Maraknya Bocoran Psikotes di Media Sosial: Masihkah Efektif Menyeleksi Karyawan?

Mahasiswi Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Zalfa Aisya firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa yang tidak kenal psikotes? Hampir semua pencari kerja pernah mengalaminya. Tes ini menjadi salah satu tahapan penting sebelum seseorang diterima di sebuah perusahaan, BUMN, atau instansi pemerintah. Bahkan, seringkali psikotes menjadi faktor utama yang menentukan apakah seseorang dapat melanjutkan ke tahap berikutnya atau justru gagal di tahap awal. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, terjadi perubahan yang cukup signifikan.
Platform media sosial seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan X kini dipenuhi oleh kontenkonten yang membocorkan pola jawaban psikotes. Banyak akun dengan percaya diri memberikan tutorial menggambar pohon pada Tes Baum, memberikan trik mengerjakan Tes Kraepelin, atau membagikan pola jawaban untuk Tes Wartegg. Bahkan, tidak sedikit konten kreator yang dengan percaya diri menawarkan paket bocoran soal psikotes untuk berbagai perusahaan besar. Mulai dari soal untuk posisi staff, supervisor, hingga manajer. Semuanya bisa didapatkan dengan harga yang bervariasi.
Fenomena ini kini bukan lagi hal yang jarang kita temui. Bahkan, hashtag seperti #TipsPsikotes atau #LolosHRD telah mendapatkan jutaan penayangan. Yang dulunya merupakan instrumen rahasia yang hanya dikuasai oleh psikolog dan profesional HRD, kini berubah menjadi materi hafalan publik yang bisa diakses oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.
Tentu saja, kemudahan akses ini memunculkan pertanyaan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Jika jawaban psikotes sudah tersebar begitu luas di media sosial, apakah alat seleksi ini masih efektif dalam memilih karyawan yang benar-benar kompeten? Atau bisa jadi perusahaan hanya sedang merekrut individu yang pandai berpura-pura menjadi kandidat ideal?
Pertanyaan ini penting untuk dijawab, mengingat psikotes masih menjadi salah satu instrumen utama dalam proses rekrutmen di Indonesia.
Mengenal 'Faking Good' dan Upaya Menjadi Kandidat Sempurna
Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu memahami dulu konsep penting dalam psikologi seleksi, yaitu faking good. Istilah ini merujuk pada kecenderungan pelamar untuk memberikan gambaran diri yang terlalu positif secara sadar. Tujuannya jelas, yaitu agar mereka tampak sebagai kandidat ideal di mata perekrut. Pelamar yang melakukan faking good biasanya akan memberi jawaban yang dianggap "baik" oleh perusahaan. Mereka akan terlihat sangat disiplin, sangat bertanggung jawab, mudah diajak bekerja sama, dan hampir tidak menunjukkan kelemahan apapun. Padahal, dalam kehidupan nyata, tidak ada manusia yang sempurna.
Mengapa perilaku ini dapat terjadi? Seleksi kerja adalah situasi dengan risiko yang tinggi (high stakes). Gaji, karier, dan masa depan dipertaruhkan. Tekanan ini secara alami mendorong pelamar untuk melakukan apa pun agar diterima, termasuk memanipulasi jawaban. Terlebih lagi jika pelamar sudah lama menganggur atau menghadapi tekanan finansial yang signifikan. Beberapa peneliti menyebut fenomena ini sebagai moral hypocrisy. Seseorang yang sebenarnya sepenuhnya memahami pentingnya
kejujuran, tetap rela berbohong demi keuntungan pribadi. Media sosial kemudian menjadi platform yang paling efektif untuk melakukannya. Pelamar tidak lagi menjawab berdasarkan kepribadian aslinya. Mereka menjawab berdasarkan tutorial yang mereka tonton malam sebelumnya, bukan berdasarkan kepribadian aslinya.
Hasilnya, psikotes yang seharusnya menjadi alat ukur kepribadian justru berubah menjadi kompetisi untuk mengingat jawaban.. Yang awalnya dirancang untuk menggali potensi asli seseorang, kini hanya menjadi formalitas belakang.
Dampak Bagi Perusahaan
Lalu, apa dampaknya bagi perusahaan jika pelamar bebas memanipulasi jawaban?
Ternyata dampaknya tidak main-main. Kerugian yang dialami bisa bersifat langsung atau tidak langsung, serta berdampak dalam jangka waktu yang pendek atau jangka panjang.
Sebuah penelitian terbaru yang merangkum berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa faking dapat menurunkan validitas tes hingga sepertiga dari akurasi aslinya. Artinya, hasil psikotes yang diperoleh semakin tidak mencerminkan kemampuan dan kepribadian sebenarnya dari pelamar. Dengan kata lain, perusahaan sedang mengambil keputusan penting berdasarkan data yang tidak akurat.
Bahkan, sebuah penelitian lapangan yang melibatkan 162 pelamar asli mengungkapkan hasil yang sangat mengejutkan. Hampir 50 persen dari mereka, tepatnya 49,7 persen, terdeteksi melakukan faking pada setidaknya satu aspek dalam tes kepribadian. Ini adalah angka yang signifikan. Bayangkan saja, hampir setengah dari pelamar yang hadir tidak sepenuhnya jujur ketika menjawab pertanyaan dalam tes.
Ironisnya, hasil berikutnya juga menunjukkan temuan yang mencolok. Mereka yang melakukan faking justru menempati peringkat teratas dalam proses seleksi. Sementara itu, pelamar yang jujur justru tersingkir. Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai rank order effect. Posisi peringkat berubah secara drastis karena ulah para pelamar yang tidak jujur. Dan yang lebih buruk lagi, ketika para fakers ini akhirnya diterima bekerja, performa mereka secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang mengerjakan tes dengan jujur. Dalam satu penelitian, perbedaan performa antara fakers dan yang jujur cukup besar. Dengan kata lain, perusahaan tidak hanya salah dalam merekrut, tetapi juga kehilangan produktivitas di kemudian hari. Biaya rekrutmen yang telah dikeluarkan pun menjadi sia-sia.
Mengapa Fenomena Ini Begitu Marak di Indonesia?
Kita juga tidak bisa memisahkan fenomena ini dari konteks budaya. Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang sangat kolektif. Berbeda dengan negara-negara Barat yang cenderung individualistis, masyarakat Indonesia lebih mengutamakan kepentingan kelompok daripada kepentingan pribadi.
Penelitian lintas budaya yang cukup terkenal menunjukkan bahwa skor individualisme Indonesia sangat rendah. mencerminkan adanya tekanan besar untuk selalu mengikuti norma sosial yang ada. Pandangan keluarga dan orang-orang sekitar sangat berpengaruh terhadap pilihan individu, termasuk dalam hal pemilihan pekerjaan. Sering kali, dorongan dari orangtua atau pasangan membuat individu merasa mereka harus berhasil dalam seleksi dengan cara apapun.
Penelitian lain yang dilakukan di Indonesia juga menemukan hal yang menarik. Tipe faking yang paling umum terjadi di Indonesia adalah Image Protection. Istilah ini merujuk pada upaya sadar untuk menyembunyikan kelemahan pribadi agar tetap terlihat ideal di mata orang lain. Pelamar akan berusaha keras untuk menyembunyikan kekurangan mereka, bahkan jika itu berarti harus berbohong.
Nilai-nilai budaya seperti menjaga keharmonisan, menghindari konflik, dan rasa hormat kepada orang tua membuat banyak individu cenderung memilih jawaban yang terlihat "aman" dan tidak memicu perdebatan. Mereka tidak ingin dianggap berbeda atau mengecewakan orang-orang di sekitarnya. Akibatnya, saat muncul kebocoran tentang tes psikologi, banyak pelamar merasa bahwa hal tersebut adalah hal yang wajar. Bahkan, sejumlah besar yang menganggapnya sebagai bagian dari persiapan yang matang. Yang terpenting bagi mereka adalah hasil akhir, yaitu lolos dalam seleksi. Cara mendapatkannya sering kali diabaikan.
Solusi yang Bisa Diterapkan
Lantas, apakah psikotes sudah tidak relevan dan sebaiknya dihilangkan dari proses rekrutmen karyawan? Jawabannya adalah tidak. Psikotes masih memiliki banyak manfaat dan masih bisa menjadi alat seleksi yang efektif. Namun, tes ini perlu melakukan pembaruan dan penyesuaian. Perusahaan tidak lagi bisa menggunakan soal yang sama bertahuntahun lamanya tanpa melakukan pembaruan.
Beberapa pendekatan modern mulai dikembangkan dan diterapkan oleh perusahaanperusahaan untuk mengatasi masalah ini.
Forced-Choice: Dalam format ini, pelamar dipaksa harus memilih antara dua pernyataan yang keduanya positif. Dengan cara ini, tidak ada pelamar yang bisa tampil sempurna di semua aspek kepribadian sekaligus. Mereka harus memilih mana yang
lebih mencerminkan diri mereka.
Memberikan Peringatan Di Awal Tes: Cukup dengan menyebutkan bahwa sistem yang digunakan dapat mendeteksi jawaban yang tidak jujur, tingkat faking terbukti menurun secara signifikan. Penelitian menunjukkan bahwa peringatan yang jelas dan informatif sangat efektif untuk membuat pelamar berpikir dua kali sebelum berbohong.
Menggunakan Gamifikasi atau Tes Berbasis Skenario: Metode ini meningkatkan tuntutan kognitif pelamar, sehingga mereka akan lebih sulit untuk berpura-pura. Semakin kompleks sebuah tes, semakin sulit pula untuk dimanipulasi. Pelamar akan lebih fokus pada pemahaman soal daripada mencari pola jawaban yang "benar".
Penggunaan Skala Kebohongan atau Lie Scales: Ini adalah item-item khusus yang dirancang untuk menangkap jawaban-jawaban yang terlalu sempurna. Misalnya, pernyataan seperti "Saya tidak pernah berbohong seumur hidup" atau "Saya selalu bersikap baik kepada semua orang". Jawaban "sangat setuju" terhadap pernyataan semacam itu biasanya mencurigakan. Agar tidak mudah dikenali oleh pelamar, itemitem ini harus diacak di antara soal-soal lain,dan tidak boleh dikelompokkan dalam satu bagian khusus.
Meninggalkan Soal-Soal Lama: Perusahaan perlu berani meninggalkan soal-soal lama yang telah beredar di media sosial selama bertahun-tahun. Kombinasi psikotes dengan metode seleksi lain seperti wawancara mendalam, asesmen portofolio, atau simulasi kerja juga sangat dianjurkan. Semakin beragam metode yang diterapkan, semakin kecil peluang pelamar untuk memanipulasi seluruh proses seleksi.
Kesimpulan
Fenomena bocoran psikotes yang muncul di platform media sosial bukanlah tanda berakhirnya proses seleksi untuk pekerjaan. Melainkan ini merupakan sebuah peringatan bahwa sistem yang ada perlu diperbaiki. Ini adalah alarm bagi para praktisi HRD dan manajemen perusahaan untuk bergerak.
Psikotes masih bisa efektif, asalkan memenuhi beberapa syarat. Perusahaan harus berani beradaptasi. Memperbarui soal secara berkala, menggunakan format tes yang sulit dimanipulasi, dan tidak hanya mengandalkan satu alat seleksi saja. Perusahaan juga perlu melatih HRD-nya untuk memahami teknik-teknik terbaru dalam mendeteksi faking. Namun, jika perusahaan masih bersikeras menggunakan soal-soal lama yang sudah viral di platform media sosial, maka mereka tidak sedang melakukan proses seleksi karyawan. Mereka sedang membuka pintu lebar-lebar bagi mereka yang pandai berpura-pura menjadi kandidat ideal. Mereka sedang mengundang masalah masuk ke dalam organisasi.
Pada akhirnya, kualitas seleksi sangat menentukan kualitas organisasi. Perusahaan yang baik akan selalu mencari cara untuk mendapatkan karyawan terbaik dengan cara yang adil dan jujur. Sementara perusahaan yang malas akan terus terjebak dalam siklus rekrutmen yang tidak berkualitas.
Pilihan untuk berubah atau bertahan ada di tangan kita semua. Apakah kita akan terus membiarkan psikotes menjadi sekadar sarana untuk menghafal, atau apakah kita akan memperbaiki diri demi masa depan organisasi yang lebih baik?
________________________________________________
Oleh Zalfa Aisya Firmansyah dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog
