur verifikasi SPJ dan LS, cara pengarsipan, hingga tahapan penyamaan dokumen dengan Rincian Objek (RO) menjelang batas waktu penyerahan ke Inspektorat.
Pengulangan ini, alih-alih membosankan, justru membuat pemahaman saya sendiri semakin kuat. Setiap kali mengajarkan ulang, saya menemukan cara penjelasan yang lebih sederhana, lebih mudah dipahami, dan lebih sesuai dengan kebutuhan orang yang baru belajar.
Dua Pelajaran yang Saya Bawa Pulang
Pertama, beradaptasi bukan keterampilan yang sekali jadi, melainkan sesuatu yang terus diasah. Setiap pergantian partner kerja adalah kesempatan baru untuk belajar bekerja sama dengan cara yang berbeda. Kedua, mengajarkan apa yang sudah dipahami kepada orang lain justru memperdalam pemahaman saya sendiri, sekaligus melatih kesabaran dan cara berkomunikasi yang lebih jelas.
Magang ini mengajarkan saya bahwa pekerjaan administratif sekalipun menyimpan banyak pelajaran tentang kerja sama tim. Bukan hanya soal menyelesaikan tugas sendiri, tetapi juga soal bagaimana terus menyesuaikan diri dan bersedia berbagi ilmu kepada siapa pun yang datang setelah kita.
