Konten dari Pengguna

Dentuman Tifa Pattimura: Suara Perjuangan yang Tak Pernah Padam

Anabella Sabrina

Anabella Sabrina

Anabella Sabrina, kelahiran Bandung 2009. Siswi kelas 10 dari SMA Trinitas Bandung. Aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik. Bercita-cita untuk turut melestarikan budaya Indonesia Timur. Menulis adalah cara untuk menunjukkan identitas.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anabella Sabrina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kapitan Pattimura alias Thomas Matulessy. Foto: Akhmad Dody Firmansyah/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Kapitan Pattimura alias Thomas Matulessy. Foto: Akhmad Dody Firmansyah/Shutterstock

Kumpulan puisi ini dipersembahkan untuk mengenang jasa Pattimura-Pattimura tua dan semangat Pattimura-Pattimura muda.

Pattimura-Pattimura tua, tidurlah dengan nyenyak dalam keabadian, sebab kini menjadi tugas kami untuk meneruskan cita-cita kalian. Inilah suara kami dalam meneruskan perjuanganmu. Meski kini tinggal di tanah yang jauh dari Negeri Rempah itu, inilah cara kami mengobati rindu pada dentuman tifa dan alunan kipas lenso. Dengarlah suara kami yang menolak lupa akan perjuangan kalian. Api perjuangan ini takkan pernah padam.

1) Selamat Jalan Pahlawan

Tidur tanpa mengenal pagi

Harum masakan bunda t’lah menanti

Akankah sinar terang kembali?

Tanpa dikau hadir di sini?

Bungkam yang kini berisik

Hampa yang memekik

Sunyi berteriak lirih,

Tenangkah tidurmu, Pangeran Kemurahan Hati?

2) Jang Menangis, Pattimura

Jang menangis Pattimura,

Sebab se dara masih sengsara

Katong hanya lapar, bukanlah kecewa

Katong tersesat hilang arah

Jang menangis Pattimura,

Sebab ose perjuangan bukan cuma-cuma

Beta hanya terjebak, bukanlah menyerah

Tunggulah gejolak beta pung api amarah

Jang menangis lai, Pattimura

Beta dara seng parlente,

Beta s’lamanya Jong Amboina Manise

Dara nadi tetap pung Pattimura

3) Tifa Totobuang

Sadarkan beta deng harmonimu, Tifa

Bangunkan beta dengan iramamu, Totobuang

Sebab beta lupa sudah deng irama

Jauh sudah beta dari pulang

Pukul tifa, pukul sampe bale sadar!

Bangunkan hasrat beta yang terlantar

Panggil beta bale pulang

Panggil beta bale sayang

Kini tifa patah sudah

Totobuang rusak sudah

Suara indahmu takkan terdengar

Terbungkam,

Hilang,

Di dalam sangkar.

4) Kipas Lenso

Kipas lenso putih melambai-lambai

Panggil beta bale Kampong

Mar, akankah beta sampai?

Kampong itu su pung dong

Kipas Lenso putih melambai-lambai

Menyebar harum cengkeh dan rindu

Harapan kini hanya menjadi andai

Terkubur dalam sebuah sendu

Kipas lenso putih melambai-lambai

Melambai indah seperti belaian Mama

Doa Mama yang mengantarku sampai

Belaka angan suatu saat kembali bersama

5) Ombak…

Ombak,

Dinginmu menyerang daku

Ombak,

Apakah kau kemari untuk menyampaikan salamnya padaku?

Ombak,

Apakah kau membawanya kemari padaku?

Ombak!

Tolong, tolong jangan pergi!

Ombak,

Sampaikan padanya bahwa rindu membawaku kembali padanya

Ombak…

Jika dia tidak dapat padaku,

Bisakah kau sampaikan rinduku kepadanya?

6) Kampong Seng Kampong

Pulang suda beta ke kampong manise,

Bakudapa deng mama bapa sayange,

Belaka membawa hayat yang waras,

Layakkah menjadi tanda mata yang pantas?

Sio mama deng bapa,

Kampong berubah banya suda

Beta kira beta pi ruma,

Rupanya su menjadi neraka

Oi! Basudara! Ini beta!

Masih itang badaki beta!

Katong basudara satu dara!

Amboina masih beta pung dara!

Pergi bagai seorang pahlawan

Pulang tidak dianggap kawan.

7) Gaba-Gaba

Patuh dengan irama dari lambat sampai cepat

Berketuk patuh, maka calaklah mereka

Semua harus dilakukan dengan tepat

Sekali meleset timbulah celaka

Aduhai gaba-gaba

Setianya dirimu pada aba-aba

Betapa gemilangnya ketukan dirimu

Tidakkah kau berandai semua ini semu?

Aduhai gaba-gaba berketuk,

Betapa malangnya dirimu

Terketuk maka terkutuk

Tidakkah sakit badanmu?

Tidakkah kamu ingin menciptakan iramamu sendiri?

Tidakkah kamu lelah dengan kekangan?

Kelak kan kamu sadari,

Yang menanti ialah angan

Ah, kamu hanya mengikuti tifa,

Tifa totobuang yang membuat kamu terdengar lebih indah

Tapi bila engkau tanya,

Kan kujawab, tanpa mereka engkau sudah berketuk indah

8) Lautan Banda

Katong manusia, sama seperti ikan-ikan di laut Banda

Ada yang kacil, besar, berwarna-warni

Torang berenang-renang deng berani

Banya yang satu bangsa, mar tetap saling mangsa

Katong dapa berenang ke berbagai arah

Mencari mangsa di segala arah

Namun, bila katong ni tertangkap jala

Seng ada lai ikan berbeda

Mungkin katong ikan jenis beda

Berenang-renang ke arah yang berbeda

Tapi begitu katong tertangkap jala?

Ado! Katong termakan bersama suda!

9) Kita Pohon Pala

Tumbuh diladang yang sama

Berasal dari tanah yang sama

Bertumbuh seirama

Meski tidak’kan lama

Begitu tunas itu tumbuh

Tumbuh nian keunikan masing-masing

Pantaskah kita mengeluh?

Pada cabang-cabang yang asing?

Kita tumbuh bersama

Melampaui jalan yang berbeda

Saling melengkapi sesama

Meski dengan cara yang berbeda

Sampai pada akhirnya,

Kita menciptakan sebuah buah pala

Berguna bagi sesama dan lainnya

Bersatu padu seperti sedia kala

10) Sio Jujaro deng Mungare

Sio Jujaro,

Sio Mungare

Bertarung seng lai deng parang

Bertahan seng lai deng salawaku

Katong bersatu, satu gandong

Rame-rame badendang deng badansa

Sebab katong su merdeka

________________________________________________

Terinspirasi dari semangat Pattimura tua yang selamanya hidup dalam jiwa Pattimura-Pattimura muda. Didedikasikan untuk mengenang jasa Pattimura-Pattimura tua.

Selamat Hari Pattimura, Basudara samua!