Gen Z dan Ilmu Komunikasi: Kita Jago Chatting, Tapi Gagap Pas Ngobrol Langsung?
Tulisan dari Zulaika Haura K tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jujur ya, pernah nggak kamu lebih milih kirim voice note atau chat daripada telepon? Aku sering banget. Kita Gen Z kan lahir dan besar bareng internet, jadi wajar kalau hidup kita lengket sama HP. Menurutku, dari situ cara kita ngobrol, nyari info, sampai cari teman ikut berubah.

Kita nyaman banget ngobrol lewat teks, emoji, atau video pendek. Instagram, TikTok, dan Snapchat sudah jadi tempat kita nunjukin jati diri dan nyuarain opini. Tapi aku sadar ada sisi yang kurang enak. Pas disuruh presentasi atau ngobrol langsung, kadang kita gagap, bingung baca ekspresi lawan bicara. Belum lagi info di media sosial datang bertubi-tubi, dan kita sering nggak tahu mana yang beneran valid dan mana hoaks.
Nah, di sinilah menurutku ilmu komunikasi penting banget. Pertama, ilmu ini bisa bantu kita paham gimana media sosial membentuk cara pikir dan kebiasaan kita. Kedua, literasi digital. Di era post-truth, informasi palsu nyebar cepat banget, jadi kita perlu terbiasa mikir kritis sebelum percaya atau ikut nge-share. Ketiga, ilmu komunikasi bisa jadi jembatan antara kita dengan generasi Baby Boomers atau Gen X. Pernah kan salah paham sama orang tua gara-gara beda gaya ngobrol?
Satu lagi yang sering bikin capek: tekanan buat selalu kelihatan "sempurna" di media sosial. Kita juga makin nggak percaya sama media tradisional, dan lebih suka komunikasi yang cepat tapi kadang dangkal. Menurutku, ilmu komunikasi bisa ngingetin kita bahwa komunikasi yang autentik dan bermakna itu jauh lebih berharga daripada sekadar banyak likes.
Intinya, Gen Z punya potensi besar buat bikin perubahan positif. Dengan bekal ilmu komunikasi, kita nggak cuma jadi penikmat informasi yang bijak, tapi juga komunikator yang efektif dan bertanggung jawab. Kamu sendiri gimana, lebih nyaman chat atau ngobrol langsung? ๐

