Konten dari Pengguna

PKM Universitas Pamulang: Mengembangkan Keterampilan Finansial Remaja

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zahra Nurzahwal Shabita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengelola uang bukan sekadar tentang seberapa banyak uang yang dimiliki, tetapi juga tentang bagaimana uang tersebut digunakan secara bijak dan bertanggung jawab. Kebiasaan sederhana, seperti membedakan kebutuhan dan keinginan, menentukan skala prioritas, serta menyisihkan sebagian uang untuk ditabung, merupakan langkah awal dalam membangun keterampilan finansial sejak usia remaja.

Kesadaran inilah yang menjadi dasar pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Pondok Pesantren At-Taufiqiyyah, Gunung Sindur, Bogor, pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Mengusung tema “Mengembangkan Keterampilan Finansial Remaja melalui Pengelolaan Keuangan yang Cerdas dan Terencana”. Tim PKM diketuai oleh Zahra Nurzahwal Shabita, serta melibatkatkan mahasiswi lainnya yakni Hijra Maharani dan Revalina Andini. Kegiatan ini bertujuan mengajak para santri tingkat SMA memahami pentingnya pengelolaan keuangan melalui kebiasaan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dokumentasi penyampaian materi kepada siswa-siswi Pondok Pesantren Attaufiqiyyah
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi penyampaian materi kepada siswa-siswi Pondok Pesantren Attaufiqiyyah

Membedakan Kebutuhan dan Keinginan

Salah satu materi utama yang disampaikan dalam kegiatan ini adalah pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan. Dalam kehidupan sehari-hari, sesuatu yang ingin dibeli terkadang terasa seperti kebutuhan, padahal sebenarnya masih dapat ditunda. Tanpa pertimbangan yang matang, seseorang dapat menghabiskan uang untuk hal-hal yang kurang mendesak dan mengabaikan kebutuhan yang lebih penting.

Kebutuhan, seperti makanan, perlengkapan sekolah, dan transportasi, perlu diprioritaskan sesuai dengan kondisi masing-masing. Melalui pemahaman ini, para santri diajak untuk membiasakan diri berpikir sebelum membeli sesuatu. Pertanyaan sederhana, seperti “Apakah barang ini benar-benar saya butuhkan?” dan “Apakah pembelian ini dapat ditunda?”, dapat membantu mereka mengambil keputusan keuangan yang lebih bijaksana.

Foto bersama mahasiswa Universitas Pamulang dan para peserta setelah sesi penyampaian materi kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Pondok Pesantren At-Taufiqiyyah

Menyusun Skala Prioritas

Setelah memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, pembahasan dilanjutkan dengan pentingnya menyusun skala prioritas. Uang yang dimiliki memiliki keterbatasan sehingga penggunaannya perlu direncanakan. Artinya, tidak semua hal yang diinginkan harus dipenuhi pada saat yang bersamaan. Kebutuhan yang mendesak perlu didahulukan, sedangkan pengeluaran yang belum terlalu penting dapat ditunda.

Untuk mempermudah, mahasiswa memberikan simulasi pengelolaan uang saku sebesar Rp800.000 dengan pembagian anggaran sebagai berikut:

  1. Rp320.000 untuk kebutuhan utama,

  2. Rp200.000 untuk kebutuhan penunjang/lainnya,

  3. Rp160.000 untuk tabungan, dan

  4. Rp120.000 untuk alokasi keinginan.

Simulasi tersebut menunjukkan bahwa uang saku dapat dikelola melalui pembagian anggaran yang terencana. Dengan menyisihkan 40% untul kebutuhan utama, 25% kebutuhan lain, 20% untuk tabungan, dan 15% untuk keinginan. Mengalokasikan dana sesuai kebutuhan, dan membatasi pengeluaran untuk keinginan, remaja dapat belajar mengendalikan penggunaan uang secara lebih terarah.

Dari simulasi ini, kami ingin menunjukkan bahwa mengatur uang bukan berarti tidak boleh membeli sesuatu yang diinginkan. Yang terpenting adalah mengetahui batas dan tetap mendahulukan apa yang menjadi kebutuhan dasar.

Menabung untuk Mewujudkan Tujuan Keuangan

Selain mengatur pengeluaran, kegiatan ini juga menekankan pentingnya menabung sebagai bagian dari kebiasaan finansial yang sehat. Menabung tidak harus dimulai dengan nominal besar. Justru, kebiasaan menyisihkan uang secara rutin dan konsisten merupakan fondasi penting dalam membangun kedisiplinan finansial.

Agar lebih efektif, kegiatan menabung sebaiknya disertai tujuan yang jelas. Misalnya, seorang santri ingin mengumpulkan uang untuk membeli perlengkapan belajar, memenuhi kebutuhan pendidikan, atau mempersiapkan keperluan tertentu di masa mendatang. Tujuan tersebut perlu disertai target nominal dan jangka waktu agar proses menabung menjadi lebih terarah. Menabung bukan sekadar menyimpan sisa uang setelah berbelanja, melainkan menjadi bagian dari perencanaan keuangan sejak awal.

Penyerahan sertifikat dari Universitas Pamulang Kepada Pondok Pesantren At-Taufiqiyyah oleh dosen pembimbing.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya berbagi pengetahuan, tetapi juga belajar menyampaikan konsep keuangan dengan bahasa yang sederhana, komunikatif, dan mudah dipahami oleh para santri. Membandingkan kebutuhan dan keinginan, menyusun skala prioritas, membagi anggaran, serta menyisihkan uang untuk tabungan merupakan praktik nyata yang dapat diterapkan tanpa harus menunggu seseorang memiliki penghasilan sendiri.

Kegiatan PKM di Pondok Pesantren At-Taufiqiyyah menjadi pengalaman berharga bagi kami untuk menerapkan ilmu pengetahuan sekaligus berkontribusi dalam meningkatkan pemahaman keuangan di kalangan remaja.

Penyerahan sertifikat kepada Bapak Bambang Sutarto, S. AP., M.M dan Bapak Dr. Supatmin, S.E., M.M., M.Pd selaku dosen pembimbing oleh ketua pelaksana Zahra Nurzahwal Shabita

Melalui kebiasaan sederhana tersebut, para santri diharapkan tidak hanya mampu mengelola uang saku dengan lebih baik, tetapi juga memiliki bekal untuk mengambil keputusan keuangan yang lebih matang ketika menghadapi tantangan kehidupan di masa mendatang.

Ditulis oleh:

Hijra Maharani, Revalina Andini, dan Zahra Nurzahwal Shabita.

Mahasiswi Universitas Pamulang, Program Studi Manajemen.