Konten dari Pengguna

Sepak Bola dan Bara Perlawanannya

Amru Arafat

Amru Arafat

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amru Arafat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Piala Dunia. Foto: Shutterstock AI/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Piala Dunia. Foto: Shutterstock AI/Shutterstock

Sepak bola dengan acara terbesarnya, yakni piala dunia telah tuntas diselenggarakan. Setiap acaranya menyisakan berbagai memori yang menarik perhatian bagi masyarakat. Pada periode Piala Dunia kali ini diselenggarakan di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, Meksiko.

Tak lupa dengan wonderwall yang digaungkan oleh Inggris, aksi Viking Row dari Norwegia, dan berbagai keseruan lainnya turut meramaikan acara yang diselenggarakan empat tahun sekali ini. Namun, penyelenggaraan piala dunia kali ini juga tak lepas dari beberapa pro-kontranya.

Mengutip The Guardian, selama pertandingan Inggris dengan Meksiko, di luar Stadion Azteca lebih dari 130.000 orang telah hilang di Meksiko akibat kekerasan kartel yang membuat keluarga mencari pertanggungjawaban. Mereka merasa kecewa atas tindakan yang dilakukan oleh pihak berwenang dan menuntut keadilan. Tidak hanya itu, saat menjelang pembukaan Piala Dunia juga terdapat demonstrasi yang diinisiasi oleh masyarakat atas ironi tuntutan gaji guru dengan pembiayaan pembangunan stadion.

Amerika Serikat juga tak luput dari hal-hal yang memicu pro-kontra selama menjadi tuan rumah. Seperti riak yang menjalar, kondisi sosial politik yang sedang bergejolak karena konflik Iran merembet ke ranah sepak bola timnas Iran selama kompetisi Piala Dunia. Momentum negara-negara yang menjadi tuan rumah Piala Dunia merupakan gambaran bagaimana budaya kapitalis di sepak bola memberikan hiburan bergaya imperialis.

Pengambilan sikap politik terhadap sepak bola memang kerap menimbulkan kontroversi. Sejumlah kontroversi utamanya pada aspek politik dalam sepak bola memperkuat slogan “lebih dari sekadar permainan” yang telah lama didengungkan. Memisahkan sepak bola dari politik seperti halnya memisahkan akar dengan tanah. Kedua hal tersebut berkembang beriringan mulai dari masa awal mula pembentukan sepak bola secara formal hingga di masa kontemporer.

Dari perkembangan inilah sepak bola turut menginisiasi dalam pembentukan berbagai gerakan sosial baik secara domestik maupun global. Kekuatan sepak bola untuk membangun solidaritas suatu kelompok memicu politik reaksioner yang dapat mempersatukan atau memisahkan perbedaan kepentingan.

Gerakan-gerakan ini mulai muncul sekitar awal abad ke-20 seperti di Inggris yang mana selain dari penemu sepak bola modern, masyarakat khususnya kaum buruh mempopulerkan gerakan Football for All untuk mengurangi sektarianisme dan diskriminasi di Inggris. Pada mulanya, sepak bola memang ditujukan untuk membangun solidaritas antarkaum buruh di Inggris sebelum pada akhirnya meluas pada aspek sosial masyarakat.

Gerakan sosial dari sepak bola memang bukanlah fenomena baru. Komersialisasi FIFA dan industri-industri iklan telah menggeser sepak bola menjadi akumulasi modal atau bahkan represi dari kalangan mereka. Berangkat dari kesadaran tersebut, tumbuh komunitas yang disebut dengan “Punk Football”. Kelompok ini memiliki prinsip kesetaraan dan solidaritas secara kolektif dan inklusif.

Mereka menilai bahwa sepak bola modern sekarang cenderung berpihak kepada sponsor atas kepentingan ekonomi. Bahkan, klub dan organisasi-organisasi besar lainnya hanya menganggap bahwa suporter tak lebih hanya sebagai pelanggan. Seperti apa yang dilakukan oleh tuan rumah piala dunia tahun ini, mereka melihat negara juga turut melakukan kekerasan di kala dunia sedang menikmati pertandingan. Keserakahan para pemilik uang dan kuasa inilah yang membuat mereka merasa jenuh. Klub St.Pauli merupakan contoh yang paling ramai dibicarakan.

St. Pauli merupakan tim yang berasal dari kawasan pelabuhan dan menjadi tempat berkumpulnya para buruh. Mereka telah dikenal luas oleh masyarakat Jerman dengan semboyan bermuatan revolusioner seperti " Tak ada lagi perang, tak ada lagi fasisme, tak ada lagi turun peringkat!". Kemunculan St. Pauli sebagai salah satu klub termiskin di bundesliga merepresentasikan perang antarkelas saat bermain melawan klub komersial raksasa seperti Bayern Munchen.

Sebenarnya tidak ada perbedaan signifikan kebijakan klub St. Pauli dengan klub-klub profesional lainnya. Yang menjadi ciri khas sekaligus menarik perhatian masyarakat luas adalah citra radikal yang diambil oleh klub tersebut. Tidak seperti klub Eropa pada umumnya, beberapa suporter dari mereka menduduki sebagai petinggi klub yang secara langsung memengaruhi kepengurusan.

Pengaruh ini dapat dilihat melalui perubahan nama stadion mereka menjadi Millerntor. Selain itu, mereka juga terlibat dalam gerakan sosial atas nama klub, seperti Viva con Agua de Sankt Pauli yang mengumpulkan dana untuk mesin penyimpanan air minum bagi negara-negara yang membutuhkan. Gerakan yang digagas oleh St. Pauli ini pada akhirnya berkembang luas ke negara-negara lain.

Semangat perkembangan ini, salah satunya juga berkembang serupa di Inggris. Di negara yang menghasilkan liga terbaik di dunia, terdapat komunitas bernama Easton Cowboys. Mereka mendirikan klub bola amatir sebagai bentuk solidaritas internasional untuk melindungi ruang sosial melalui olahraga. Mereka sangat erat dengan perjuangan isu-isu seperti feminisme, kelas masyarakat, sampai konflik kemanusiaan internasional seperti Palestina. Mereka menolak pendanaan dari para pengusaha atau partai politik.

Mereka ingin memperjuangkan isu-isu tersebut tanpa perantara organisasi politik apapun. Menurut mereka, organisasi yang kerap disebut revolusi adalah partai politik sayap kiri yang hanya untuk menarik anggota baru dengan penuh tipu daya dan antikritik. Gerakan-gerakan seperti ini menunjukkan bagaimana sebagian masyarakat di samping menikmati suatu pertandingan juga menjadi ajang untuk menyuarakan suara politiknya.

Di bawah komersialisasi FIFA, olahraga yang begitu diminati banyak orang telah diperdagangkan untuk mendapatkan keuntungan besar. Pembangunan stadion-stadion megah di Qatar yang mengeksploitasi pekerja imigran, gerakan sosial di Brasil yang mengecam piala dunia 2014 atas pembangunan stadion standar FIFA sehingga melakukan represi dan penggusuran, dan penindasan piala dunia tahun ini hanya menjadikan semboyan FIFA “Untuk Olahraga, untuk Dunia” hanyalah bualan semata. Selama penindasan masih ada, gerakan-gerakan sosial dari sepak bola tidak akan pernah padam melainkan tumbuh.