Banyak Pencari Kerja, Mengapa Perusahaan Masih Kesulitan Merekrut?
Tulisan dari Nastiar Nurul Fauziah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mencari pekerjaan sekarang bukan sekadar mengirim CV dan menunggu panggilan wawancara. Banyak pencari kerja harus melamar ke berbagai perusahaan, bersaing dengan banyak kandidat, bahkan menghadapi penolakan berkali-kali. Namun, di sisi lain, perusahaan juga mengaku kesulitan menemukan karyawan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Menurut saya, kondisi ini menimbulkan pertanyaan: jika pencari kerja masih kesulitan mendapatkan pekerjaan, mengapa perusahaan juga kesulitan menemukan karyawan?
Dalam berita Kompas.com pada 17 Februari 2026, survei Robert Walters Salary Survey 2026 mengungkapkan bahwa 81% perusahaan yang disurvei di Indonesia menilai kualitas kandidat belum sesuai dengan posisi yang mereka cari. Kondisi ini menunjukkan adanya persoalan yang perlu diperhatikan dalam proses perekrutan dan kesiapan tenaga kerja.
Menurut saya, masalah ini tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pencari kerja. Memang, pencari kerja perlu meningkatkan kemampuan dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri. Namun, perusahaan juga perlu mengevaluasi persyaratan yang mereka tetapkan. Saya berpendapat bahwa perusahaan seharusnya tidak hanya mencari kandidat yang sudah memiliki semua kemampuan yang dibutuhkan, tetapi juga mempertimbangkan kandidat yang memiliki potensi untuk berkembang.
Saya melihat salah satu tantangannya adalah persyaratan lowongan kerja yang terkadang cukup tinggi, bahkan untuk posisi tingkat pemula. Jika perusahaan selalu mengutamakan pengalaman kerja, bagaimana lulusan baru bisa mendapatkan pengalaman pertama mereka? Menurut saya, perusahaan perlu membedakan keterampilan yang wajib dimiliki sejak awal dan keterampilan yang masih bisa dipelajari setelah seseorang diterima bekerja.
Dalam konteks Manajemen Strategi SDM, perusahaan seharusnya tidak hanya berfokus pada perekrutan, tetapi juga memikirkan pengembangan karyawan dalam jangka panjang. Menurut saya, strategi SDM yang baik bukan sekadar menemukan orang yang paling memenuhi persyaratan saat ini, melainkan juga mengidentifikasi karyawan yang berpotensi dan membantu mereka meningkatkan kemampuan melalui pelatihan.
Selain itu, saya berpendapat bahwa kerja sama antara perusahaan dan lembaga pendidikan perlu diperkuat. Pendidikan memang memberikan dasar pengetahuan, tetapi kesiapan menghadapi dunia kerja juga membutuhkan keterampilan praktis. Dengan adanya kerja sama yang baik, lulusan dapat lebih memahami kebutuhan industri sebelum memasuki dunia kerja.
Di sisi lain, pencari kerja juga memiliki tanggung jawab untuk terus mengembangkan diri. Menurut saya, kemampuan berkomunikasi, memecahkan masalah, bekerja sama, dan menggunakan teknologi merupakan beberapa keterampilan yang perlu diperhatikan. Namun, upaya meningkatkan kemampuan tersebut akan lebih efektif jika disertai akses terhadap pelatihan dan kesempatan kerja yang terbuka.
Pada akhirnya, menurut saya, persoalan ini tidak akan selesai jika perusahaan hanya menuntut kandidat yang sempurna, sementara pencari kerja terus kesulitan memperoleh kesempatan. Keduanya perlu mengambil peran. Perusahaan perlu memperbaiki strategi rekrutmen dan pengembangan SDM, sedangkan pencari kerja perlu terus meningkatkan kompetensinya.
Saya percaya bahwa keberhasilan strategi SDM tidak hanya diukur dari seberapa cepat perusahaan mendapatkan karyawan, tetapi juga dari kemampuannya mengembangkan karyawan agar dapat tumbuh bersama perusahaan. Sebab, tenaga kerja yang berkualitas bukan hanya ditemukan melalui proses seleksi, tetapi juga dapat dibentuk melalui kesempatan belajar dan pengembangan yang tepat.

