Konten dari Pengguna

Fast Fashion, Media Sosial, dan Netizen: Ketika Tren Menjadi Gaya Hidup

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari anabel miraclelia porayo karundeng tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

 Seorang wanita membawa beberapa tas belanja setelah berbelanja. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Seorang wanita membawa beberapa tas belanja setelah berbelanja. Foto: Pixabay

Perkembangan media sosial dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah cara masyarakat mengenal, memilih, dan membeli pakaian. Melalui TikTok, Instagram, dan berbagai platform digital lainnya, tren fashion dapat menyebar dalam waktu singkat dan menjangkau jutaan pengguna. Kondisi tersebut turut memperkuat perkembangan fast fashion, yaitu pola industri yang mengandalkan produksi dan pergantian tren secara cepat untuk memenuhi permintaan konsumen. Fenomena ini semakin terlihat ketika warganet tidak hanya menjadi penonton tren, tetapi juga ikut menyebarkan, mengikuti, dan menciptakan tren melalui berbagai konten fashion.

Media sosial membuat batas antara inspirasi fashion dan aktivitas belanja menjadi semakin tipis. Sebuah video mengenai pakaian, misalnya, tidak berhenti sebagai konten hiburan. Dalam waktu singkat, pengguna dapat berpindah dari melihat sebuah tren ke halaman penjual dan melakukan pembelian. Proses tersebut membuat perjalanan dari melihat tren hingga memiliki produk menjadi jauh lebih singkat dibandingkan sebelumnya.

Peran pemengaruh juga menjadi bagian penting dalam perubahan tersebut. Rekomendasi pakaian yang disampaikan melalui konten pribadi dapat terasa lebih dekat dengan audiens dibandingkan dengan iklan konvensional. Ketika suatu produk digunakan oleh seseorang yang memiliki banyak pengikut, produk tersebut dapat memperoleh perhatian dan kemudian ditiru oleh pengguna lain.

Kondisi tersebut menciptakan siklus yang terus berulang. Tren muncul di media sosial, pengguna mengikutinya, permintaan meningkat, produk semakin banyak ditawarkan, kemudian muncul tren baru yang menggantikan tren sebelumnya. Pakaian akhirnya tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas dan cara seseorang menunjukkan dirinya di ruang digital.

Persoalannya muncul ketika kecepatan tren tidak diimbangi dengan masa penggunaan pakaian. Pakaian yang masih layak digunakan dapat dengan cepat dianggap tidak relevan karena munculnya model baru. Semakin pendek siklus tersebut, semakin besar pula potensi peningkatan konsumsi dan limbah tekstil.

Tumpukan limbah tekstil di kawasan terbuka menunjukkan persoalan lingkungan yang dapat muncul setelah pakaian tidak lagi digunakan. Foto: Shutterstock

Sektor tekstil dan fashion juga memiliki dampak lingkungan yang besar melalui penggunaan air, energi, bahan baku, dan emisi dalam proses produksinya. Dengan demikian, persoalan fast fashion tidak berhenti pada keputusan seseorang membeli pakaian, tetapi berkaitan dengan sistem produksi dan konsumsi yang lebih luas.

Meski demikian, media sosial tidak selalu menjadi bagian dari masalah. Platform yang sama dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran mengenai fashion berkelanjutan, pakaian bekas, penggunaan kembali, perbaikan pakaian, dan konsumsi yang lebih bertanggung jawab. Artinya, media sosial memiliki dua sisi: dapat mempercepat konsumsi, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk mengubah perilaku konsumsi.

Pada akhirnya, persoalan fast fashion di era digital tidak hanya mengenai seberapa cepat industri menghasilkan pakaian, tetapi juga seberapa cepat masyarakat menginginkan sesuatu yang baru. Ketika tren menjadi bagian dari gaya hidup, keputusan untuk membeli tidak lagi semata-mata berdasarkan kebutuhan. Karena itu, penting bagi warganet untuk mempertanyakan kembali hubungan antara tren, kebutuhan, dan kebiasaan konsumsi sebelum setiap tren baru berakhir di dalam lemari.