Konten dari Pengguna

AI Translation vs Penerjemah Manusia: Siapa yang Lebih Unggul?

Zahra Nurhaliza

Zahra Nurhaliza

student of UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zahra Nurhaliza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

www.pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
www.pexels.com

Dalam beberapa tahun terakhir, AI kian marak digunakan oleh berbagai kalangan masyarakat. Banyak orang menggunakan AI untuk membantu dan mempermudah pekerjaannya. Seperti dalam pembuatan gambar atau ilustrasi berdasarkan prompt, membuat desain, mengedit foto dan video, mengolah data, pemrograman, menganalisis, membuat tulisan, meringkas, bahkan menerjemahkan dokumen.

Di antara banyaknya tugas yang dapat dilakukan oleh AI, penerjemahan adalah salah satu bidang yang paling banyak digunakan oleh para pelajar, pekerja, maupun perusahaan-perusahaan yang membutuhkan layanan penerjemahan secara cepat. Hal ini disebabkan karena alat terjemahan bertenaga AI atau biasa disebut AI Translation kini mampu mengubah teks dari satu bahasa ke bahasa lain dalam hitungan detik dengan tingkat akurasi yang juga terus meningkat.

Beberapa aspek yang dapat dilakukan oleh AI Translation ini yaitu menerjemahkan dokumen, menerjemahkan situs web, menerjemahkan content media sosial, serta menerjemahkan subtitle video dan caption. Beberapa aplikasi juga menyediakan fitur terjemahan real-time, yaitu sebuah fitur yang dapat membantu kita menerjemahkan dan berkomunikasi secara langsung dengan penutur bahasa asing. Kemampuan ini tentu telah membuat komunikasi lintas bahasa menjadi lebih cepat dan mudah diakses daripada sebelumnya.

Jadi, dari apa yang sudah disebutkan di atas terkait kemampuan AI dalam menerjemahkan, apakah saat ini penerjemah manusia masih dibutuhkan? Topik ini terus menjadi perdebatan dalam beberapa waktu terakhir, namun, untuk mengetahui apakah AI ini benar-benar bisa menggantikan peran penerjemah atau tidak, perlu bagi kita untuk melihat apa saja kekuatan dan kelemahannya. Mari kita bahas lebih lanjut.

Kelebihan dan Kekurangan AI dalam Menerjemahkan

Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini AI telah meningkatkan kualitas penerjemahannya secara signifikan. Ia tidak lagi menerjemahkan teks secara harfiah atau kata demi kata, tetapi juga berusaha untuk memahami makna, konteks serta nuansa pada suatu teks untuk menghasilkan terjemahan yang alami.

Meski sejauh ini AI telah menunjukan perkembangannya yang signifikan, ia kerap memiliki beberapa kelebihan dan kekurangannya. Mari kita bahas terlebih dahulu beberapa kelebihan yang dimiliki oleh AI Translation dalam menerjemahkan.

1. Kecepatan

Dalam segi kecepatannya, AI jauh lebih unggul di banding manusia. Ia bisa menerjemahkan teks panjang hanya dalam waktu hitungan detik. Hal ini disebabkan karena ia memanfaatkan pemrosesan data secara paralel, teknologi Neural Machine Translation (NMT) dapat memproses sejumlah besar teks dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga secara signifikan dapat mengurangi waktu.

Selain itu, AI juga tidak bekerja layaknya manusia, seperti membaca dan berpikir, melainkan ia melakukannya dengan mencocokkan miliaran pola bahasa yang telah dipelajari sebelumnya. Sehingga memungkinkan AI untuk menghasilkan terjemahan yang lebih alami sambil mempertahankan tata bahasa.

2. Efisiensi

Kelebihan dalam menggunakan AI yang kedua adalah menghemat biaya. Meskipun ada beberapa aplikasi dan situs web AI yang hanya dapat digunakan dengan berlangganan, namun banyak juga platform AI yang dapat dimanfaatkan secara cuma-cuma. Hal ini tentu membuat banyak orang cenderung memilih menerjemahkan menggunakan AI dibandingkan dengan menyewa jasa penerjemah profesional.

3. Ketersediaan

Berbeda dengan manusia yang memiliki keterbatasan jam kerja, AI translation dapat di akses dan digunakan selama 24 jam. Artinya, kapanpun kita membutuhkan AI untuk menerjemahkan dokumen, ia selalu bisa diandalkan.

Itulah tiga poin utama keunggulan yang dimiliki oleh AI translation. Namun, terlepas dari kecanggihan yang luar biasa ini, AI masih mempunyai sejumlah keterbatasan yang perlu diperhatikan.

1. Istilah Budaya

Meskipun AI telah menunjukkan kemampuan menerjemahkannya dengan baik, namun, apabila dalam sebuah teks terdapat istilah budaya, AI seringkali tidak mampu mengenali dan mempertahankan nuansa budaya. Keterbatasan ini dapat menjadi masalah serius, terutama saat menerjemahkan ungkapan-ungkapan yang mengandung istilah budaya, sapaan, atau tata krama, yang mungkin dapat menyebabkan kesalahpahaman yang tidak disengaja atau gagal dalam menyampaikan makna aslinya.

2. Intonasi dan Emosi

Dalam menerjemahkan lirik lagu, film, puisi dan karya sastra lainnya, penting bagi penerjemah untuk mempunyai rasa empati dan kreativitas, agar pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penutur bahasa sasaran. Namun, dalam hal ini AI seringkali gagal dalam menangkap makna yang ada di balik sebuah intonasi dan emosi di dalam teks. Sehingga dalam hal ini AI masih menghasilkan terjemahan yang datar. Karena pada dasarnya, dalam komunikasi lisan itu intonasi memiliki peran penting dalam menyampaikan emosi, sikap, dan makna tersirat. Kalimat yang sama dapat memiliki makna yang berbeda, tergantung bagaimana cara kalimat itu disampaikan.

Peran Penerjemah Manusia di Era AI

Perkembangan AI saat ini memang telah membawa perubahan besar, termasuk bagaimana cara penerjemah bekerja dalam menerjemahkan suatu karyanya, namun hal tersebut tetap tidak bisa sepenuhnya menghilangkan peran penerjemah manusia. Saat ini justru banyak penerjemah profesional yang juga memanfaatkan AI untuk membuat draf awal sebelum melakukan proses revisi dan penyuntingan. Pendekatan ini dikenal sebagai Machine Translation Post-Editing (MTPE), yaitu proses memperbaiki hasil terjemahan mesin agar lebih akurat, alami, dan sesuai dengan konteks aslinya.

Penerjemah manusia tetap memiliki peran penting karena mereka mampu memahami konteks budaya, menangkap makna tersirat, serta membuat keputusan linguistik yang tidak selalu dapat dilakukan oleh mesin. Dalam penerjemahan karya sastra, dokumen hukum, teks akademik, maupun materi pemasaran, keahlian manusia masih sangat dibutuhkan untuk memastikan kualitas terjemahan. Dengan demikian, AI tidak sepenuhnya menggantikan penerjemah manusia, melainkan menjadi alat bantu yang dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Kesimpulan

Sudah kita ketahui bahwa AI Translation telah membawa kemajuan besar dalam dunia penerjemahan. Baik dalam hal kecepatan, efisiensi, maupun kemudahan aksesnya. Hal ini menjadikannya solusi yang sangat mudah dan bermanfaat untuk kita gunakan dalam berbagai kebutuhan, salah satu contohnya adalah dalam komunikasi lintas bahasa.

Namun, AI juga masih memiliki keterbatasan dalam memahami konteks, budaya, kreativitas, serta nuansa makna yang kompleks, seperti idiom, metafora dan istilah budaya, sehingga ia dapat menghasilkan terjemahan yang secara tata bahasa benar, namun kurang tepat secara semantik. Oleh karena itu, peran penerjemah manusia di sini tetaplah sangat dibutuhkan, terutama dalam penerjemahan karya sastra, dokumen hukum, politik, medis, teks akademik, maupun subtitle film.

Dengan begitu, masa depan dunia penerjemahan tidak perlu menjadikan AI sebagai saingan bagi penerjemah manusia. Model penerjemahan hibrida sudah banyak dilakukan oleh para penerjemah profesional, yaitu dengan menggabungkan kecanggihan teknologi dan kemampuan berpikir manusia. Dalam hal ini, alat bantu AI dapat menghasilkan draf awal terjemahan, yang selanjutnya dapat disempurnakan oleh para penerjemah manusia untuk menjamin berbagai aspek yang masih menjadi kekurangan AI seperti, akurasi, nada, maupun relevansi budayanya.

Referensi

Shahmerdanova, R. (2025). Artificial Intelligence in Translation: Challenges and Opportunities. Acta Globalis Humanitatis et Linguarum, Vol. 2, No. 1. h. 62-70.