Belajar Memanusiakan Manusia : Kritik Sosial dari Cerpen Senja dari Kiara

mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra indonesia universitas islam negeri syarif hidayatullah jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Qurrotunnisa Az-zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cerpen Senja dari Kiara, seorang adik yang dengan kasih merawat kakaknya, Kenan, yang mengidap skizofernia. Di saat orang-orang di sekitarnya menganggap, Kenan sebagai beban dan memilih memasungnya, Kiara justru percaya bahwa kakaknya masih memiliki harapan untuk pulih. Ia rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan mimpinya demi membawa Kenan mendapatkan pengobatan yang layak. Namun, Ketika harapan itu akhirnya mulai terlihat, sebuah peristiwa tragis justru menghancurkan semua rencana yang telah diperjuangkan. Kisah ini bukan hanya menyajikan hubungan kakak dan adik yang begitu mengharukan
, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan bagaimana stigma terhadap gangguan mental dapat merenggut harapan dan kehidupan seseorang
Burhan Nurgiyantoro (2015), menjelaskan bahwa setiap karya sastra dibangun oleh sebuah gagasan utama atau tema. Dalam cerpen Senja dari Kiara tema tersebut tidak hanya berbicara tentang hubungan kakak dan adik, tetapi juga mengangkat persoalan yang masih sering ditemui Masyarakat, yaitu stigma terhadap penyandang gangguan mental. Melalui tokoh Kiara, pembaca diajak melihat bahwa kasih sayang dan dukungan keluarga memiliki peran penting dalam proses pemulihan seseorang.
“Kiara bertekad bahwa Kenan harus sembuh, maka ia merawatnya sepenuh hati, memperhatikan apa pun yang dibutuhkan, dan menumpahkan cintanya sebanyak yang ia bisa”
Lewat penggalan cerita itu, terlihat jelas bahwa Kiara tidak pernah berhenti memperjuangankan kesembuhan kakaknya. Ia percaya bahwa Kenan masih memiliki harapan selama mendapatkan pengobatan yang tepat. Dari sinilah pembaca bisa melihat pesan yang ingin disampaikan pengarang, bahwa orang dengan gangguan mental lebih membutuhkan dukungan daripada dijauhi.
Selain tema, kekuatan cerpen ini juga terletak pada penokohannya. Nurgiyantoro menjelaskan bahwa watak tokoh dapat dikenali melalui Tindakan, dialog, dan responnya terhadap suatu peristiwa. Hal itu tampak pada sosok Kiara yang digambarkan begitu sabar dan penuh kasih sayang, sedangkan Kenan hadir sebagai penyandang skizofernia yang tetap memiliki rasa sayang kepada adiknya.
“Kakak tidak gila, mereka yang memperlakukanmu seperti ini, barulah dapat disebut gila.”
Ucapan Kiara menjadi salah satu bagian yang paling menyentuh di dalam cerpen ini, Ia tidak melihat Kenan sebagai orang yang harus dijauhi, melainkan sebagai kakak yang tetap layak dicintai dan dihargai. Melalui dialog sederhana itu, pengarang mengigatkan pembaca bahwa stigma sering kali lebih menyakitkan daripada penyakit itu sendiri.
Alur dalam cerpen Senja dari Kiara bergerak secara maju, sehingga pembaca dapat mengikuti perjalanan Kiara dan Kenan dari awal hingga akhir tanpa merasa terburu-buru. Cerita diawali dengan keseharian Kiara yang merawat kakaknya dengan penuh kasih sayang. Perlahan, harapan mulai tumbuh Ketika Kiara berhasil meraih beasiswa dan berencana membawa Kenan menjalani pengobatan yang layak. Namun, tepat Ketika massa depan yang lebih baik seolah sudah di depan mata, pengarang justru menghadirkan akhir yang tragis. Perubahan dari harapan menuju kehilangan inilah yang membuat emosi cerita terasa begitu kuat.
“Segala harap, segala usaha dan segala yang telah ia perjuangkan, diremukan hingga habis tak bersisa begitu saja.”
Bagian ini menjadi puncak konflik yang memberikan Kesan mendalam bagi pembaca. Perjuangan Kiara yanng selama ini dilakukan dengan penuh harapan harus berakhir secara tragis. Akhir cerita tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap kurangnya kepedulian keluarga dan Masyarakat terhadap pentingnya penanganan Kesehatan mental.
Latar dalam cerpen Senja dari Kiara tidak hanya menjadi pelengkap cerita, tetapi juga memperkuat pesan yang ingin disampaikan pengarang. Yang paling menonjol Adalah latar sosial yang menggambarkan masih kuatnya stigma massyarakat terhadap penyandang gangguan mental. Kondisi tersebut menjadi penyebab Kenan lebih sering menerima penolakan daripada kepedulian dari orang-orang di sekitarnya.
“bagi mereka Kenan hanyalah orang gila yang harus dipasung agar tidak merusuh."
Lewat penggalan cerita itu, pembaca dapat melihat bahwa kenan diperlakukan sebagai sebagai ancaman, bukan sebagai seseorang yang membutuhkan pertolongan. Bukannya dibawa untuk mendapatkan pengobatan, ia justru dipasung karena dianggap membahayakan. Penggambaran ini membuat cerpen Senja dari Kiara terasa dekat dengan realitas yang masih terjadi di Masyarakat. Tanpa menggurui, pengarang mengajak pembaca menyadari bahwa stigma terhadap penyandang gangguan mental dapat menghilangkan hak seseorang untuk hidup dengan layak dan memperoleh penanganan yang semestinya.
Daftar Pustaka
Meliaa. (2026, 22 Mei). Senja dari Kiara. Kompas.id.
Nurgiyantoro, B. (1995). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
