Dari Trauma Menuju Harapan: Impian Gen Z tentang Keluarga Ideal Tanpa Kekerasan

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Zikra pratama Roren tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi banyak orang, keluarga adalah tempat pertama untuk belajar tentang cinta, rasa aman, dan kepercayaan. Namun, tidak semua anak tumbuh dalam lingkungan keluarga yang hangat. Sebagian Generasi Z justru menyaksikan konflik dan kekerasan dalam rumah tangga sejak kecil. Pengalaman tersebut ternyata membentuk cara mereka memandang keluarga ideal di masa depan.
Transformasi struktur sosial dan budaya menyebabkan konsep keluarga mengalami pergeseran, sehingga nilai-nilai yang dahulu dianggap mapan menjadi lebih fleksibel dan dinamis. Munculnya berbagai bentuk keluarga baru turut mengubah definisi keluarga yang sebelumnya didominasi oleh model keluarga konvensional. Meskipun isu keluarga menjadi salah satu tema penting dalam kajian sosial, penelitian yang secara khusus membahas konstruksi wacana keluarga ideal di kalangan Generasi Z masih relatif terbatas, terutama pada mereka yang berasal dari keluarga dengan riwayat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Penelitian mengenai persepsi Generasi Z terhadap keluarga ideal menjadi penting karena pengalaman masa kanak-kanak memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan pandangan, nilai, dan perilaku individu di masa dewasa. Dalam perspektif sosiologis, kekerasan dalam rumah tangga dapat dipahami sebagai praktik sosial yang tidak hanya berdampak pada korban secara langsung, tetapi juga membentuk cara berpikir dan bertindak anggota keluarga lainnya. Pengalaman hidup dalam lingkungan yang sarat kekerasan berpotensi memengaruhi konstruksi makna individu mengenai relasi interpersonal dan kehidupan keluarga di masa depan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dengan tingkat kekerasan tinggi cenderung menginternalisasi pola hubungan yang tidak sehat. Kondisi tersebut dapat menimbulkan dampak psikologis, emosional, dan sosial yang berkelanjutan, seperti rendahnya kepercayaan diri, kesulitan dalam mengelola stres, serta kecenderungan untuk mengulangi pola relasi yang disfungsional pada masa dewasa. Oleh karena itu, upaya memutus siklus kekerasan antargenerasi memerlukan pemahaman yang mendalam mengenai bagaimana generasi muda memaknai keluarga dan hubungan ideal setelah mengalami atau menyaksikan kekerasan dalam lingkungan keluarganya.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z yang berasal dari keluarga dengan pengalaman KDRT memiliki konstruksi wacana yang khas mengenai keluarga dan pasangan ideal. Bagi mereka, keluarga ideal merupakan keluarga yang dibangun atas dasar saling menghormati hak dan kewajiban, menerima pasangan apa adanya, menciptakan kebahagiaan bersama, serta menjunjung tinggi kasih sayang dan kepedulian. Pandangan tersebut terbentuk sebagai respons terhadap pengalaman mereka menyaksikan relasi keluarga yang penuh konflik dan kekerasan.
Sebagian besar responden menilai bahwa hubungan yang dijalani oleh orang tua mereka tidak dapat dikategorikan sebagai keluarga ideal. Meskipun secara sosial keluarga mereka mungkin tampak normal, kenyataannya relasi tersebut diwarnai oleh praktik kekerasan yang berlangsung secara berulang. Pengalaman tersebut membentuk kesadaran kritis bahwa keluarga ideal tidak hanya ditentukan oleh status pernikahan atau keberadaan kedua orang tua, tetapi juga oleh kualitas hubungan yang terjalin di dalamnya.
Persepsi Generasi Z mengenai keluarga dan pasangan ideal sangat dipengaruhi oleh pengalaman mereka dalam menghadapi konflik dan kekerasan di lingkungan keluarga. Mereka memandang bahwa hubungan yang sehat harus dibangun melalui sikap saling memahami, toleransi, komunikasi yang baik, dan kemampuan menerima kekurangan pasangan. Selain itu, mereka menolak segala bentuk perilaku yang berpotensi menimbulkan kekerasan fisik maupun psikologis dalam rumah tangga.
Bagi Generasi Z yang menyaksikan ayah melakukan kekerasan terhadap ibu, keluarga harmonis tanpa kekerasan menjadi gambaran utama tentang kehidupan rumah tangga yang diidamkan. Keinginan tersebut muncul sebagai bentuk refleksi atas pengalaman traumatis yang mereka alami selama masa pertumbuhan. Mereka berupaya menjadikan pengalaman negatif tersebut sebagai pelajaran agar praktik kekerasan tidak kembali terulang dalam keluarga yang akan mereka bangun di masa mendatang.
Penelitian ini juga menemukan bahwa media sosial memiliki peran penting dalam membentuk wacana keluarga ideal di kalangan Generasi Z. Sebagai generasi yang tumbuh di era digital, mereka banyak memperoleh referensi mengenai hubungan romantis, kehidupan keluarga, dan pola pengasuhan melalui berbagai platform media sosial. Paparan terhadap konten berupa foto, video, maupun narasi mengenai keluarga harmonis turut memengaruhi ekspektasi mereka terhadap kehidupan keluarga yang ideal.
Selain itu, terdapat perbedaan perspektif antara laki-laki dan perempuan Generasi Z dalam memaknai keluarga dan pasangan ideal. Perempuan Generasi Z cenderung memiliki konstruksi wacana yang lebih kompleks dengan menekankan aspek stabilitas ekonomi, kesehatan psikologis, kesetaraan gender, rasa aman, dukungan emosional, dan kemandirian individu. Sementara itu, laki-laki Generasi Z lebih banyak menyoroti pentingnya kenyamanan dalam hubungan, dukungan terhadap pengembangan karier, serta kesempatan untuk mengembangkan diri tanpa kehilangan kedekatan emosional dengan pasangan.
Meskipun demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian laki-laki Generasi Z belum sepenuhnya menerima prinsip kesetaraan gender dalam hubungan keluarga. Pandangan tersebut masih dipengaruhi oleh nilai-nilai patriarkal yang diwariskan melalui lingkungan keluarga dan masyarakat. Temuan ini mengindikasikan bahwa ideologi patriarki masih memiliki pengaruh dalam pembentukan persepsi mengenai relasi gender di dalam keluarga.
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa pengalaman menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga menjadi faktor penting yang membentuk konstruksi wacana Generasi Z mengenai keluarga ideal. Temuan ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian keluarga dan gender, sekaligus menawarkan wawasan baru dalam upaya membangun generasi yang bebas dari kekerasan. Dengan memahami aspirasi dan persepsi generasi muda mengenai keluarga yang sehat, penelitian ini diharapkan dapat mendukung terwujudnya hubungan keluarga yang lebih adil, setara, inklusif, dan terbebas dari segala bentuk kekerasan.
Artikel ini disusun berdasarkan temuan penelitian mengenai konstruksi wacana keluarga ideal pada Generasi Z yang berasal dari keluarga dengan pengalaman kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Anisah, N., & Kurniawati, D. (2023). Konstruksi Wacana Keluarga Ideal pada Generasi Z dengan Pengalaman Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Jurnal Kajian Gender dan Keluarga.
UNICEF. (2020). Hidden in Plain Sight: A Statistical Analysis of Violence Against Children.
World Health Organization. (2021). Violence Against Women Prevalence Estimates.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (2024). Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA).
Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Gender Indonesia.
