Konten dari Pengguna

Dilema Akuntan : Memoles Laba Saat Rupiah Tercekik

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zaskia Talita Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dibuat menggunakan Artificial Intelligence (AI) melalui ChatGPT (OpenAI), 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dibuat menggunakan Artificial Intelligence (AI) melalui ChatGPT (OpenAI), 2026.

Kalian pernah denger nggak istilah “fake it till you make it”? Ternyata kalimat itu bukan hanya berlaku di dunia maya saja. Namun, juga berlaku dalam dunia akuntansi. Bagaimana tidak? Ditengah tekanan, seorang akuntan perlu berpura-pura untuk menghasilkan laporan keuangan agar tetap hijau. Apalagi di masa krisis saat ini.

Dengan keadaan rupiah yang sekarang diperkirakan menyentuh Rp18.000 per USD. Apakah ini adalah hal yang normal? Ya, tentu saja. Karena kondisi global yang tak dapat diprediksi. Namun, perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor akan gelisah. Pelemahan rupiah menyebabkan harga bahan baku menjadi naik, sehingga laba yang didapat akan sedikit.

Manajer, investor, dan para pemegang saham ingin hasil laporannya selalu naik dan menguntungkan. Tekanan tersebut membuat para akuntan bingung. Haruskah akuntan merekayasa kondisi keuangan agar laba tetap optimal, atau tetap mempertahankan etika profesinya?

Dampak Tercekiknya Rupiah terhadap Laba

Tercekiknya rupiah menyebabkan nilai tukar menjadi lemah. Hal ini membuat laba akan tergerus hebat karena naiknya bahan baku impor. Ditambah, perusahaan yang bergantung pada utang luar negeri akan kesulitan untuk melunasinya.

Laba yang menipis dapat menyebabkan harga saham menurun. Selain itu, juga dapat membuat para investor lari dan berpindah ke pasar yang lebih aman. Ini akan menyebabkan laporan keuangan perusahaan menjadi merah.

Antara Creative Accounting atau Memoles Laba

Akuntansi kreatif (Creative accounting) adalah penerapan pemalsuan hasil laporan keuangan supaya keadaan perusahaan terlihat jauh lebih baik. Ini sebenarnya berada di batas abu-abu antara kreativitas atau kecurangan (Fraud).

Pada akuntansi kreatif, biasanya akuntan akan menentukan metode depresiasi dan persediaan yang memberikan laba lebih tinggi. Seorang akuntan juga bisa mengganti beban menjadi aset agar laba tidak turun. Estimasi umur manfaat aset juga dapat diperpanjang untuk mengurangi beban depresiasi.

Ada batasan yang perlu seorang akuntan ketahui bila ingin melakukan akuntansi kreatif. Batasan di mana akuntansi kreatif dianggap legal, atau justru ilegal. Maka, penerapan ini harus tetap berdasarkan standar akuntansi yang berlaku.

Metode depresiasi dan persediaan yang dipilih perlu sesuai dengan yang diizinkan. Beban dapat dicatat sebagai aset apabila beban tersebut masih memiliki manfaat ekonomi di masa depan. Estimasi umur manfaat aset juga harus disesuaikan dengan keadaan aset yang nyata.

Dampak dan Risiko Kecurangan

Apabila penerapan tersebut melewati batas aman, atau menyentuh kecurangan (fraud). Maka, jika kecurangan tersebut terungkap, perusahaan dapat kehilangan kepercayaan masyarakat dan investor.

Selain itu seorang akuntan tersebut berpotensi memiliki reputasi yang buruk, gelar profesi nya di lepas, atau bahkan bisa di bawa ke ranah hukum. Hal ini juga sangat merugikan investor. Karena sesatnya informasi yang diberikan, investor jadi tidak tahu kondisi asli perusahaan yang sebenarnya.

Strategi Menghadapi Krisis tanpa Mengorbankan Etika Profesi

Untuk mempertahankan kredibilitas profesinya, seorang akuntan perlu menyajikan laporan keuangan yang sesuai dengan standarnya. Transparansi juga sangat diperlukan dalam pengungkapan risiko kurs. Meskipun laporan keuangan yang disajikan terlihat tidak menarik dari biasanya, namun seorang akuntan perlu tetap menjaga etika profesinya.

Kesalahan sedikit yang dibuat oleh akuntan sangat berakibat fatal terhadap keberlangsungan perusahaan. Menariknya hasil laporan keuangan setelah dimanipulasi lebih buruk daripada pahit nya hasil aktual. Peran akuntan dalam masa krisis bukan sebagai juru penyelamat sementara. Melainkan, sebagai pengungkap data aktual dan transparansi yang berkelanjutan.

Kejujuran dan integritas seorang akuntan sangat diperlukan. Pengawasan auditor yang ketat juga penting. Antara pemilik perusahaan dan yang menyajikan laporan keuangan perlu bekerja sama. Bersama-sama kuat untuk menghadapi badai dengan tenang.

Antara Angka dan Kejujuran

Angka yang hijau memang terlihat enak untuk dipandang. Tetapi, apabila hal tersebut mengorbankan kejujuran, integritas, dan tanggung jawab. Maka, kualitas laporan keuangan yang disajikan akan dipertanyakan.

Perlu diingat bahwa tugas utama seorang akuntan adalah menyajikan laporan keuangan apa adanya. Tidak boleh terpengaruh pada tekanan sekitar, kondisi krisis, ataupun masalah pribadi. Hasil laporan keuangan yang disajikan harus benar-benar sesuai dengan standar yang berlaku.

Hingga akhirnya, penyelamatan perusahaan pada periode ini memang dapat dilakukan dengan memoles laba. Namun, kejujuran adalah hal yang perlu dipertahankan oleh seorang akuntan untuk keberlanjutan perusahaan hingga masa depan.