Ketika Ayah Tak Hadir: Bagaimana Fatherless Membentuk Perjalanan Anak Perempuan?
Tulisan dari anabel miraclelia porayo karundeng tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada sebuah anggapan bahwa ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Sosok yang menjadi salah satu tempat pertama untuk mengenal rasa aman, perhatian, perlindungan, dan kasih sayang.
Dari seorang ayah, anak perempuan dapat belajar bahwa dirinya berharga. Dari perhatian kecil, percakapan sederhana, hingga dukungan ketika menghadapi kegagalan, seorang ayah dapat menjadi bagian penting dalam proses seorang anak mengenal dirinya dan dunia di sekitarnya.
Namun, bagaimana jika sosok tersebut tidak hadir?
Bagaimana jika seorang anak perempuan tumbuh tanpa kedekatan dengan ayahnya? Atau memiliki ayah yang secara fisik ada, tetapi secara emosional terasa begitu jauh?
Di sinilah fenomena fatherless menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan.
Fatherless tidak selalu berarti seorang anak kehilangan ayah secara fisik. Seorang anak juga dapat merasakan ketidakhadiran ayah ketika sosok tersebut tidak terlibat dalam kehidupan sehari-hari, tidak menjadi tempat bercerita, atau tidak memberikan dukungan emosional yang dibutuhkan.
Karena bagi seorang anak, kehadiran bukan sekadar tentang berada di tempat yang sama. Kehadiran adalah tentang merasa ditemani.
Ketika Sosok yang Seharusnya Menjadi Rumah Terasa Jauh
Masa kanak-kanak merupakan fase ketika seseorang mulai membentuk pemahaman tentang dirinya sendiri.
Bagi anak perempuan, hubungan dengan ayah dapat menjadi salah satu pengalaman yang ikut membentuk cara mereka memahami kasih sayang, kepercayaan, dan hubungan dengan orang lain.
Seorang ayah yang mendengarkan cerita anaknya mungkin sedang mengajarkan bahwa suara anaknya penting.
Seorang ayah yang memberikan dukungan ketika anaknya gagal mungkin sedang mengajarkan bahwa kegagalan tidak membuat seseorang kehilangan nilai dirinya.
Dan seorang ayah yang mengatakan, “Ayah bangga sama kamu,” mungkin sedang memberikan rasa percaya diri yang akan dibawa anak tersebut hingga dewasa.
Namun, ketika pengalaman-pengalaman tersebut tidak hadir, seorang anak mungkin tumbuh dengan ruang kosong yang sulit dijelaskan.
Ada pertanyaan yang mungkin tidak pernah diucapkan:
“Kenapa Ayah tidak pernah ada untukku?”
“Apa aku tidak cukup penting?”
“Apa aku tidak pantas mendapatkan kasih sayang?”
Tidak semua anak perempuan akan merasakan dampak yang sama. Setiap orang memiliki pengalaman dan lingkungan yang berbeda. Namun, ketidakhadiran figur ayah dapat menjadi salah satu pengalaman yang membekas dalam perjalanan seorang anak.
Ketika Perhatian dari Luar Terasa Seperti Cinta
Seorang anak yang tidak mendapatkan kedekatan emosional dari ayahnya tetap memiliki kebutuhan untuk merasa diterima dan dicintai.
Kebutuhan tersebut bisa ditemukan melalui banyak hal.
Pertemanan.
Lingkungan.
Media sosial.
Atau ketika dewasa, melalui hubungan romantis.
Perhatian kecil dari seseorang bisa terasa begitu berarti.
Pesan setiap hari.
Pertanyaan sederhana seperti, “Sudah makan?”
Seseorang yang mau mendengarkan cerita.
Seseorang yang mengatakan bahwa dirinya cantik dan berharga.
Bagi orang lain, mungkin itu hanya perhatian biasa.
Namun, bagi seseorang yang sejak kecil jarang mendapatkan validasi dari figur ayah, perhatian tersebut bisa terasa seperti sesuatu yang selama ini ia cari.
Di sinilah batas antara perhatian dan cinta terkadang menjadi sulit dibedakan.
Seseorang mungkin merasa sangat dicintai hanya karena mendapatkan perhatian yang selama ini tidak pernah ia rasakan.
Padahal, perhatian tidak selalu berarti cinta.
Dan seseorang yang memberikan perhatian belum tentu memberikan hubungan yang sehat.
Ketika Luka Masa Kecil Terbawa ke Hubungan Dewasa
Pengalaman masa kecil tidak selalu berhenti ketika seseorang tumbuh dewasa.
Bagi sebagian perempuan, ketidakhadiran ayah mungkin muncul dalam bentuk rasa takut ditinggalkan, sulit mempercayai pasangan, terlalu membutuhkan kepastian, atau justru memilih menjaga jarak ketika hubungan mulai terasa terlalu dekat.
Ada pula yang terus bertahan dalam hubungan yang tidak sehat karena takut kehilangan satu-satunya orang yang membuatnya merasa dibutuhkan.
Namun, hal tersebut tidak berarti setiap perempuan yang mengalami fatherless pasti memiliki masalah dalam hubungan.
Setiap manusia memiliki cara berbeda dalam menghadapi pengalaman masa kecil.
Ada yang terluka.
Ada yang menjadi sangat mandiri.
Ada yang membutuhkan waktu untuk memahami dirinya sendiri.
Dan ada pula yang mampu tumbuh dengan baik karena mendapatkan dukungan dari orang-orang lain di sekitarnya.
Karena fatherless bukanlah sebuah takdir.
Dunia Luar Ikut Membentuk Cara Anak Memahami Cinta
Ketika seorang anak tumbuh, dunia di luar keluarga mulai memberikan pengaruh yang semakin besar.
Teman dapat membentuk cara seseorang melihat pertemanan.
Media sosial dapat menunjukkan gambaran tentang hubungan yang terlihat sempurna.
Lingkungan dapat memberikan contoh tentang bagaimana seseorang memperlakukan pasangannya.
Ketika seseorang mulai mengenal hubungan romantis, semua pengalaman tersebut dapat ikut membentuk cara ia memahami cinta.
Masalahnya, tidak semua hal yang terlihat seperti cinta adalah cinta yang sehat.
Rasa cemburu dapat dianggap sebagai bukti cinta.
Kontrol dapat dianggap sebagai bentuk perhatian.
Ketergantungan dapat dianggap sebagai tanda bahwa seseorang benar-benar membutuhkan kita.
Bagi seseorang yang sejak kecil memiliki kebutuhan besar untuk merasa dicintai dan dipilih, membedakan antara kasih sayang dan hubungan yang tidak sehat mungkin menjadi lebih sulit.
Karena itu, lingkungan memiliki peran besar dalam perjalanan seorang anak.
Ayah Tidak Harus Sempurna
Membicarakan fatherless bukan berarti mengatakan bahwa seorang ayah harus selalu sempurna.
Tidak ada orang tua yang sempurna.
Ayah juga manusia yang memiliki tekanan, masalah, pekerjaan, dan kehidupannya sendiri.
Namun, anak tetap membutuhkan kehadiran.
Tidak harus selalu berupa sesuatu yang besar.
Mungkin hanya duduk bersama.
Mendengarkan cerita tentang sekolah.
Menanyakan bagaimana harinya.
Menghadiri momen penting dalam hidupnya.
Atau sekadar memberikan pelukan ketika anak sedang merasa gagal.
Bagi orang dewasa, hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana.
Tetapi bagi seorang anak, perhatian kecil dapat menjadi kenangan yang bertahan sangat lama.
Karena Setiap Anak Ingin Merasa Dicintai
Pada akhirnya, pembahasan mengenai fatherless bukan hanya tentang seorang ayah yang tidak hadir.
Ini tentang seorang anak yang sedang tumbuh dan berusaha memahami satu pertanyaan sederhana:
“Apakah aku layak dicintai?”
Ketika seorang anak perempuan tidak mendapatkan jawaban dari sosok ayahnya, bukan berarti ia akan berhenti mencari jawaban tersebut.
Ia mungkin mencarinya dari teman.
Dari lingkungan.
Dari media sosial.
Dari pasangan.
Bahkan dari seseorang yang sebenarnya tidak mampu memberikan cinta yang ia butuhkan.
Karena itu, kehadiran seorang ayah memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar berada di rumah.
Ayah bisa menjadi salah satu tempat pertama seorang anak perempuan belajar tentang rasa aman, penghargaan, kepercayaan, dan bagaimana seharusnya seseorang diperlakukan ketika ia mencintai dan dicintai.
Jika ayah sering disebut sebagai cinta pertama seorang anak perempuan, maka mungkin hal yang paling menyakitkan bukan ketika cinta pertama itu pergi.
Melainkan ketika seorang anak perempuan tumbuh tanpa pernah benar-benar merasakan bahwa cinta pertama itu hadir.
Dan mungkin, di balik perempuan yang terlihat kuat hari ini, masih ada seorang anak kecil yang hanya ingin mendengar satu kalimat sederhana:
“Ayah ada di sini.”

