Tantangan Bahasa Indonesia di Era 'Anak Jaksel', Masihkah Kita Bangga?

Mahasiswa Sistem Informasi fakultas ilmu komputer di Universtas Pamulang, aktif bekerja sebagai freelance data entry dan admin.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Juliana Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah kamu menghitung berapa kali kata healing, literally, atau burnout keluar dari mulutmu dalam sehari? Di era media sosial saat ini, fenomena pencampuran bahasa atau yang sering disebut "bahasa anak Jaksel" sudah menjadi konsumsi sehari-hari.
Arus globalisasi dan digitalisasi yang begitu masif perlahan mengubah cara kita berkomunikasi. Pertanyaannya, di tengah gempuran istilah asing dan bahasa gaul internet, bagaimana nasib Bahasa Indonesia saat ini? Apakah ia mulai terpinggirkan, atau justru sedang berevolusi?
Menghubungkan Sekat di Balik Layar Gawai
Bagi bangsa yang memiliki lebih dari 700 bahasa daerah, Bahasa Indonesia adalah sebuah keajaiban. Ia bukan sekadar deretan kata di dalam kamus, melainkan perekat yang menyatukan kita dari Sabang sampai Merauke.
Di ruang virtual, fungsi ini meluas. Bahasa Indonesia menjadi bahasa pemersatu jutaan netizen dengan latar belakang yang berbeda-beda. Saat kamu menulis komentar di TikTok, mengulas produk di e-commerce, atau berdiskusi di X (Twitter), bahasa inilah yang membuat kita saling memahami tanpa sekat geografis.
Menjaga Kaidah di Tengah Arus Komunikasi Instan
Internet menuntut komunikasi yang serbacepat dan praktis. Akibatnya, penulisan yang baku sering kali dikorbankan demi efisiensi. Singkatan-singkatan baru terus bermunculan, dan serapan bahasa Inggris kerap dianggap lebih "keren" atau presisi untuk menggambarkan situasi tertentu.
Namun, fenomena ini tidak melulu negatif. Bahasa adalah organisme yang hidup; ia dinamis dan terus beradaptasi.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sendiri sebenarnya sangat aktif menyerap istilah teknologi agar terasa akrab di telinga kita. Kini, kita sudah memiliki padanan kata yang apik:
Download berubah menjadi Unduh
Upload berubah menjadi Unggah
Gadget berubah menjadi Gawai
Link berubah menjadi Tautan
Tantangan terbesarnya bukan pada ketersediaan kata, melainkan pada kemauan kita untuk mulai membiasakannya dalam percakapan digital sehari-hari.
Menembus Batas Negara Lewat Jalur Virtual
Menariknya, di saat kita terkadang ragu dengan bahasa sendiri, dunia luar justru memberikan apresiasi tinggi. Sejak akhir 2023, Bahasa Indonesia telah resmi ditetapkan sebagai salah satu bahasa sidang umum UNESCO.
Besarnya populasi netizen Indonesia juga membuat banyak konten kreator asing berlomba-lomba mempelajari bahasa kita demi menggaet audiens. Ini adalah peluang emas. Digitalisasi sebenarnya membuka jalan bagi Bahasa Indonesia untuk melakukan "invasi budaya" secara positif ke panggung global.
Langkah Kecil Melalui Ketukan Jari
Merawat eksistensi Bahasa Indonesia di era modern bukan berarti kita harus selalu berbicara sekaku teks proklamasi. Menguasai bahasa asing atau memahami bahasa gaul adalah hal yang baik untuk memperluas wawasan.
Kuncinya ada pada tahu tempat dan tahu situasi. Kita harus tahu kapan harus menggunakan ragam bahasa baku, seperti saat menulis email kerja, artikel ilmiah, atau presentasi dan kapan bisa berbahasa santai.
Menjaga martabat bangsa di era digital bisa dimulai dari hal kecil: bijak dan bangga berbahasa Indonesia lewat jempol kita di media sosial. Yuk, jadikan bahasa nasional kita tuan rumah di negeri sendiri!
Baca Juga:
Bukan Cuma Bahasa, Ini Rahasia Budaya Lokal Indonesia Bisa Menembus Panggung Dunia
Sering Dianggap Remeh, Cara Generasi Muda Menjaga Identitas Bangsa Ini Bikin Kagum
