Konten dari Pengguna

Mutiara Pulau Emas: Biografi Martha Christina Tiahahu

Anabella Sabrina

Anabella Sabrina

Anabella Sabrina, kelahiran Bandung 2009. Siswi kelas 10 dari SMA Trinitas Bandung. Aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik. Bercita-cita untuk turut melestarikan budaya Indonesia Timur. Menulis adalah cara untuk menunjukkan identitas.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anabella Sabrina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anabella Sabrina. Ilustrasi Martha Christina Tiahahu. Dokumentasi pribadi, 2026
zoom-in-whitePerbesar
Anabella Sabrina. Ilustrasi Martha Christina Tiahahu. Dokumentasi pribadi, 2026

Nona manis siapa yang punya?

Nona manis siapa yang punya?

Rasa sayang-sayange~

Nona manis yang satu ini milik Maluku dan selamanya harum namanya. Banyak orang terpaku pada pepatah: "Terkadang kita hanya perlu mengikuti ombak." Namun, berbeda dengan seorang berparas manis satu ini—Nona Martha Christina Tiahahu.

Tubuhnya gelap. Mata hitam jelita memancarkan berbagai perasaan. Giginya putih bak mutiara. Rambut hitamnya terurai di punggung, bagai permadani berharga dari Nusalaut. Di tanah itulah ia lahir sebagai putri seorang pejuang, Paulus Tiahahu, yang kelak menginspirasinya. Sehingga ia rela menerjang arus demi kebenaran, tak sekalipun jiwanya terguncang, meski nyawa menjadi taruhannya.

Sang ibu telah meninggalkan keluarga Tiahahu sejak Martha masih kecil—dari situlah ketangguhan Martha terbangun sejak dini. Sehingga ia tumbuh mendampingi sang ayah dalam perjuangan melawan penjajah.

Dengan semangat yang tak pernah surut, Martha menjadi bagian dari Pattimura tua, dengan jiwa yang selamanya Pattimura muda. Meski raganya telah gugur di usia belia, 17 tahun, cita-citanya selalu hidup dan akan terus bertumbuh.

Tanah kelahirannya, Nusalaut atau Nusahalawano, dijuluki sebagai Pulau Emas. Sebuah pulau kecil yang menjadi tempat di mana cengkeh subur sehingga masyarakat hidup sejahtera dari hasil komoditasnya itu. Akan tetapi, faktor ini pula yang menjadi salah satu penyebab Belanda memonopoli pulau ini.

Paulus Tiahahu diangkat menjadi pemimpin negeri mereka, negeri Booi, sebagai raja (pemimpin) Booi. Sehingga di tangannya, rakyat sangat bergantung. Namun, Paulus tak pernah merasa sendiri dalam memimpin negeri itu. Sebab sang putri selalu setia mendampingi dan mendukung ayahnya. Selama mendampingi sang ayah itu, ia juga menyaksikan betapa keji dan tidak manusiawinya kaum penjajah di negerinya.

Di tengah tekanan dan maraknya penjajahan itu, Martha dan sang ayah tidak mundur; semangat juangnya tak tergoyahkan, setinggi cakrawala. Tanpa seorang pun dapat menyesatkannya. Di bawah kepemimpinan Paulus Tiahahu, masyarakat Nusalaut melawan Belanda dengan berapi-api. Kehadiran Martha Christina Tiahahu di tengah pasukan-pasukan itu pun mempertinggi semangat juang mereka.

Selain dikenal sebagai gadis muda yang ketangguhannya mendampingi sang ayah dalam berperang dan menolong memikul senjata, Martha juga dikenal sebagai pribadi yang gemar menari.

Sering kali ia ikut serta dalam bercakalele bersama masyarakat yang lain, sebuah tarian Maluku yang mencerminkan api keberanian rakyat Maluku dalam perjuangan mereka. Martha adalah seorang penari yang pandai dan mampu mengusir perasaan duka dengan tariannya yang indah.

Bersama sang ayah dan pasukan-pasukan yang lain, mereka menyerang benteng Beverwijk di negeri Sila Leinitu dan berhasil merebutnya. Dalam buku “Sedjarah Perdjuangan Pattimura” yang ditulis oleh M. Sapija, disebutkan bahwa keberanian Martha berhasil mencuri pandang seorang penulis sejarah Belanda. Ia mengakui bahwa Benteng Beverwijk mengingatkan Belanda saat itu akan keberanian, sifat tak takut mati, dan kesetiaan dari seorang gadis pahlawan, yaitu Martha Christina Tiahahu.

Nyatanya, kemenangan itu tidak mengantarkan mereka kepada kemerdekaan yang abadi. Pada bulan November, mereka ikut ditangkap beserta pasukan-pasukan Pattimura lainnya di Saparua. Mereka divonis hukuman berat. Paulus Tiahahu, pria tua yang malang, akan dikirim ke Nusa Laut untuk dieksekusi mati. Sementara, Martha yang usianya saat itu belum mencapai 18 tahun akan diasingkan ke Pulau Jawa.

Di dalam kapal Evertsen yang akan mengantarkan mereka ke Nusa Laut, Martha bersimpuh di hadapan Laksamana Muda Buykers. Dengan bersedu-sedu, ia memohon ampun bagi ayahnya. Sekalipun ia harus bertekuk lutut di hadapan musuh yang amat ia benci. Ia berjuang mati-matian untuk menyelamatkan ayahnya, sekalipun ia harus menggantikan sang ayah menerima hukuman mati itu. Namun, naas, permintaannya ditolak.

Ia sangat mencintai ayahnya dengan sepenuh jiwa, dan tak sedikit opsir Belanda yang menyaksikan kejadian ini ikut terharu. Namun, sia-sia belaka, Martha tidak berhasil menyelamatkan nyawa ayahnya. Ia menolak dipisahkan dari ayah. Ia ingin berada di sisi Paulus Tiahahu yang dirantai pada tiang besi.

Pada tanggal 17 November, Paulus Tiahahu dieksekusi dengan hukuman ditembak massal di depan Benteng Beverwijk. Sang putri menyaksikannya. Namun, dengan langkah tegap, tanpa setetes air mata pun, Martha keluar dari benteng dan ikut mengiringi jenazah ayahnya.

Kematian Paulus Tiahahu tidak menjadi alasan bagi Martha untuk berhenti berjuang. Bahkan saat Belanda memberi dia pengampunan dengan alasan usianya yang masih belia, Martha melanjutkan gerilyanya. Ketika ia diberikan pilihan dan kesempatan untuk berhenti, sebaliknya, ia semakin termotivasi untuk terus maju.

Sampai akhirnya, Martha kembali ditangkap untuk diasingkan ke Pulau Jawa. Di atas kapal Evertsen yang membawanya pergi dari tanah kelahirannya, Martha tidak bertekuk lutut pada Belanda. Bahkan disediakan makanan pun, ia menolak untuk makan hingga akhirnya tubuhnya melemah.

Dua hari sebelum peringatan hari kelahirannya yang ke-18, Martha menghembuskan napasnya di tengah laut antah-berantah. Jasadnya dilarung di Laut Banda.

Raganya diselimuti ombak Laut Banda, namun semangatnya tak pernah karam dalam sanubari Indonesia. Terima kasih atas jasa dan semangatmu, Nona Manise. Kami bangga dapat mengenangmu.