Konten dari Pengguna

Dampak Sosial Ekonomi Lost Learning Masa Pandemi Covid-19

Asriana Ariyanti

Asriana Ariyanti

Statistisi, Mahasiswa, Kandidat Doktor Kebijakan Publik Universitas Terbuka

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asriana Ariyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dampak Sosial Ekonomi Lost Learning  Masa Pandemi Covid-19
zoom-in-whitePerbesar

Sudah hampir satu tahun sistem pendidikan dilakukan dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebagai dampak Covid-19. Masa darurat pandemi mengharuskan guru dan siswa belajar dari rumah dengan berbagai metode yang diterapkan, seperti penggunaan berbagai aplikasi perangkat pintar untuk mendukung PJJ. PJJ ini lebih dari sekedar memindahkan tempat belajar dari sekolah ke rumah, tetapi juga membutuhkan sistem penyesuaian akademik, cara pembelajaran hingga penyesuaian anggaran di bidang pendidikan.

Hal ini tentu sangat berdampak pada komponen sentral proses pembangunan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Banyak negara, termasuk Indonesia sedang menikmati bonus demografi dengan tingginya penduduk usia muda dan produktif saat ini. Bonus demografi ini dapat memberikan manfaat optimal jika berupa sumber daya manusia yang berkualitas, baik secara pendidikan maupun ketrampilannya. Masa pandemi yang mengharuskan pelaksanaan sistem PJJ tentu membawa suatu konsekuensi dampak ekonomi pada masa mendatang.

Lost Learning Dampak PJJ

Kita tidak pernah tahu kapan sekolah akan dibuka lagi secara normal setelah pandemi ini. Kebijakan penutupan kegiatan pembelajaran di sekolah dan digantikan dengan PJJ adalah kebijakan darurat jangka pendek yang harus diambil pemerintah untuk mencegah penularan Covid-19. Pada jangka Panjang, akan ada cost yang harus dibayarkan akibat lost learning yang mempengaruhi kohor pelajar masa pandemi. Lost learning ini adalah kondisi siswa yang kehilangan kemampuan dan pengalaman belajarnya. Dampak ini akan terasa secara ekonomi pada pasar tenaga kerja serta nilai ekonomi pada masa mendatang.

Tidak ada seorangpun yang mampu memprediksikan seberapa besar dampak kerugian yang diakibatkan PJJ selama pandemi Covid-19. Hal yang dapat dilakukan adalah mencoba mengurai dampak-dampak kerugian yang diakibatkan oleh PJJ. Menurut penelitian yang dilakukan di negara-negara OECD, dampak penutupan sekolah yang besar adalah rendahnya efektivitas proses belajar secara daring berkaitan dengan pengembangan ketrampilan dan pemahaman terhadap materi. Chetty et al. (2020) menyebutkan bahwa anak-anak cenderung sulit memahami instruksi yang diberikan oleh gurunya secara efektif. Dampak rendahnya efektivitas pembelajaran ini lebih dialami oleh anak-anak dari keluarga berpendapatan rendah dan juga di daerah-daerah terpencil.

Penelitian terhadap anak-anak di Jerman menunjukkan bahwa selama masa pandemi anak-anak hanya belajar selama rata-rata 3,6 jam atau hanya 50 persen dibandingkan waktu belajar saat normal. Hal ini mengakibatkan peningkatan waktu mereka mengakses televisi, game online dan sosial media 5,2 jam lebih lama. Pada masa PJJ, waktu siswa berinteraksi aktif dengan guru jauh lebih sedikit dibandingkan saat normal sehingga hal ini juga berpengaruh pada kemampuan siswa memahami materi pelajarannya. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Harvard University untuk negara-negara OECD, lost learning yang paling tampak selama penutupan sekolah di masa pandemi ini adalah penurunan kemampuan dan ketrampilan siswa dalam memenuhi kompetensi yang diharapkan.

Lost learning yang terukur selama pandemi Covid 19 adalah penurunan kemampuan membaca siswa. Penurunan skor kemampuan membaca yang diukur dalam Programme for International Student Assesment (PISA) dibagi oleh The World Bank menjadi tiga skenario, yaitu skenario saat ini, skenario optimis dan skenario pesimis. Menurut perhitungan The World Bank maka selama pandemi Covid-19, siswa Indonesia saat ini turun 11 poin kemampuan membaca. Penurunan kemampuan membaca siswa selama 6 bulan masa Covid-19 dalam skenario optimis akan turun 16 poin dan menurut skenario pesimis akan turun sebanyak 21 poin. Turunnya skor PISA ini merupakan suatu akibat karena tutupnya sekolah dan penerapan PJJ yang tidak cukup memotivasi siswa untuk membaca dalam proses belajarnya.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga menyebutkan bahwa gejala lost learning ini sudah tampak dalam sistem pendidikan nasional. Hal ini diketahui dari pengukuran asesmen diagnotis yang dilakukan oleh guru. Menurut laporan asesmen diagnotis ini terdapat 47 persen sekolah atau guru yang melaporkan bahwa hanya 50 persen siswa yang memenuhi standar kompetensi. Hasil asesmen diagnotis juga menyebutkan bahwa 20 sekolah atau guru menikai bahwa hanya sebagian kecil siswa yang memenuhi standar kompetensi.

Rendahnya proporsi siwa yang memenuhi kompetensi ini adalah suatu fakta bahwa pembelajaran secara optimal sangat sulit dilaksanakan. Guru tidak lagi didorong untuk mengajar sesuai ketuntasan siswa tetapi lebih disesuaikan dengan kemampuan siswa yang sangat heterogen. Tentu saja ini suatu pekerjaan yang sangat tidak mudah bagi guru, terlebih dengan keterbatasan waktu berinteraksi langsung dengan siswa dan beragamnya tingkat keaktifan siswa dalam aktivitas PJJ. PJJ ini memberikan paradigma baru bagi guru untuk dapat memaksimalkan potensi siswa sesuai dengan kemampuannya tetapi tetap mencapai kompetensi yang diharapkan.

Lost learning sebagai dampak PJJ merupakan masalah kurangnya kemampuan guru dalam melaksanakan sistem PJJ secara optimal dan juga rendahnya motivasi siswa dalam belajar selama PJJ. Ini merupakan tantangan yang cukup berat, baik bagi siswa maupun guru. Menurut data BPS terakhir, penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia yang diukur dalam ICT Index adalah sebesar 5,07. Level ini masih sangat rendah jika dibandingkan oleh negara-negara lain di dunia. Masih rendahnya ICT Index ini tentu sangat mempengaruhi optimalisasi PJJ.

BPS juga mencatat bahwa hingga 2018 hanya 10,10 persen guru di Indonesia yang sudah memiliki kualifikasi di bidang TIK. Guru tidak hanya menghadapi masalah standar kompetensi yang harus dicapai tetapi juga harus mengejar ketertinggalan mereka dalam penguasaan TIK. Keterbatasan guru dalam penguasaan TIK tentu akan berpengaruh terhadap keaktifan dan motivasi siswa dalam mengikuti PJJ. Guru yang memiliki kemampuan TIK tidak dapat menyampaikan materinya secara optimal dan menarik sehingga akan membuat siswa cenderung malas mengikuti PJJ. Masa PJJ yang lama secara tidak langsung menumbuhkan rasa malas siswa dan mendemotivasi mereka untuk mencapai target komptensi dengan segala permakluman.

Dampak Ekonomi Lost Learning

Ada dua isu tentang dampak lost learning dalam jangka panjang yang akan dialami oleh suatu negara berkaitan dengan economic cost. Pertama adalah bahwa adanya masalah pendapatan yang akan dihadapi oleh siswa-siswa yang terinterupsi belajarnya selama pandemi dan masalah less skilled labor yang akan dihadapi oleh negara di dalam jangka panjang.

Suatu sistem pendidikan ditujukan untuk menciptakan kemampuan kognitif siswa akan menjadi bekal dalam meningkatkan produkitivitasnya di pasar lapangan kerja. Pendidikan juga akan memberikan kemampuan sumber daya manusia agar mampu menciptakan ide-ide baru dan inovasi sehingga dapat mengembangkan teknologi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara luas.

Sangat sulit memproyeksikan kerugian secara ekonomi sebagai akibat terinterupsinya sistem pendidikan selama pandemi Covid-19, tetapi dapat dilakukan dengan pendekatan dengan mengukur dampak PJJ terhadap perkembangan kemampuan kognitif. PJJ secara langsung maupun tidak langsung berefek terhadap sosio-emosional dan perkembangan motivasi siswa. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya interaksi sosial dengan teman sebaya serta tekanan psikologis dalam keluarga karena kebijakan stay at home yang memungkinkan interaksi intensif dengan keluarga. Pada keluarga dengan pendapatan rendah, konflik yang terjadi dalam keluarga akibat waktu berinteraksi dalam rumah yang sangat besar sering menimbulkan masalah kekerasan terhadap anak, sehingga hal ini sangat mempengaruhi suasana belajarnya.

Kelemahan kemampuan kognitif dalam jangka panjang yang berakibat pada less skilled labor ini oleh The World Bank diprediksikan dapat menurunkan 3 persen PDB di suatu negara, didasarkan pada simulasi penghitungan di negara-negara G20. Masalah distribusi pendapatan juga menjadi isu penting sebagai dampak lost learning. Mereka yang hidup dalam kemiskinan akan merasakan dampak negatif yang lebih besar karena selama PJJ siswa dari keluarga miskin mengalami kesulitan untuk mengakses materi-materi pelajaran secara mandiri di rumah dibandingkan siswa dari kelompok ekonomi mampu. Selain itu siswa dari kelompok miskin sulit mendapatkan penjelasan-penjelasan dari orang tua karena lebih focus pada pemenuhan kebutuhan ekonomi yang sangat sulit selama masa pandemi. Pada jangka panjang, siswa kelompok ini diproyeksikan akan mengalami kesulitan lebih besar dalam pengembangan prosuktivitasnya dalam pasar lapangan kerja.

Solusi untuk mengatasi lost learning ini adalah dengan membuka kembali sekolah dengan berbagai persyaratan terutama bagi siswa-siswa di daerah zona hijau dan daerah-daerah terpencil yang relatif aman dari penularan Covid-19. Dimulainya program vaksinasi Covid-19 juga memberikan harapan besar bagi dunia pendidikan untuk dapat melakukan sistem pembelajaran dalam skema New Normal berupa kombinasi antara sekolah tatap muka dan PJJ. Selama sekolah belum dapat kembali normal, tugas berat bagi negeri ini untuk dapat melakukan sistem PJJ yang lebih baik agar dapat meminimalkan lost learning yang tidak dapat dihindari akan berdampak negatif bagi perekonomian dan kesejahteraan bangsa di masa mendatang.

Asriana Ariyanti

Statistisi BPS Kota Bogor

Alumni The Australian National University