Bukan Sekadar Mengajar, Interaksi Sosial Membentuk Persepsi Siswa terhadap Guru

Saya adalah Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, Prodi Pendidikan Sosiologi dan tertarik dalam isu sosial dan pendidikan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Anindya Zulfa Sasikirana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di setiap sekolah, hampir terdapat guru yang ditunggu kedatangannya oleh siswa, namun ada pula guru yang membuat suasana kelas langsung hening ketika memasuki ruangan. Menariknya, guru yang dianggap menyenangkan oleh satu siswa belum tentu memiliki kesan yang sama bagi siswa lainnya, dan mengapa hal tersebut bisa terbentuk?.
Perbedaan persepsi tidak muncul begitu saja, pengalaman siswa selama berinteraksi dengan guru menjadi salah satu hal yang membentuk pandangan mereka. Mulai dari cara guru berkomunikasi, memberikan tugas, menegur kesalahan menjelaskan materi hingga memperlakukan siswa juga dapat mempengaruhi bagaimana seorang guru dipandang. Bahkan cerita dari teman sebaya juga dapat membentuk persepsi sebelum seorang siswa benar-benar memiliki pengalaman berinteraksi langsung dengan guru tersebut.
Dalam perspektif sosiologi, hal ini dapat dilihat melalui dengan proses interaksi sosial, hubungan antara guru dan siswa tidak hanya terjadi dalam proses penyampaian materi saja tetapi juga melalui komunikasi, aturan, teguran, kerjasama, dan juga berbagai aktivitas yang terjadi di lingkungan sekolah. Dari interaksi yang berlangsung terus-menerus tersebut siswa kemudian membentuk penilaian atau pandangan terhadap gurunya.
Munculnya sebutan "guru favorit" atau "guru yang ditakuti" juga dapat dikaitkan dengan konsep labelling. Ketika seorang guru sudah mendapatkan label tertentu maka dapat mempengaruhi cara siswa berinteraksi dengannya. Guru yang dianggap ramah dan menyenangkan mungkin membuat siswa lebih berani bertanya dan menyampaikan pendapat, sebaliknya, guru yang dianggap penakutkan dapat membuat bagian siswa lebih berhati-hati bahkan memilih diam meskipun sebenarnya belum memahami materi.
Bismillah pentingnya untuk membedakan antara menghormati dan takut. Persepsi siswa terhadap guru pada akhirnya dapat mempengaruhi hubungan sosial di kelas. Ketika siswa merasa nyaman, Mereka cenderung lebih terbuka untuk bertanya, berdiskusi, dan berpartisipasi dalam pembelajaran. Sebaliknya, rasa takut yang berlebihan dapat membuat siswa menjadi lebih pasif yang mengakibatkan guru mungkin melihat siswa sebagai tidak aktif, padahal bisa jadi siswa hanya merasa tidak cukup nyaman untuk menyampaikan pendapat.
Karena itu, menjadi grup favorit sebenarnya bukan tujuan utama seorang pendidik, guru tidak harus selalu membuat siswa untuk menyukainya, yang lebih penting adalah membangun hubungan yang membuat siswa merasa dihargai sekaligus memahami batasan dan aturan yang berlaku.
Pada akhirnya, hubungan antara guru dan siswa bukan hanya tentang siapa yang disukai dan siapa yang ditakuti, di dalamnya terdapat proses interaksi sosial yang dapat mempengaruhi cara siswa belajar, berkomunikasi dan memandang lingkungan sekolah. Guru yang mampu membangun ketegasan tanpa menciptakan ketakutan, serta kedekatan tanpa menghilangkan batas profesional, dapat menciptakan ruang belajar yang lebih terbuka dan nyaman bagi siswa.
