Dentuman Tifa Pattimura: Suara Perjuangan yang Tak Pernah Padam

Anabella Sabrina, kelahiran Bandung 2009. Siswi kelas 10 dari SMA Trinitas Bandung. Aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik. Bercita-cita untuk turut melestarikan budaya Indonesia Timur. Menulis adalah cara untuk menunjukkan identitas.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Anabella Sabrina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kumpulan puisi ini dipersembahkan untuk mengenang jasa Pattimura-Pattimura tua dan semangat Pattimura-Pattimura muda.
Pattimura-Pattimura tua, tidurlah dengan nyenyak dalam keabadian, sebab kini menjadi tugas kami untuk meneruskan cita-cita kalian. Inilah suara kami dalam meneruskan perjuanganmu. Meski kini tinggal di tanah yang jauh dari Negeri Rempah itu, inilah cara kami mengobati rindu pada dentuman tifa dan alunan kipas lenso. Dengarlah suara kami yang menolak lupa akan perjuangan kalian. Api perjuangan ini takkan pernah padam.
1) Selamat Jalan Pahlawan
Tidur tanpa mengenal pagi
Harum masakan bunda t’lah menanti
Akankah sinar terang kembali?
Tanpa dikau hadir di sini?
Bungkam yang kini berisik
Hampa yang memekik
Sunyi berteriak lirih,
Tenangkah tidurmu, Pangeran Kemurahan Hati?
2) Jang Menangis, Pattimura
Jang menangis Pattimura,
Sebab se dara masih sengsara
Katong hanya lapar, bukanlah kecewa
Katong tersesat hilang arah
Jang menangis Pattimura,
Sebab ose perjuangan bukan cuma-cuma
Beta hanya terjebak, bukanlah menyerah
Tunggulah gejolak beta pung api amarah
Jang menangis lai, Pattimura
Beta dara seng parlente,
Beta s’lamanya Jong Amboina Manise
Dara nadi tetap pung Pattimura
3) Tifa Totobuang
Sadarkan beta deng harmonimu, Tifa
Bangunkan beta dengan iramamu, Totobuang
Sebab beta lupa sudah deng irama
Jauh sudah beta dari pulang
Pukul tifa, pukul sampe bale sadar!
Bangunkan hasrat beta yang terlantar
Panggil beta bale pulang
Panggil beta bale sayang
Kini tifa patah sudah
Totobuang rusak sudah
Suara indahmu takkan terdengar
Terbungkam,
Hilang,
Di dalam sangkar.
4) Kipas Lenso
Kipas lenso putih melambai-lambai
Panggil beta bale Kampong
Mar, akankah beta sampai?
Kampong itu su pung dong
Kipas Lenso putih melambai-lambai
Menyebar harum cengkeh dan rindu
Harapan kini hanya menjadi andai
Terkubur dalam sebuah sendu
Kipas lenso putih melambai-lambai
Melambai indah seperti belaian Mama
Doa Mama yang mengantarku sampai
Belaka angan suatu saat kembali bersama
5) Ombak…
Ombak,
Dinginmu menyerang daku
Ombak,
Apakah kau kemari untuk menyampaikan salamnya padaku?
Ombak,
Apakah kau membawanya kemari padaku?
Ombak!
Tolong, tolong jangan pergi!
Ombak,
Sampaikan padanya bahwa rindu membawaku kembali padanya
Ombak…
Jika dia tidak dapat padaku,
Bisakah kau sampaikan rinduku kepadanya?
6) Kampong Seng Kampong
Pulang suda beta ke kampong manise,
Bakudapa deng mama bapa sayange,
Belaka membawa hayat yang waras,
Layakkah menjadi tanda mata yang pantas?
Sio mama deng bapa,
Kampong berubah banya suda
Beta kira beta pi ruma,
Rupanya su menjadi neraka
Oi! Basudara! Ini beta!
Masih itang badaki beta!
Katong basudara satu dara!
Amboina masih beta pung dara!
Pergi bagai seorang pahlawan
Pulang tidak dianggap kawan.
7) Gaba-Gaba
Patuh dengan irama dari lambat sampai cepat
Berketuk patuh, maka calaklah mereka
Semua harus dilakukan dengan tepat
Sekali meleset timbulah celaka
Aduhai gaba-gaba
Setianya dirimu pada aba-aba
Betapa gemilangnya ketukan dirimu
Tidakkah kau berandai semua ini semu?
Aduhai gaba-gaba berketuk,
Betapa malangnya dirimu
Terketuk maka terkutuk
Tidakkah sakit badanmu?
Tidakkah kamu ingin menciptakan iramamu sendiri?
Tidakkah kamu lelah dengan kekangan?
Kelak kan kamu sadari,
Yang menanti ialah angan
Ah, kamu hanya mengikuti tifa,
Tifa totobuang yang membuat kamu terdengar lebih indah
Tapi bila engkau tanya,
Kan kujawab, tanpa mereka engkau sudah berketuk indah
8) Lautan Banda
Katong manusia, sama seperti ikan-ikan di laut Banda
Ada yang kacil, besar, berwarna-warni
Torang berenang-renang deng berani
Banya yang satu bangsa, mar tetap saling mangsa
Katong dapa berenang ke berbagai arah
Mencari mangsa di segala arah
Namun, bila katong ni tertangkap jala
Seng ada lai ikan berbeda
Mungkin katong ikan jenis beda
Berenang-renang ke arah yang berbeda
Tapi begitu katong tertangkap jala?
Ado! Katong termakan bersama suda!
9) Kita Pohon Pala
Tumbuh diladang yang sama
Berasal dari tanah yang sama
Bertumbuh seirama
Meski tidak’kan lama
Begitu tunas itu tumbuh
Tumbuh nian keunikan masing-masing
Pantaskah kita mengeluh?
Pada cabang-cabang yang asing?
Kita tumbuh bersama
Melampaui jalan yang berbeda
Saling melengkapi sesama
Meski dengan cara yang berbeda
Sampai pada akhirnya,
Kita menciptakan sebuah buah pala
Berguna bagi sesama dan lainnya
Bersatu padu seperti sedia kala
10) Sio Jujaro deng Mungare
Sio Jujaro,
Sio Mungare
Bertarung seng lai deng parang
Bertahan seng lai deng salawaku
Katong bersatu, satu gandong
Rame-rame badendang deng badansa
Sebab katong su merdeka
________________________________________________
Terinspirasi dari semangat Pattimura tua yang selamanya hidup dalam jiwa Pattimura-Pattimura muda. Didedikasikan untuk mengenang jasa Pattimura-Pattimura tua.
Selamat Hari Pattimura, Basudara samua!
