Banjir Berulang, Saatnya Menata Ruang Lebih Serius

Peneliti & Konsultan Lingkungan, Perencanaan Wilayah, System Dynamics Modeling, Survei & Analisis Data, Fokus pada kebijakan dan pembangunan berkelanjutan.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Amrullah S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa tahun terakhir, banjir besar kembali menjadi berita utama di berbagai kota di Indonesia. Dari Jakarta, Semarang, hingga sejumlah kota pesisir di Sulawesi dan Kalimantan, peristiwa yang seharusnya dapat diantisipasi justru berulang hampir setiap tahun. Jalanan berubah menjadi sungai, rumah warga terendam, aktivitas ekonomi lumpuh, dan kerugian sosial-ekonomi meningkat.
Banjir sering dianggap sebagai bencana alam yang tak terhindarkan. Padahal, dalam banyak kasus, banjir lebih tepat disebut sebagai kegagalan tata kelola ruang dan pembangunan wilayah. Curah hujan yang tinggi memang menjadi faktor pemicu, tetapi kerusakan ekosistem, pembangunan yang tidak terkendali, serta lemahnya perencanaan wilayah memperbesar dampaknya.
Dengan kata lain, banjir bukan hanya soal air yang meluap, tetapi tentang bagaimana manusia mengelola ruang hidupnya.
Saat Alam Tidak Lagi Krisis Ruang
Perencanaan wilayah pada dasarnya adalah proses mengatur pemanfaatan ruang agar pembangunan berlangsung seimbang dengan daya dukung lingkungan. Namun dalam praktiknya, tekanan ekonomi dan pertumbuhan kota sering membuat prinsip ini diabaikan.
Di banyak kota, kawasan resapan air berubah menjadi perumahan atau kawasan komersial. Sungai dipersempit oleh permukiman informal, sementara daerah rawa dan mangrove yang seharusnya berfungsi sebagai penyangga alami justru direklamasi atau dialihfungsikan.
Fenomena ini sangat terlihat di kawasan pesisir dan kota-kota delta di Indonesia. Ketika lahan semakin terbatas, pembangunan cenderung mengarah ke wilayah yang sebenarnya memiliki fungsi ekologis penting.
Akibatnya, sistem hidrologi alami terganggu.
Air yang seharusnya terserap oleh tanah mengalir cepat ke sungai atau saluran drainase yang kapasitasnya terbatas. Dalam kondisi hujan ekstrem, sistem ini tidak lagi mampu menampung volume air yang masuk.
Di sinilah banjir menjadi konsekuensi yang hampir tak terhindarkan.
Perspektif Perencanaan Wilayah
Dalam ilmu perencanaan wilayah dan kota, banjir tidak hanya dipahami sebagai fenomena hidrologis, tetapi sebagai hasil dari interaksi kompleks antara sistem alam dan sistem pembangunan manusia.
Pendekatan perencanaan modern menekankan pentingnya integrasi antara tata ruang, pengelolaan lingkungan, dan kebijakan pembangunan. Artinya, pembangunan infrastruktur, perumahan, industri, dan transportasi harus mempertimbangkan karakteristik ekologis suatu wilayah.
Sayangnya, dalam banyak kasus, perencanaan ruang seringkali bersifat administratif, bukan strategis. Dokumen rencana tata ruang wilayah (RTRW) disusun, tetapi implementasinya lemah. Alih fungsi lahan terjadi secara masif, sementara pengawasan terhadap pelanggaran tata ruang sering tidak konsisten.
Akibatnya, kota berkembang tanpa kendali ekologis yang jelas.
Pendekatan yang semakin relevan dalam konteks ini adalah system dynamics, yaitu cara memahami masalah lingkungan dan pembangunan sebagai sistem yang saling terhubung.
Banjir, misalnya, tidak hanya dipengaruhi oleh curah hujan. Ia juga dipengaruhi oleh perubahan penggunaan lahan, pertumbuhan penduduk, pembangunan infrastruktur, hingga kebijakan ekonomi.
Tanpa memahami hubungan antar faktor tersebut, kebijakan yang diambil sering bersifat parsial.
Misalnya, memperbesar drainase tanpa mengendalikan alih fungsi lahan di hulu. Atau membangun tanggul tanpa memperbaiki sistem tata ruang.
Solusi seperti ini biasanya hanya menunda masalah, bukan menyelesaikannya.
Pelajaran dari Kota Pesisir
Kota Semarang dapat menjadi contoh yang menarik. Selama beberapa dekade terakhir, kota ini menghadapi kombinasi persoalan banjir yang kompleks: banjir kiriman dari hulu, banjir lokal akibat hujan intensitas tinggi, serta rob akibat kenaikan muka laut dan penurunan tanah.
Ketika kawasan pesisir mengalami penurunan tanah yang signifikan, permukaan laut yang relatif stabil pun dapat menyebabkan banjir rob semakin luas.
Dalam konteks ini, solusi yang hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur tidak cukup. Semarang memang membangun polder, tanggul laut, dan pompa air. Namun pada saat yang sama, pemerintah kota juga mulai memperhatikan aspek tata ruang dan pengendalian pembangunan.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa pendekatan yang efektif harus bersifat terintegrasi.
Hal yang sama juga terjadi di sejumlah wilayah pesisir di Sulawesi Selatan, di mana konversi tambak, pembangunan permukiman pesisir, dan perubahan tutupan lahan di daerah aliran sungai (DAS) meningkatkan risiko banjir.
Dalam banyak kasus, perubahan kecil dalam tata guna lahan dapat menghasilkan dampak besar terhadap sistem hidrologi.
Di sinilah pentingnya analisis spasial dan pemodelan lingkungan dalam proses perencanaan wilayah.
Mengubah Cara Kita Merencanakan Kota
Jika kita ingin mengurangi risiko banjir secara signifikan, pendekatan perencanaan wilayah harus mengalami perubahan mendasar.
Pertama, mengembalikan fungsi ekologis ruang. Kawasan resapan air, sempadan sungai, rawa, dan mangrove harus dilindungi sebagai bagian dari sistem perlindungan alami kota. Perlindungan ini tidak boleh hanya tertulis dalam dokumen perencanaan, tetapi harus benar-benar ditegakkan.
Kedua, mengintegrasikan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) dengan perencanaan kota. Banjir di hilir sering kali dipicu oleh perubahan penggunaan lahan di hulu. Oleh karena itu, perencanaan wilayah harus melihat lanskap secara keseluruhan, bukan hanya batas administrasi kota.
Ketiga, memanfaatkan teknologi dan pemodelan sistem dalam perencanaan kebijakan. Dengan pendekatan system dynamics dan analisis spasial berbasis GIS, pemerintah dapat memprediksi dampak berbagai skenario pembangunan terhadap risiko banjir di masa depan.
Pendekatan ini memungkinkan kebijakan yang lebih berbasis data dan lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Keempat, mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan ruang. Banyak persoalan banjir berkaitan dengan praktik penggunaan lahan di tingkat lokal. Tanpa keterlibatan masyarakat, kebijakan tata ruang sering sulit diterapkan secara efektif.
Momentum untuk Belajar
Banjir besar seharusnya menjadi momentum untuk melakukan refleksi kolektif.
Apakah kita akan terus memandang banjir sebagai bencana tahunan yang harus diterima? Atau kita menjadikannya sebagai pelajaran untuk memperbaiki cara kita merencanakan pembangunan?
Indonesia adalah negara kepulauan dengan banyak kota pesisir dan kawasan delta yang rentan terhadap perubahan iklim. Jika pola pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan terus berlanjut, risiko banjir dan bencana hidrometeorologi lainnya akan semakin meningkat.
Sebaliknya, jika perencanaan wilayah ditempatkan sebagai fondasi pembangunan, kota-kota Indonesia memiliki peluang untuk menjadi lebih tangguh, berkelanjutan, dan aman bagi generasi mendatang.
Banjir mungkin tidak bisa sepenuhnya dihilangkan.
Namun dengan perencanaan wilayah yang lebih bijak, dampaknya dapat dikurangi secara signifikan.
Dan di situlah perencanaan wilayah menunjukkan perannya yang paling penting: tidak hanya mengatur ruang, tetapi juga melindungi masa depan kita.
