Perlukah HMI Dibubarkan, atau Kaderisasinya yang Harus Dikoreksi?

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ushuluddin, Program Studi Studi Agama Agama
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Zalina Aulia Nuristifani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Bubarkan saja HMI” Kalimat ini terdengar keras, bahkan mungkin tidak adil bagi banyak kader yang masih bekerja dan berjuang di tengah masyarakat. Namun, setiap seruan pembubaran memiliki pertanyaan yang tidak boleh dihindari, "kenapa sebuah organisasi sampai dianggap layak untuk dibubarkan?".
Pertanyaan tersebut tidak selalu harus dibaca secara harfiah. Pertanyaan tersebut dapat menjadi ekspresi kekecewaan terhadap organisasi yang dianggap tidak lagi mampu menjawab persoalan zaman.
HMI sudah dikenal sebagai organisasi mahasiswa Islam tertua di Indonesia yang didirikan pada tahun 1947. HMI memiliki tujuan membentuk insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab terhadap terwujudnya masyarakat adil dan makmur.
Oleh karena itu, evaluasi terhadap HMI tidak cukup hanya melihat jumlah anggota, kegiatan, atau struktur organisasinya. Yang lebih penting adalah, apakah kader mampu berpikir kritis?, apakah organisasi ini masih relevan dengan persoalan masyarakat?, apakah kaderisasi menghasilkan teladan?, dan terakhir apakah HMI masih mampu mengoreksi dirinya sendiri?.
Masalah organisasi bukan hanya terletak pada seberapa indah rumusan tujuannya, tapi pada seberapa jauh rumusan tersebut terlihat dalam perilaku kader. Sebuah organisasi bukan hanya dinilai dari apa yang ia katakan tentang dirinya, tetapi juga dari apa yang dilakukan kadernya ketika menghadapi kekuasaan, kepentingan, dan persoalan publik.
Apakah pembubaran menyelesaikan masalah?
Membubarkan suatu organisasi tidak otomatis membubarkan mentalitas yang membuat organisasi itu bermasalah. Jika masalahnya adalah cara berpikir, budaya senioritas, dan orientasi jabatan, maka organisasi baru pun dapat mengulangi persoalan yang sama.
HMI tidak boleh berlindung di balik sejarah panjang, nama besar, atau banyaknya alumni. Organisasi yang pernah berjasa tetap harus dinilai dari relevansinya hari ini.
Persoalan kaderisasi yang perlu dikoreksi
Kader mungkin hafal istilah, sejarah, dan doktrin organisasi, tetapi tidak mampu menghubungkannya dengan ketimpangan, kekerasan, lingkungan, teknologi, dan demokrasi. Kaderisasi yang hanya berhenti pada hafalan akan sulit melahirkan pemikir. Kemungkinan akan lebih banyak menghasilkan pengulang kata-kata daripada merumuskan gagasan.
Persoalan senioritas yang seharusnya memiliki pengaruh besar, tetapi tidak selalu menunjukkan integritas yang dapat diteladani. Masalahnya muncul ketika kader lebih takut kepada senior daripada takut melakukan kesalahan.
Perihal kritik kader justru dianggap loyal ketika mengikuti keputusan yang ada, bukan ketika membantu organisasi dalam menemukan kesalahan. Padahal, organisasi yang sehat membutuhkan ruang untuk menyampaikan perbedaan pendapat maupun kritikan.
Selain itu soal jabatan yang seolah-olah menjadi ukuran utama keberhasilan kader, organisasi berisiko kehilangan pertanyaan yang lebih penting "apakah jabatan tersebut digunakan untuk memperbaiki kehidupan masyaraka?". Organisasi kader seharusnya tidak hanya mengajarkan cara mendapatkan posisi, tapi juga bagaimana mempertanggungjawabkan posisi tersebut. Apa jadinya ketika struktur organisasi menjadi arena perebutan posisi, bukan sarana pembentukan kapasitas. Ketika jabatan menjadi tujuan utama, kaderisasi berisiko berubah menjadi kompetisi karier.
Apa arti koreksi kaderisasi?
Koreksi kaderisasi bukan hanya sekadar mengganti pengurus atau mengubah nama program. Ia harus mengubah cara organisasi mendidik manusia. Dapat dimulai dengan mengubah kaderisasi dari hafalan menuju pembacaan kritis, menjadikan isu publik sebagai bahan utama diskusi, mengevaluasi kader berdasarkan integritas dan kontribusi, mengurangi budaya senioritas yang tidak produktif, membuka ruang bagi perempuan dan kelompok minoritas, menjaga jarak organisasi dari kepentingan elite, dan menghidupkan kembali tradisi riset dan kepenulisan.
“Bubarkan saja HMI” mungkin yang perlu dibubarkan bukan HMI, melainkan pola HMI yang hanya menghasilkan kebanggaan simbolik tanpa dibarengi dengan intelektualitas, yang mengajarkan independensi tetapi justru bergantung pada patron, yang berbicara tentang pengabdian tetapi justru mengukur keberhasilan dari jabatan.
HMI tidak akan diselamatkan hanya dengan mempertahankan nama, lambang, ataupun sejarahnya. HMI hanya dapat dipertahankan jika berani mengoreksi dirinya sendiri.
Jika seruan “bubarkan HMI” muncul karena kekecewaan terhadap perilaku kader, jawaban terbaik bukan sekadar kemarahan. Jawaban terbaik adalah pembuktian bahwa organisasi ini masih mampu melahirkan manusia yang berilmu, berintegritas, kritis terhadap kekuasaan, dan berguna bagi masyarakat. Yang mungkin perlu dibubarkan bukan HMI, melainkan kemalasan berpikir, kultus senioritas, pragmatisme kekuasaan, dan kaderisasi tanpa keteladanan.
